بسم الله الرحمن الرحيم
كيف يشرق القلب صور الاكوان منطبعة في مرأته ام كيف يرحل الى الله وهو مكبل بشهواته ام كيف يطمع ان يدخل حضرة الله وهو لم يطهر من جنابة غفلاته ام كيف يرجو ان يفهم دقا ئق الاسرار وهو لم يتب من هفواته
BAGAIMAAN HATI DAPAT BERSINAR SEDANGKAN GAMBAR RUPA-RUPA ALAM TERPAHAT DI DALAM CERMINNYA. ATAU BAGAIMANA HATI DAPAT SEGERA BERANGKAT KEPADA ALLAH SWT PADAHAL IA TERBELENGGU DENGAN SYAHWAT-SYAHWATNYA. BAGAIMANA KITA SANGAT MENGINGINKAN DAPAT MASUK KE HADIRAT ALLAH SWT SEDANGKAN HATI BELUM SUCI DARI KOTORNYA KELALAIAN. BAGAIMANA KITA MENGHARAPKAN DAPAT MEMAHAMI HALUSNYA RAHASIA-RAHASIA SESUATU PERKARA SEDANGKAN HATI BELUM BERTAUBAT DARI KESALAHAN-KESALAHANNYA.
Bersatunya dua perkara yang berlawanan adalah mustahil (sesuatu yang tidak mungkin terjadi) seperti bersatunya gerak dan diam, bersatunya cahaya dan kegelapan. Dan beberapa permasalahan yang disampaikan di atas adalah sesuatu yang berlawanan yang tidak akan mungkin dapat bertemu.
Sesungguhnya bersinarnya hati itu disebabkan oleh cahaya iman dan yakin berlawanan dengan الظلمة (kegelapan) yang menguasainya sehingga menyebabkan berdamainya dia dengan الاغيار (Segala sesuatu selain Allah SWT) dan berdamainya pula ia dengan hal duniawi serta berpegangan erat ia dengannya.
Adapun berangkat menuju pendekatan diri kepada Allah SWT adalah dengan memotong jeratan hawa nafsu dan pengekangan syahwat, tidak dengan pelepasannya yang mengakibatkan diri menjadi terbelenggu tak berdaya untuk bergerak berangkat menuju Allah SWT.
Adapun mesuk ke hadirat Allah SWT mewajibkan kesucian dari orang yang memasukinya serta kelurusan hati. Tidak dengan kekeruhan hati dan kelalaiannya yang akan menyebabkan kejauhan hati dari Allah SWT.
Untuk dapat memahami rahasia perkara yang halus dapat diperoleh dengan taqwa tidak dengan berlarut-larutnya berbuat maksiyat. Yang demikian ini telah diisyaratkan oleh firman Allah SWT
واتقو الله ويعلمكم الله
Dan takutlah kamu kepada Allah maka Allah akan memberikan kepadamu ilmu pengetahuan.
Dan sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadits
من عمل بما يعلم ورثه الله العلم ما لم يعلم
Barang siapa yang mengamalkan ilmu yang ia ketahui maka Allah SWT akan memberikan ilmu (baru) yang belum ia ketahu.
Imam Ahmad bin Hambal berkata kepada Ahmad Ibn Aby al-Hawary RA, “Wahai Ahmad ceritakan kepadaku sebuah kisah yang pernah engkau dengar dari ustadz engkau Abu Sulaiman”. Kemudian Abi Al Hawary menjawab, “Aku pernah mendengar Abu Sulaiman berkata,’Apa bila hawa nafsu dibelenggu dengan meninggalkan perbuatan dosa maka hati akan dapat menjelajah alam malakut dan hati akan menjadi tempat datangnya hikmah walaupun ia tidak di bimbing oleh orang yang yang alim’”.
Mendengar itu maka Ahmad bin Hambal berdiri dari tempat duduknya tiga kali dan duduk kembali tida kali sambil berkata, “Belum pernah aku mendengar di dalam hikayat islam sesuatu yang lebih mentakjubkan daripada ini”. Kemudian Ibnu Hambal membacakan hadits di atas dan berkata kepada Ahmad Abi al-Hawary, “Engkau benar wahai Ahmad, dan benar pula ustadz engkau, “. Dan karena inilah Al-Muallif merasa heran terhadap orang yang beri’tiqad adanya persekutuan dari dua hal yang berlawanan tadi dan itu adalah sesuatu yang mustahil. Demikian pula mengherankan bagi orang yang menginginkan derajat Rijal sedang diri masih memiliki karakter yang tidak baik........dinukil dari syarah al-Hikam ابن عطاء الله
Monday, October 18, 2010
كل شيء هالك الا وجه
Segala sesuatu akan binasa kecuali Allah
Telah sepakat pendapat para ‘arifiin dan ahli hakikat demikian pula isyarah mereka atas apa yang tersebut di atas bahwa segala sesuatu selain الله pada hakikatnya adalah عدم (tidak ada) jika disandingkan dan disifatkan dengan wujud الله SubhanaHu wa Ta’ala, Karena apabila disifatkan sama dengan sifat-Nya maka sama saja sebagai penyekutuan ( الشرك ). Dan yang demikian ini berlawanan dengan kemurnian tauhid. الله SWT telah berfirman :
كل شيء هالك الا وجهه
Segala sesuatu akan binasa kecuali الله.
Dan telah bersabda رسول الله SAW, “Sebenar-benar kalimat yang diucapkan di dalam sya’ir adalah, “
ألا كل شيء ما خلا الله باطل : وكل نعيم لامحالة زائل
Ingatlah bahwa segala sesuatu selain الله adalah bathil
Dan segala kenikmatan sudah pasti akan sirna
الكون كله ظلمة وانما اناره ظهور الحق فيه.. فمن رأى الكون ولم يشهده فيه او عنده او قبله او بعده فقد اعوزه وجود الاانواروحجبت عنه شموس المعارف بسحب الاثار
Mohon dibaca pelan-pelan jangan tergesa-gesa dengan harapan dapat memahami isinya.
Alam secara keseluruhan adalah gelap, adapun yang menyinari (membuat tampak / wujud) adalah adanya penampakan الله SWT di dalamnya. Oleh karena itu barang siapa yang melihat alam semesta akan tetapi tidak melihat الله padanya, atau di dalamnya, atau sebelumnya, atau sesudahnya, maka sesungguhnya ia kekurangan sinar Ilahi dan terhalang dari matahari ma’rifat oleh tebalnya awan semesta alam.
العد م (sesuatu yang tidak ada) adalah gelap, kosong atau nihil. الوجود (sesuatu yang wujud) adalah terang, nyata, ada. Alam semesta apabila disandingkan dengan Dzat-Nnya adalah gelap/kosong/عد م
Kemudia keadaan manusia bermacam-macam. Sebagian diantara mereka tidak melihat sesuatupun kecuali hanya alam semesta yang tampak di depan mata dan terhalang untuk dapat melihat Dzat Yang Menciptakan Alam. Maka yang demikian ini sesungguhnya mereka terhalangi oleh tebalnya awan (alam semesta) sehingga ia tidak dapat melihat Cahaya Yang Menampakkan alam.
Dan diantara mereka ada yang tidak terhalang dari Yang Menampakkan alam. Kemudian orang yang tidak terhalang dari melihat melihat Yang Menampakkan alam semesta itu bermacam-macam. Diantara mereka ada yang melihat Yang Menampakkan alam sebelum melihat alam. Golongan ini adalah mereka yang mendapatkan dallil penjelasan terhadap hakikat alam dari melihat adanya Dzat Yang Menampakkan alam terlebih dahulu kemudian menjadikan dalil bahwa alam itu ada yang mewujudkan yaitu الله SWT. Dan diantara mereka ada yang melihat Dzat Yang Menampakkan alam setelah melihat alam. Dan golongan inilah yang menjadikan alam sebagai dalil adanya Dzat Yang Menampakkan alam yaitu الله SWT.
مما يدلك على وجود قهره سبحانه أن حجبك عنه بما ليس بموجود معه
Salah satu hal yang menunjukkan sifat Maha Kuasa الله adalah dengan menghalangi engkau untuk dapat melihat-Nya dengan sesuatu yang sebenarnya tidak wujud / عدم(tidak ada).
Telah sepakat pendapat para ‘arifiin dan ahli hakikat demikian pula isyarah mereka atas apa yang tersebut di atas bahwa segala sesuatu selain الله pada hakikatnya adalah عدم (tidak ada) jika disandingkan dan disifatkan dengan wujud الله SubhanaHu wa Ta’ala, Karena apabila disifatkan sama dengan sifat-Nya maka sama saja sebagai penyekutuan ( الشرك ). Dan yang demikian ini berlawanan dengan kemurnian tauhid. الله SWT telah berfirman :
كل شيء هالك الا وجهه
Segala sesuatu akan binasa kecuali الله.
Dan telah bersabda رسول الله SAW, “Sebenar-benar kalimat yang diucapkan di dalam sya’ir adalah, "
ألا كل شيء ما خلا الله باطل : وكل نعيم لامحالة زائل
Ingatlah bahwa segala sesuatu selain الله adalah bathil
Dan segala kenikmatan sudah pasti akan sirna
Sayyid Abu al-Hasan Asy-Syadzili berkata, “sesungguhnya kami melihat kepada الله dengan pandangan iman dan yakin sehingga kami tidak memerlukan lagi dalil dan penjelasan. Dan dengan itu kami mendapat dalil tentang makhluk, yaitu adakah sesuatu yang wujud selain الله Yang Maha Esa dan Maha Kuasa ?, maka kami tidak mendapatinya. Jika ada tidaklah lebih mereka itu daripada seperti partikel debu di udara, jika diteliti sebenarnya mereka tidak pula berwujud sesuatupun”. Ibnu ‘Atha di dalam kitab At-Tanwir berkata, “Sesungguhnya segala sesuatu selain الله bagi para ahli ma’rifat tidak disifati sebagai sesuatu yang wujud / ada, karena tidak ditemukan sesuatu bersama-Nya disebabkan ketetapan sifat Ke-Maha Esaan-Nya.
Sebagian dari mereka berkata, “Jika aku diperintah untuk melihat selain-Nya niscaya aku tidak mampu karena sesungguhnya tidak ada sesuatu yang lain bersama-Nya”.
Dikatakan dalam sebuah sya’ir :
- Ketika aku tahu Dzat Yang Disembah, aku tidak melihat yang lain ><>
- Ketika berkumpul, aku tidak takut menjadi lemah ><>
- Katakan, dan abaikanlah yang wujud dan seisinya, Jika tidak maka akan tergolong yang ingkar secara sempurna.
- Karena sesungguhnya selain الله pada hakikatnya tidak ada baik secara terperinci maupun global.
- Adapun orang ‘Aarif, mereka lebur/luruh (fana) dengan tiada melihat sesuatu apanun selain المتكبر المتعالى Dzat Yang Maha Besar dab Maha Tinggi.
- Dan melihat yang lain secara hakikat adalah binasa pada masa seketika, atau masa lampau atau masa yang akan datang.
Dan telah banyak gubahan yang menerangkan hal tersebut di atas, dan apa yang disampaikan menurut kadar pencerapan mereka dan dzauq (rasa) mereka. Semoga الله melimpahkan rahmat-Nya kepada mereka
Dan sesungguhnya didapati kebanyakan manusia terhijab (terhalang) dari الله SWT oleh sebab nafsu syahwat dinuawiyah mereka. Demikian pula derajat di akhirat dan kedudukan yang tinggi di sana, semua itu termasuk (الاغيار) / sesuatu selain الله. Dan telah pula dikemukakan di atas suatu pernyataan وجود قهره karena salah satu asma الله SWT adalah القهار . Dan apabila disingkapkan tabir dari mereka niscaya mereka lebur / luruh / fana dari diri mereka sendiri dan dari iradahnya, dan baqa (abadi) bersama Tuhannya, dan jadilah ia sebenar-benar hamba.
Sesungguhnya Abu Sa’id Ibnu Arabi telah ditanya tentang fana, maka ia menjawab,”Fana adalah jika tampak keagungan dan kebesaran الله kepada seorang hamba, sehingga yang demikian itu membuat mereka lupa terhadap dunia dan terhadap akhirat dan terhadap ahwal (beberapa keadaan), dan derajat, dan maqamaat, dan adzkaar (dzikir), meluruhkan dirinya dari segala sesuatu dan dari akalnya dan dirinya, dan luruhnya ia dari segala sesuatu dan luruhnya ia pula dari keluruhan ( وعن فنائه عن الفناء ) karena ia tenggelam dalam keta’dziman akalnya.
Mereka berkata, sesungguhnya فناء (luruh) itu ada tiga macam, pertama فناء (luruh) di dalam af’al (perbuatan), dan ini sesuai apa yang mereka katakan لافاعل الاالله (tidak ada yang berbuat kecuali الله. Kedua فناء (luruh) di dalam sifat, artinya
لاحي, ولاعالم, ولاقادر, ولامريد, ولاسميع, ولابصير, ولامتكلم في الحقيقة الاالله
Tidak ada Yang Hidup, dan Mengetahui, dan Kuasa, dan Berkehendak, dan Mendengar, dan Melihat, dan Berbicara kecuali الله.
Ketiga فناء (luruh) في الذات artinya tidak ada yang wujud secara mutlak kecuali الله.
Syair : Maka terjadilah fana, kemudian fana, kemudian fana. Maka kefanaannya itu menjadikannya baqa’ abadi.
Telah berkata Sayyidy Muhyidin, “barang siapa yang melihat kalau makhluk itu tidak dapat berbuat apa-apa (kecuali الله yang menggerakkan), maka ia selamat. Barang siapa melihat makhluk bahwa tidaklah ada kehidupan atas mereka (karena Yang Maha Menghidupkan adalah الله maka dia telah mendapatkan hakikat. Dan barang siapa yang melihat makhluk sesungguhnya mereka itu bersifat ‘adam (tidak ada, karena Yang ada hanyalah الله) maka ia telah wushul / sampai
Telah sepakat pendapat para ‘arifiin dan ahli hakikat demikian pula isyarah mereka atas apa yang tersebut di atas bahwa segala sesuatu selain الله pada hakikatnya adalah عدم (tidak ada) jika disandingkan dan disifatkan dengan wujud الله SubhanaHu wa Ta’ala, Karena apabila disifatkan sama dengan sifat-Nya maka sama saja sebagai penyekutuan ( الشرك ). Dan yang demikian ini berlawanan dengan kemurnian tauhid. الله SWT telah berfirman :
كل شيء هالك الا وجهه
Segala sesuatu akan binasa kecuali الله.
Dan telah bersabda رسول الله SAW, “Sebenar-benar kalimat yang diucapkan di dalam sya’ir adalah, “
ألا كل شيء ما خلا الله باطل : وكل نعيم لامحالة زائل
Ingatlah bahwa segala sesuatu selain الله adalah bathil
Dan segala kenikmatan sudah pasti akan sirna
الكون كله ظلمة وانما اناره ظهور الحق فيه.. فمن رأى الكون ولم يشهده فيه او عنده او قبله او بعده فقد اعوزه وجود الاانواروحجبت عنه شموس المعارف بسحب الاثار
Mohon dibaca pelan-pelan jangan tergesa-gesa dengan harapan dapat memahami isinya.
Alam secara keseluruhan adalah gelap, adapun yang menyinari (membuat tampak / wujud) adalah adanya penampakan الله SWT di dalamnya. Oleh karena itu barang siapa yang melihat alam semesta akan tetapi tidak melihat الله padanya, atau di dalamnya, atau sebelumnya, atau sesudahnya, maka sesungguhnya ia kekurangan sinar Ilahi dan terhalang dari matahari ma’rifat oleh tebalnya awan semesta alam.
العد م (sesuatu yang tidak ada) adalah gelap, kosong atau nihil. الوجود (sesuatu yang wujud) adalah terang, nyata, ada. Alam semesta apabila disandingkan dengan Dzat-Nnya adalah gelap/kosong/عد م
Kemudia keadaan manusia bermacam-macam. Sebagian diantara mereka tidak melihat sesuatupun kecuali hanya alam semesta yang tampak di depan mata dan terhalang untuk dapat melihat Dzat Yang Menciptakan Alam. Maka yang demikian ini sesungguhnya mereka terhalangi oleh tebalnya awan (alam semesta) sehingga ia tidak dapat melihat Cahaya Yang Menampakkan alam.
Dan diantara mereka ada yang tidak terhalang dari Yang Menampakkan alam. Kemudian orang yang tidak terhalang dari melihat melihat Yang Menampakkan alam semesta itu bermacam-macam. Diantara mereka ada yang melihat Yang Menampakkan alam sebelum melihat alam. Golongan ini adalah mereka yang mendapatkan dallil penjelasan terhadap hakikat alam dari melihat adanya Dzat Yang Menampakkan alam terlebih dahulu kemudian menjadikan dalil bahwa alam itu ada yang mewujudkan yaitu الله SWT. Dan diantara mereka ada yang melihat Dzat Yang Menampakkan alam setelah melihat alam. Dan golongan inilah yang menjadikan alam sebagai dalil adanya Dzat Yang Menampakkan alam yaitu الله SWT.
مما يدلك على وجود قهره سبحانه أن حجبك عنه بما ليس بموجود معه
Salah satu hal yang menunjukkan sifat Maha Kuasa الله adalah dengan menghalangi engkau untuk dapat melihat-Nya dengan sesuatu yang sebenarnya tidak wujud / عدم(tidak ada).
Telah sepakat pendapat para ‘arifiin dan ahli hakikat demikian pula isyarah mereka atas apa yang tersebut di atas bahwa segala sesuatu selain الله pada hakikatnya adalah عدم (tidak ada) jika disandingkan dan disifatkan dengan wujud الله SubhanaHu wa Ta’ala, Karena apabila disifatkan sama dengan sifat-Nya maka sama saja sebagai penyekutuan ( الشرك ). Dan yang demikian ini berlawanan dengan kemurnian tauhid. الله SWT telah berfirman :
كل شيء هالك الا وجهه
Segala sesuatu akan binasa kecuali الله.
Dan telah bersabda رسول الله SAW, “Sebenar-benar kalimat yang diucapkan di dalam sya’ir adalah, "
ألا كل شيء ما خلا الله باطل : وكل نعيم لامحالة زائل
Ingatlah bahwa segala sesuatu selain الله adalah bathil
Dan segala kenikmatan sudah pasti akan sirna
Sayyid Abu al-Hasan Asy-Syadzili berkata, “sesungguhnya kami melihat kepada الله dengan pandangan iman dan yakin sehingga kami tidak memerlukan lagi dalil dan penjelasan. Dan dengan itu kami mendapat dalil tentang makhluk, yaitu adakah sesuatu yang wujud selain الله Yang Maha Esa dan Maha Kuasa ?, maka kami tidak mendapatinya. Jika ada tidaklah lebih mereka itu daripada seperti partikel debu di udara, jika diteliti sebenarnya mereka tidak pula berwujud sesuatupun”. Ibnu ‘Atha di dalam kitab At-Tanwir berkata, “Sesungguhnya segala sesuatu selain الله bagi para ahli ma’rifat tidak disifati sebagai sesuatu yang wujud / ada, karena tidak ditemukan sesuatu bersama-Nya disebabkan ketetapan sifat Ke-Maha Esaan-Nya.
Sebagian dari mereka berkata, “Jika aku diperintah untuk melihat selain-Nya niscaya aku tidak mampu karena sesungguhnya tidak ada sesuatu yang lain bersama-Nya”.
Dikatakan dalam sebuah sya’ir :
- Ketika aku tahu Dzat Yang Disembah, aku tidak melihat yang lain ><>
- Ketika berkumpul, aku tidak takut menjadi lemah ><>
- Katakan, dan abaikanlah yang wujud dan seisinya, Jika tidak maka akan tergolong yang ingkar secara sempurna.
- Karena sesungguhnya selain الله pada hakikatnya tidak ada baik secara terperinci maupun global.
- Adapun orang ‘Aarif, mereka lebur/luruh (fana) dengan tiada melihat sesuatu apanun selain المتكبر المتعالى Dzat Yang Maha Besar dab Maha Tinggi.
- Dan melihat yang lain secara hakikat adalah binasa pada masa seketika, atau masa lampau atau masa yang akan datang.
Dan telah banyak gubahan yang menerangkan hal tersebut di atas, dan apa yang disampaikan menurut kadar pencerapan mereka dan dzauq (rasa) mereka. Semoga الله melimpahkan rahmat-Nya kepada mereka
Dan sesungguhnya didapati kebanyakan manusia terhijab (terhalang) dari الله SWT oleh sebab nafsu syahwat dinuawiyah mereka. Demikian pula derajat di akhirat dan kedudukan yang tinggi di sana, semua itu termasuk (الاغيار) / sesuatu selain الله. Dan telah pula dikemukakan di atas suatu pernyataan وجود قهره karena salah satu asma الله SWT adalah القهار . Dan apabila disingkapkan tabir dari mereka niscaya mereka lebur / luruh / fana dari diri mereka sendiri dan dari iradahnya, dan baqa (abadi) bersama Tuhannya, dan jadilah ia sebenar-benar hamba.
Sesungguhnya Abu Sa’id Ibnu Arabi telah ditanya tentang fana, maka ia menjawab,”Fana adalah jika tampak keagungan dan kebesaran الله kepada seorang hamba, sehingga yang demikian itu membuat mereka lupa terhadap dunia dan terhadap akhirat dan terhadap ahwal (beberapa keadaan), dan derajat, dan maqamaat, dan adzkaar (dzikir), meluruhkan dirinya dari segala sesuatu dan dari akalnya dan dirinya, dan luruhnya ia dari segala sesuatu dan luruhnya ia pula dari keluruhan ( وعن فنائه عن الفناء ) karena ia tenggelam dalam keta’dziman akalnya.
Mereka berkata, sesungguhnya فناء (luruh) itu ada tiga macam, pertama فناء (luruh) di dalam af’al (perbuatan), dan ini sesuai apa yang mereka katakan لافاعل الاالله (tidak ada yang berbuat kecuali الله. Kedua فناء (luruh) di dalam sifat, artinya
لاحي, ولاعالم, ولاقادر, ولامريد, ولاسميع, ولابصير, ولامتكلم في الحقيقة الاالله
Tidak ada Yang Hidup, dan Mengetahui, dan Kuasa, dan Berkehendak, dan Mendengar, dan Melihat, dan Berbicara kecuali الله.
Ketiga فناء (luruh) في الذات artinya tidak ada yang wujud secara mutlak kecuali الله.
Syair : Maka terjadilah fana, kemudian fana, kemudian fana. Maka kefanaannya itu menjadikannya baqa’ abadi.
Telah berkata Sayyidy Muhyidin, “barang siapa yang melihat kalau makhluk itu tidak dapat berbuat apa-apa (kecuali الله yang menggerakkan), maka ia selamat. Barang siapa melihat makhluk bahwa tidaklah ada kehidupan atas mereka (karena Yang Maha Menghidupkan adalah الله maka dia telah mendapatkan hakikat. Dan barang siapa yang melihat makhluk sesungguhnya mereka itu bersifat ‘adam (tidak ada, karena Yang ada hanyalah الله) maka ia telah wushul / sampai
استسلام
ما ترك من الجهل شيئا من اراد ان يحدث في الوقت غير ما اظهره الله فيه
Tidak terlepas dari sifat kebodohan, orang yang hendak mengadakan sesuatu pada waktu yang الله tidak mengadakannya pada saat itu.
Apaila الله تعالى menempatkan seorang hamba pada suatu haal (keadaan) dari beberapa keadaan yang menghendaki ia harus konsisten pada keadaan tersebut, maka hendaknya ia senantiasa bersikap dengan adab yang baik agar ia tetap berada di dalam ahwal yang diberikan الله kepadanya, dan hendaknya ia ridha dengan haal (keadaan) tersebut, dan hendaklah ia ber-muraqabah kepada الله تعالى dengan sangat memperhatikan adab kepada-Nya, dan di dalam keadaan yang demikian senantiasa ia menyesuaikan diri dengan kehendak الله تعالى sampai الله memindahkannya dari satu hal kepada hal yang lain.
Abu Utsman RA berkata, “Aku Selama 40 tahun, tiada sekali-kali الله تعالى menempatkan aku dalam suatu keadaan (hal) kemudian aku membenci keaadan itu. Dan tidak pula Ia memindahkan aku ke keadaan (hal) lain kemudian aku membencinya”.
Dan sesungguhnya membenci suatu (hal) / keadaan ruhani pemberian الله, disertai keinginan dirinya untuk berpindah kepada hal yang lain, maka yang demikian ini sama saja ia ingin mengadakan sesuatu yang tidak diadakan oleh الله. Dan yang demikian ini adalah kebodohan yang nyata dari hamba kepada Tuhannya, dan merupakan Suu-ul adab / akhlak yang tidak baik dari seorang hamba kepada Tuannya عز وجل. Dan yang demikian ini termasuk penentangan terhadap hukum waktu menurut pendapat para sufi, Yang bagi mereka perkara ini termasuk dosa yang cukup besar.
Maka wajib bagi seorang hamba untuk ber استسلام, tunduk dan ta’at terhadap hukum Tuhannya Setiap saat. Itulah etika ubudiyah dan keharusan bagi العلم باالله, dan inilah salah satu makna الوقت pada istilah mereka (ahli tasawuf). Dan sebagian perkataan mereka adalah : الوقت سيف ‘Waktu adalah pedang’. Maksudnya adalah seperti pedang yang memiliki sifat memotong. Oleh karena itu barang siapa yang tidak dapat memperlakukan waktu dengan bijak maka sang waktu akan memotongnya dari jalan الله. Dan sesungguhnya hakikat waktu adalah apa yang wajib disikapi oleh seorang hamba pada memenuhi kehendak الحق. Barang siapa yang ditolong oleh waktu maka waktu baginya adalah keberuntungan. Dan barang siapa yang dikesalkan oleh waktu, maka waktu baginya adalah kesialan.
احالتك الاعمال على وجود الفراغ من رعونات النفس
Keinginanmu menunda amal, hingga nanti jika ada waktu luang, yang demikian itu termasuk memperturutkan nafsu
Apabila seorang hamba bercampuran dengan aktifitas duniawi seperti perniagaan, kerja mencari penghidupan dan lain sebagainya, sudah pasti semua itu membuat dirinya sibuk, yang dapat menghalanginya dari melakukan amal kebajikan. Dan keinginan untuk menunda amal sampai mendapatkan waktu luang sehingga ia berkata, “Nanti jika ada waktu luang maka aku akan beramal”, maka yang demikian ini termasuk memperturutkan hawa nafsu. Menuruti hawa nafsu adalah termasuk kebodohan, sedang kebodohan itu disebabkan oleh beberapa segi, yang pertama adalah ketetapan hati untuk memilih dunia daripada akhirat. Dan yang demikian ini bukanlah sifat orang berakal dan orang-orang beriman. الله تعالى berfirman :
بل تؤثرون الحياةالدني والأخرة خيروأبقى
Bahkan mereka lebih memilih kenikmatan dunia, Dan adalah akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.
Kedua, adalah penundaan terhadap amal salih dan menunggu sampai mendapatkan waktu lapang. Dan terkadang ia tidak pernah mendapatkan sama sekali, malahan ia disambar oleh maut terlebih dahulu. Atau akan bertambah kesibukannya karena sesungguhnya اشغال الدنى (kesibukan dunia) akan saling mengajak yang satu kepada yang lain.
Ketiga, barangkali ia sempat mendapatkan waktu yang lapang. Akan tetapi karena berjalannya waktu maka azam-nya sudah berganti, dan niyatnya sudah menjadi lemah. Dan pada yang demikian ini akan mengajak pada menyedikitkan amal dan penolehan kepada kemampuan dan kekuatan dirinya di dalam mengerjakan amal tersebut, bukan karena pertolongan الله.
Oleh karena itu yang paling baik adalah bersegera mengerjakan amal pada seketika dan pada kondisi apa saja, dan segera bangkit ketika mendapat kesempatan sebelum datangnya maut dan hilangnya kesempatan. Dan hendaklah bertawakal kepada الله SWT agar dimudahkan dalam beramal salih.
Tidak terlepas dari sifat kebodohan, orang yang hendak mengadakan sesuatu pada waktu yang الله tidak mengadakannya pada saat itu.
Apaila الله تعالى menempatkan seorang hamba pada suatu haal (keadaan) dari beberapa keadaan yang menghendaki ia harus konsisten pada keadaan tersebut, maka hendaknya ia senantiasa bersikap dengan adab yang baik agar ia tetap berada di dalam ahwal yang diberikan الله kepadanya, dan hendaknya ia ridha dengan haal (keadaan) tersebut, dan hendaklah ia ber-muraqabah kepada الله تعالى dengan sangat memperhatikan adab kepada-Nya, dan di dalam keadaan yang demikian senantiasa ia menyesuaikan diri dengan kehendak الله تعالى sampai الله memindahkannya dari satu hal kepada hal yang lain.
Abu Utsman RA berkata, “Aku Selama 40 tahun, tiada sekali-kali الله تعالى menempatkan aku dalam suatu keadaan (hal) kemudian aku membenci keaadan itu. Dan tidak pula Ia memindahkan aku ke keadaan (hal) lain kemudian aku membencinya”.
Dan sesungguhnya membenci suatu (hal) / keadaan ruhani pemberian الله, disertai keinginan dirinya untuk berpindah kepada hal yang lain, maka yang demikian ini sama saja ia ingin mengadakan sesuatu yang tidak diadakan oleh الله. Dan yang demikian ini adalah kebodohan yang nyata dari hamba kepada Tuhannya, dan merupakan Suu-ul adab / akhlak yang tidak baik dari seorang hamba kepada Tuannya عز وجل. Dan yang demikian ini termasuk penentangan terhadap hukum waktu menurut pendapat para sufi, Yang bagi mereka perkara ini termasuk dosa yang cukup besar.
Maka wajib bagi seorang hamba untuk ber استسلام, tunduk dan ta’at terhadap hukum Tuhannya Setiap saat. Itulah etika ubudiyah dan keharusan bagi العلم باالله, dan inilah salah satu makna الوقت pada istilah mereka (ahli tasawuf). Dan sebagian perkataan mereka adalah : الوقت سيف ‘Waktu adalah pedang’. Maksudnya adalah seperti pedang yang memiliki sifat memotong. Oleh karena itu barang siapa yang tidak dapat memperlakukan waktu dengan bijak maka sang waktu akan memotongnya dari jalan الله. Dan sesungguhnya hakikat waktu adalah apa yang wajib disikapi oleh seorang hamba pada memenuhi kehendak الحق. Barang siapa yang ditolong oleh waktu maka waktu baginya adalah keberuntungan. Dan barang siapa yang dikesalkan oleh waktu, maka waktu baginya adalah kesialan.
احالتك الاعمال على وجود الفراغ من رعونات النفس
Keinginanmu menunda amal, hingga nanti jika ada waktu luang, yang demikian itu termasuk memperturutkan nafsu
Apabila seorang hamba bercampuran dengan aktifitas duniawi seperti perniagaan, kerja mencari penghidupan dan lain sebagainya, sudah pasti semua itu membuat dirinya sibuk, yang dapat menghalanginya dari melakukan amal kebajikan. Dan keinginan untuk menunda amal sampai mendapatkan waktu luang sehingga ia berkata, “Nanti jika ada waktu luang maka aku akan beramal”, maka yang demikian ini termasuk memperturutkan hawa nafsu. Menuruti hawa nafsu adalah termasuk kebodohan, sedang kebodohan itu disebabkan oleh beberapa segi, yang pertama adalah ketetapan hati untuk memilih dunia daripada akhirat. Dan yang demikian ini bukanlah sifat orang berakal dan orang-orang beriman. الله تعالى berfirman :
بل تؤثرون الحياةالدني والأخرة خيروأبقى
Bahkan mereka lebih memilih kenikmatan dunia, Dan adalah akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.
Kedua, adalah penundaan terhadap amal salih dan menunggu sampai mendapatkan waktu lapang. Dan terkadang ia tidak pernah mendapatkan sama sekali, malahan ia disambar oleh maut terlebih dahulu. Atau akan bertambah kesibukannya karena sesungguhnya اشغال الدنى (kesibukan dunia) akan saling mengajak yang satu kepada yang lain.
Ketiga, barangkali ia sempat mendapatkan waktu yang lapang. Akan tetapi karena berjalannya waktu maka azam-nya sudah berganti, dan niyatnya sudah menjadi lemah. Dan pada yang demikian ini akan mengajak pada menyedikitkan amal dan penolehan kepada kemampuan dan kekuatan dirinya di dalam mengerjakan amal tersebut, bukan karena pertolongan الله.
Oleh karena itu yang paling baik adalah bersegera mengerjakan amal pada seketika dan pada kondisi apa saja, dan segera bangkit ketika mendapat kesempatan sebelum datangnya maut dan hilangnya kesempatan. Dan hendaklah bertawakal kepada الله SWT agar dimudahkan dalam beramal salih.
Pilihan-Nya adalah yang terbaik
Janganlah engkau menuntut dari-Nya agar Dia mengeluarkanmu dari suatu keadaan dan menjadikanmu pada kondisi yang lain yang engkau inginkan, karena jika Dia menghendaki niscaya Dia akan menjadikanmu sesuai yang engkau inginkan tanpa harus mengeluarkanmu dari keadaanmu yang sekarang.
Sebagaimana seseorang berada dalam suatu keadaan atau kondisi yang tidak ia suka baik itu berhubungan dengan masalah dunia atau agama, maka tidak semestinya dia berkeinginan keluar dari keadaan tersebut atas inisiatif sendiri dan berpaling dari hukum waktu –nya, karena yang demikian ini sama saja ia menginginkan sesuatu yang tidak di wujudkan oleh Alloh SWT pada saat itu sebagaimana diterangkan pada bab terdahulu :
ما ترك من الجهل شيئا من اراد ان يحدث في الوقت غير ما اظهره الله فيه
Tidak terlepas dari sifat kebodohan, orang yang hendak mengadakan sesuatu pada waktu yang الله tidak mengadakannya pada saat itu
Maka yang mesti ia lakukan adalah tidak berpaling dari hukum waktu dan tidak mencari sesuatu dari Tuhannya agar Ia dikeluarkan dari keadaan tersebut, karena yang demikian ini termasuk memilih-milih sesuatu untuk keinginan dirinya bukan menyerahkan pilihan Tuhan untuk dirinya. Oleh karena itu yang terbaik adalah ber-adab- / tatakrama yang baik dihadapan-Nya dan memilih kehendak-Nya daripada kehendak diri sendiri. Apabila sudah demikian, maka akan tampak jelas kebenaran keadaan dirinya dan akan terlihat jelas kecintaan / mahabah nya kepada Alloh Ta’ala. Maka ia akan berbuat sebagaimana perbuatan kekasih, sementara ia tetap pada keadaan / ahwalnya tanpa harus keluar dari ahwal tersebut. Maka jadilah ia ketika itu sebagai orang yang selalu dalam kehendak Alloh bukan kehendak diri sendiri, dan pasti hal itu lebih baik daripada apa yang ia pilih untuk dirinya.
Di dalam kitab Tanwir dikisahkan, diantara mereka ada yang berkata :
“Aku pernah menginginkan jika aku dapat meninggalkan semua sebab-sebab rizki (tidak bekerja / bertajrid) sementara setiap hari aku bisa mendapatkan dua potong roti. Dan yang demikian ini aku maksudkan agar aku dapat santai dari kepayahan mencari rizki”.
Orang tersebut melanjutkan kisahnya :
“Maka suatu saat aku dimasukkan ke dalam penjara, dan di sana setiap hari aku mendapatkan dua potong roti sampai waktu yang cukup lama, hingga aku merasa sangat bosan. Maka aku memikirkan masa laluku yang menginginkan dua potong roti setiap hari, sehingga terbersit dalam hatiku sebuah suara, “Sesungguhnya engkau menginginkan dari-Ku dua potong roti setiap hari akan tetapi engkau tidak meminta kepada-Ku kebaikan dan keselamatan. Oleh karena itu Aku beri engkau apa yang engkau minta”. Maka aku mohon ampun dan kembali kepada Alloh dan tiba-tiba pintu penjara terketuk sehingga aku selamat dapat keluar dan kembali ke tempat tinggalku”.
Maka beretikalah wahai orang mukmin dan janganlah engkau meminta untuk dikeluarkan dari suatu keadaan atau dimasukkan dalam suatu keadaan yang lain, karena yang demikian ini termasuk su’ul adab bersama Alloh. Bersabarlah engkau dari pada keluar dari suatu keadaan atas inisiatif dirimu sendiri, mungkin akan engkau dapatkan apa yang engkau inginkan, akan tetapi tidak engkau dapatkan kedamaian di dalamnya.
Sebagaimana seseorang berada dalam suatu keadaan atau kondisi yang tidak ia suka baik itu berhubungan dengan masalah dunia atau agama, maka tidak semestinya dia berkeinginan keluar dari keadaan tersebut atas inisiatif sendiri dan berpaling dari hukum waktu –nya, karena yang demikian ini sama saja ia menginginkan sesuatu yang tidak di wujudkan oleh Alloh SWT pada saat itu sebagaimana diterangkan pada bab terdahulu :
ما ترك من الجهل شيئا من اراد ان يحدث في الوقت غير ما اظهره الله فيه
Tidak terlepas dari sifat kebodohan, orang yang hendak mengadakan sesuatu pada waktu yang الله tidak mengadakannya pada saat itu
Maka yang mesti ia lakukan adalah tidak berpaling dari hukum waktu dan tidak mencari sesuatu dari Tuhannya agar Ia dikeluarkan dari keadaan tersebut, karena yang demikian ini termasuk memilih-milih sesuatu untuk keinginan dirinya bukan menyerahkan pilihan Tuhan untuk dirinya. Oleh karena itu yang terbaik adalah ber-adab- / tatakrama yang baik dihadapan-Nya dan memilih kehendak-Nya daripada kehendak diri sendiri. Apabila sudah demikian, maka akan tampak jelas kebenaran keadaan dirinya dan akan terlihat jelas kecintaan / mahabah nya kepada Alloh Ta’ala. Maka ia akan berbuat sebagaimana perbuatan kekasih, sementara ia tetap pada keadaan / ahwalnya tanpa harus keluar dari ahwal tersebut. Maka jadilah ia ketika itu sebagai orang yang selalu dalam kehendak Alloh bukan kehendak diri sendiri, dan pasti hal itu lebih baik daripada apa yang ia pilih untuk dirinya.
Di dalam kitab Tanwir dikisahkan, diantara mereka ada yang berkata :
“Aku pernah menginginkan jika aku dapat meninggalkan semua sebab-sebab rizki (tidak bekerja / bertajrid) sementara setiap hari aku bisa mendapatkan dua potong roti. Dan yang demikian ini aku maksudkan agar aku dapat santai dari kepayahan mencari rizki”.
Orang tersebut melanjutkan kisahnya :
“Maka suatu saat aku dimasukkan ke dalam penjara, dan di sana setiap hari aku mendapatkan dua potong roti sampai waktu yang cukup lama, hingga aku merasa sangat bosan. Maka aku memikirkan masa laluku yang menginginkan dua potong roti setiap hari, sehingga terbersit dalam hatiku sebuah suara, “Sesungguhnya engkau menginginkan dari-Ku dua potong roti setiap hari akan tetapi engkau tidak meminta kepada-Ku kebaikan dan keselamatan. Oleh karena itu Aku beri engkau apa yang engkau minta”. Maka aku mohon ampun dan kembali kepada Alloh dan tiba-tiba pintu penjara terketuk sehingga aku selamat dapat keluar dan kembali ke tempat tinggalku”.
Maka beretikalah wahai orang mukmin dan janganlah engkau meminta untuk dikeluarkan dari suatu keadaan atau dimasukkan dalam suatu keadaan yang lain, karena yang demikian ini termasuk su’ul adab bersama Alloh. Bersabarlah engkau dari pada keluar dari suatu keadaan atas inisiatif dirimu sendiri, mungkin akan engkau dapatkan apa yang engkau inginkan, akan tetapi tidak engkau dapatkan kedamaian di dalamnya.
Tetaplah berjalan jangan berhenti
Manakala seorang salik berkeinginan untuk berhenti pada sesuatu yang telah dibukakan untuk dirinya (dari beberapa ma’rifat), niscaya akan ada seruan dari alam hakikat “Sesungguhnya yang engkau cari (bukan itu) tetapi masih berada di depanmu”. Dan manakala ditampakkan keindahan alam semesta (yang menarik hati untuk condong kepadanya, maka hakikatnya akan menyeru, “Sesungguhnya aku ini adalah fitnah oleh karena itu janganlah engkau kufur”.
Orang yang menempuh perjalanan menuju Alloh akan ditampakkan di tengah perjalanannya berbagai cayaha dan rahasia-rahasia. Apabila timbul keinginan untuk berhenti pada penampakan-penampakan itu, dimana ia berkeyakinan bahwa ia telah sampai pada tujuan dan ma’rifah, niscaya akan ada seruan yang lembut (hatif) dari alam hakikat, “sesungguhnya sesuatu yang engkau cari masih berada di depanmu, oleh karena itu bersungguh-sungguhlah dalam berjalan dan jangan berhenti”. Dan manakala diperlihatkan keelokan dunia dan alam semesta beserta kecantikannya sehingga membuat hati condong dan tertarik kepadanya, niscaya ia akan dipanggil dari alam hakikat, “sesungguhya aku adalah fitnah maka janganlah engkau kufur dan pejamkanlah matamu dari semua itu dan janganlah engkau berpaling kepadanya, dan abadikan suluk (perjalananmu)”.
Ketahuilah sesungguhnya apabila engkau masih memiliki hasrat dan keinginan selain Alloh berarti engkau masih dalam perjalanan yang jauh dan belum sampai tujuan. Jika engkau membersihkan segala keinginanmu, niscaya telah sampailah engkau. Alangkah sesuainya apa yang disampaikan oleh Abul Hasan At-Tustari mengenai hal di atas :
Dan janganlah engkau menoleh kepada yang lain dalam perjalananmu
Karena sesungguhnya segala sesuatu selain Alloh akan berubah
Maka jadikanlah dzikir kepada-Nya sebagai perisai
Pada kesempatan lain dikatakan,” Ingatlah jika engkau ingin mendapatkan bagian dari apa yang diperoleh para kekasih Alloh, wajib bagi kamu untuk meninggalkan manusia kecuali mereka yang dapat menunjukkanmu jalan kepada Alloh baik dengan isyarah yang benar dan amal yang kokoh yang tidak berlawanan dengan kitab dan sunah, dan berpalinglah dari dunia secara keseluruhan. Dan janganlah kamu termasuk golongan orang yang berpaling dari dunia akan tetapi mengharapkan sesuatu yang lain, akan tetapi jadikanlah keberpalingan itu menuju penghambaan kepada Alloh SWT yang memerintahkanmu untuk berpaling dari musuh-Nya. Apabila engkau telah mendapatkan dua perkara ini (berpaling dari manusia dan zuhud atas dunia) maka engkau akan teguh bersama Alloh dengan bermuraqabah kepada-Nya, senantiasa bertaubat, beristighfar dan senantiasa kembali kepada-Nya, tunduk dengan hukum-hukum-Nya, dan istiqamah
Adapun penafsiran masalah di atas yaitu, bahwa engkau berdiri sebagai hamba Alloh dan selalu mengawasi hatimu agar hatimu tidak melihat sesuatu di dunai ini selain Dia. Apabila datang di hatimu sesuatu selain Dia, maka akan ada seruan kebenaran (hatif yang haq) yang berkata, “Sesungguhnya engkau telah buta dari jalan kebenaran. Bagaimana engkau berdiri dihadapan Alloh dengan keadaan seperti itu sementara engkau telah pula mendengarkan firman-Nya
وَكَانَ اللّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ رَ قِيْبَا
,” ” Dan sesungguhnya Alloh mengawasi segala sesuatu”.
Maka pada saat itu akan tumbuhlah rasa malu pada dirimu yang akan membawamu kepada taubat dan semestinya engkau abadikan taubatmu
Orang yang menempuh perjalanan menuju Alloh akan ditampakkan di tengah perjalanannya berbagai cayaha dan rahasia-rahasia. Apabila timbul keinginan untuk berhenti pada penampakan-penampakan itu, dimana ia berkeyakinan bahwa ia telah sampai pada tujuan dan ma’rifah, niscaya akan ada seruan yang lembut (hatif) dari alam hakikat, “sesungguhnya sesuatu yang engkau cari masih berada di depanmu, oleh karena itu bersungguh-sungguhlah dalam berjalan dan jangan berhenti”. Dan manakala diperlihatkan keelokan dunia dan alam semesta beserta kecantikannya sehingga membuat hati condong dan tertarik kepadanya, niscaya ia akan dipanggil dari alam hakikat, “sesungguhya aku adalah fitnah maka janganlah engkau kufur dan pejamkanlah matamu dari semua itu dan janganlah engkau berpaling kepadanya, dan abadikan suluk (perjalananmu)”.
Ketahuilah sesungguhnya apabila engkau masih memiliki hasrat dan keinginan selain Alloh berarti engkau masih dalam perjalanan yang jauh dan belum sampai tujuan. Jika engkau membersihkan segala keinginanmu, niscaya telah sampailah engkau. Alangkah sesuainya apa yang disampaikan oleh Abul Hasan At-Tustari mengenai hal di atas :
Dan janganlah engkau menoleh kepada yang lain dalam perjalananmu
Karena sesungguhnya segala sesuatu selain Alloh akan berubah
Maka jadikanlah dzikir kepada-Nya sebagai perisai
Pada kesempatan lain dikatakan,” Ingatlah jika engkau ingin mendapatkan bagian dari apa yang diperoleh para kekasih Alloh, wajib bagi kamu untuk meninggalkan manusia kecuali mereka yang dapat menunjukkanmu jalan kepada Alloh baik dengan isyarah yang benar dan amal yang kokoh yang tidak berlawanan dengan kitab dan sunah, dan berpalinglah dari dunia secara keseluruhan. Dan janganlah kamu termasuk golongan orang yang berpaling dari dunia akan tetapi mengharapkan sesuatu yang lain, akan tetapi jadikanlah keberpalingan itu menuju penghambaan kepada Alloh SWT yang memerintahkanmu untuk berpaling dari musuh-Nya. Apabila engkau telah mendapatkan dua perkara ini (berpaling dari manusia dan zuhud atas dunia) maka engkau akan teguh bersama Alloh dengan bermuraqabah kepada-Nya, senantiasa bertaubat, beristighfar dan senantiasa kembali kepada-Nya, tunduk dengan hukum-hukum-Nya, dan istiqamah
Adapun penafsiran masalah di atas yaitu, bahwa engkau berdiri sebagai hamba Alloh dan selalu mengawasi hatimu agar hatimu tidak melihat sesuatu di dunai ini selain Dia. Apabila datang di hatimu sesuatu selain Dia, maka akan ada seruan kebenaran (hatif yang haq) yang berkata, “Sesungguhnya engkau telah buta dari jalan kebenaran. Bagaimana engkau berdiri dihadapan Alloh dengan keadaan seperti itu sementara engkau telah pula mendengarkan firman-Nya
وَكَانَ اللّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ رَ قِيْبَا
,” ” Dan sesungguhnya Alloh mengawasi segala sesuatu”.
Maka pada saat itu akan tumbuhlah rasa malu pada dirimu yang akan membawamu kepada taubat dan semestinya engkau abadikan taubatmu
Bagaimana Mungkin الله Terhijab Dari Kita
كيف يتصور ان يحجبه شيء وهو ظهر بكل شيء
Bagaimana digambarkan bahwa Dia (لله) terhijab oleh sesuatu padahal Dia-lah Yang tampak dengan segala sesuatu. (Sehingga dari sesuatu yang wujud, orang-orang dapat mengambil dalil akan adanya لله), sebagaimana firman لله SWT,
سنريهم آياتنا في الآفاق وفي انفسكم
Akan Kami perlihatkan kepada mereka ayat-ayat Kami pada setiap ufuk dan pada diri kamu sekalian.
كيف يتصور ان يحجبه شيء وهو ظهر فى كل شيء
Bagaimana digambarkan bahwa Dia (لله) terhijab oleh sesuatu padahal Dia tampak di dalam segala sesuatu. (karena sesungguhnya Dia bermanifestasi di dalam segala sesuatu dengan segala kebagusan sifat-sifat-Nya dan asma-asma-Nya).
كيف يتصور ان يحجبه شيء وهو ظهر لكل شيء
Bagaimana digambarkan bahwa Dia (لله) terhijab oleh sesuatu padahal Dia-lah yang tampak bagi segala sesuatu. (di dalam mengkondisikan segala sesuatu sehingga semua yang ada tunduk dan sujud kepada-Nya, bertasbih dengan me-Maha Sucikan-Nya, akan tetapi kita tidak faham dengan tasbih dan tahmid mereka).
كيف يتصور ان يحجبه شيء وهو ظاهرقبل كل شيء
Bagaimana digambarkan bahwa Dia (لله) terhijab oleh sesuatu padahal Dia telah ada sebelum adanya segala sesuatu. (sebagaimana aktualisasi nama-nya Yang Maha Azali dan Yang Maha Abadi)
كيف يتصور ان يحجبه شيء وهو اظاهر من كل شيء
Bagaimana digambarkan bahwa Dia (لله) terhijab oleh sesuatu padahal Dia lebih tampak daripada segala sesuatu. (Karena Yang wujud sudah pasti lebih tampak daripada yang ‘adam / tidak wujud pada segala keadaan, vsebagaimana telah diterangkan bahwa segala sesuatu selain لله pada hakikatnya adalah ‘adam apabila disandingkan dengan wujud لله.
كيف يتصور ان يحجبه شيء وهوالواحد الذي ليس معه شيء
Bagaimana digambarkan bahwa Dia (لله) terhijab oleh sesuatu padahal Dia adalah Dzat Yang Maha Esa yang tidak ada sesuatu yang menyertai-Nya. (Karena segala sesuatu selain Dia adalah sudah pasti ‘adam / nihil.
كيف يتصور ان يحجبه شيء وهواقرب اليك من كل شيء
Bagaimana digambarkan bahwa Dia (لله) terhijab oleh sesuatu padahal Dia lebih dekat kepadamu daripada segala sesuatu. (dikarenakan kesenantiasaan Dia meliputi engkau dan dikarenakan adanya Dia yang mengatur diri engkau.
كيف يتصور ان يحجبه شيء ولولاه ماكان وجود كل شيء
Bagaimana digambarkan bahwa Dia (لله) terhijab oleh sesuatu padahal kalau bukan karena Dia maka tidak akan terwujud segala sesuatu.
يا عجبا كيف يظهر الوجود فى العدم
Alangkah ajaib, bagaimana Yang Wujud akan tampak di dalam sesuatu yang tidak ada (kosong). (karena العدم adalah gelap, dan الوجود adalah terang. Dan keduanya adalah berlawanan sehingga tidak mungkin terkumpul keduanya.
ام كيف يثبت الحادث مع من له وصف القدم
Bagaimana sesuatu yang baru (الحدث) akan eksis disandingkan dengan Dzat Yang memiliki sifat Dahulu. (karena sesuatu yang bathil tidak akan eksis apabila tampak Yang Haq sebagaimana firman لله SWT :
وقل جاءالحق وزهق الباطل ان الباطل كان زهوقا
Katakanlah kepada mereka, telah datang kebenaran dan rusaklah yang bathil. Sesungguhnya yang bathil akan binasa.
Dan sebagaimana firman-Nya:
بل نقذف بالحق علي الباطل فيدمغه فاذ هو زاهق
Tetapi kebatilan kami halau dengan kebenaran sehingga menjadi sia-sia maka kemudian ia binasa.
Bagaimana digambarkan bahwa Dia (لله) terhijab oleh sesuatu padahal Dia-lah Yang tampak dengan segala sesuatu. (Sehingga dari sesuatu yang wujud, orang-orang dapat mengambil dalil akan adanya لله), sebagaimana firman لله SWT,
سنريهم آياتنا في الآفاق وفي انفسكم
Akan Kami perlihatkan kepada mereka ayat-ayat Kami pada setiap ufuk dan pada diri kamu sekalian.
كيف يتصور ان يحجبه شيء وهو ظهر فى كل شيء
Bagaimana digambarkan bahwa Dia (لله) terhijab oleh sesuatu padahal Dia tampak di dalam segala sesuatu. (karena sesungguhnya Dia bermanifestasi di dalam segala sesuatu dengan segala kebagusan sifat-sifat-Nya dan asma-asma-Nya).
كيف يتصور ان يحجبه شيء وهو ظهر لكل شيء
Bagaimana digambarkan bahwa Dia (لله) terhijab oleh sesuatu padahal Dia-lah yang tampak bagi segala sesuatu. (di dalam mengkondisikan segala sesuatu sehingga semua yang ada tunduk dan sujud kepada-Nya, bertasbih dengan me-Maha Sucikan-Nya, akan tetapi kita tidak faham dengan tasbih dan tahmid mereka).
كيف يتصور ان يحجبه شيء وهو ظاهرقبل كل شيء
Bagaimana digambarkan bahwa Dia (لله) terhijab oleh sesuatu padahal Dia telah ada sebelum adanya segala sesuatu. (sebagaimana aktualisasi nama-nya Yang Maha Azali dan Yang Maha Abadi)
كيف يتصور ان يحجبه شيء وهو اظاهر من كل شيء
Bagaimana digambarkan bahwa Dia (لله) terhijab oleh sesuatu padahal Dia lebih tampak daripada segala sesuatu. (Karena Yang wujud sudah pasti lebih tampak daripada yang ‘adam / tidak wujud pada segala keadaan, vsebagaimana telah diterangkan bahwa segala sesuatu selain لله pada hakikatnya adalah ‘adam apabila disandingkan dengan wujud لله.
كيف يتصور ان يحجبه شيء وهوالواحد الذي ليس معه شيء
Bagaimana digambarkan bahwa Dia (لله) terhijab oleh sesuatu padahal Dia adalah Dzat Yang Maha Esa yang tidak ada sesuatu yang menyertai-Nya. (Karena segala sesuatu selain Dia adalah sudah pasti ‘adam / nihil.
كيف يتصور ان يحجبه شيء وهواقرب اليك من كل شيء
Bagaimana digambarkan bahwa Dia (لله) terhijab oleh sesuatu padahal Dia lebih dekat kepadamu daripada segala sesuatu. (dikarenakan kesenantiasaan Dia meliputi engkau dan dikarenakan adanya Dia yang mengatur diri engkau.
كيف يتصور ان يحجبه شيء ولولاه ماكان وجود كل شيء
Bagaimana digambarkan bahwa Dia (لله) terhijab oleh sesuatu padahal kalau bukan karena Dia maka tidak akan terwujud segala sesuatu.
يا عجبا كيف يظهر الوجود فى العدم
Alangkah ajaib, bagaimana Yang Wujud akan tampak di dalam sesuatu yang tidak ada (kosong). (karena العدم adalah gelap, dan الوجود adalah terang. Dan keduanya adalah berlawanan sehingga tidak mungkin terkumpul keduanya.
ام كيف يثبت الحادث مع من له وصف القدم
Bagaimana sesuatu yang baru (الحدث) akan eksis disandingkan dengan Dzat Yang memiliki sifat Dahulu. (karena sesuatu yang bathil tidak akan eksis apabila tampak Yang Haq sebagaimana firman لله SWT :
وقل جاءالحق وزهق الباطل ان الباطل كان زهوقا
Katakanlah kepada mereka, telah datang kebenaran dan rusaklah yang bathil. Sesungguhnya yang bathil akan binasa.
Dan sebagaimana firman-Nya:
بل نقذف بالحق علي الباطل فيدمغه فاذ هو زاهق
Tetapi kebatilan kami halau dengan kebenaran sehingga menjadi sia-sia maka kemudian ia binasa.
AKHLAK
Alloh SWT berfirman :
وانك لعللى خلق عظيم
Dan sesungguhnya Engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung" (Al-Qalam 4)
Dari Anas bin Malik diriwayatkan tentang makna "yang paling baik akhlaknya" ditanyakan kepada Nabi SAWW, "Ya rasululLoh, siapakah orang mukmin yang paling utama imannya ?"
Jawab beliau, "yang paling baik akhlaknya".
Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq berkata, "Akhlak yang baik adalah perjalanan hamba yang paling utama. Dengan akhlak yang baik maka cahaya sikap kesatrianya akan Nampak. Manusia yang tertutup (mastur) dari makhluk akan tersingkap akhlaknya".
Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, "Sesungguhnya Alloh mengkhususkan Nabi-Nya dengan apa-apa yang memang hanya dihususkan untuknya. Dia tidak memujinya dengan sesuatu dari sifat-sifatnya seperti yang dipujikan oleh makhluk-Nya. Alloh menegaskan fainnaka la'alla khuluqin adim.
"Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung". Sedangkan menurut tafsiran Muhammad Al-Washiti, ayat tersebut bermakna Tuhan mensifati Nabi Muhammad SAWW dengan akhlak yang agung karena beliau adalah manusia terbaik diantara penduduk alam dan cukup dengan pujian Alloh. Dia juga mengatakan, bahwa akhlak yang agung adalah ketiadaan orang yang membantah dan dibantah karena pengetahuannya yang begitu mendalam mengenai Alloh. Makna akhlak yang mulia menurut Husin bin Mansur adalah ketiadaan buih (kesia-siaan) bekas makhluk dalam diri seseorang setelah pencapaian penglihatan pada Al Haqq. Sedangkan menurut Ahmad bin Isa Al Kharaz adalah ketiadaan keinginan atau cita-cita selain yang ditujukan kepada Alloh.
Menurut Muhammad Al-Kattani akhlak tercermin dalam sikap sufi. Artinya tasawuf adalah akhlak yang menjadi bekal dalam kebersamaanmu dengan Alloh.
Fudhail bin Iyadh berkata, "Seandainya seorang hamba memperbaiki semua kebaikannya sementara dia mempunyai seekor ayam lalu memperlakukannya dengan tidak baik, maka dia bukanlah seorang yang berakhlak.
Dikatakan bahwa Ibnu Umar RA jika melihat salah seorang budaknya yang memperbaiki salatnya maka dia memerdekakannya. Akhlaknya yang demikian itu sempat diketahui oleh budak-budak yang lain, maka mereka memperbaiki salatnya dengan menampak-nampakannya di hadapan Ibnu Umar dan Ibnu Umar memerdekakan mereka. Seseorang memprotesnya, "mereka shalat dengan ria" lalu dijawab, barang siapa menipuku didalam Alloh, hakikatnya dia sesungguhnya menipu saya karena Alloh".
Harits Al-Muhasibi berkata, "Kami mencari tiga hal yang hilang yaitu eloknya wajah bersama pemeliharaan kesucian diri, bagusnya ucapan bersama amanat, dan bagusnya persaudaraan bersama pemenuhan". AbduLlah bin Muhammad Ar-Razi berkata, "Budi pekerti adalah sikap yang menganggap kecil pada apa yang berasal darimu, dan menganggap besar dari apa yang berasal dari selain dirimu".
Ditanyakan pada Ahnaf bin Qais, "Dari siapa Tuan belajar akhlak ?"
"Dari Qais bin Ashim Al-Munqiry".
"Sampai sejauh mana akhlaknya ?"
"Ketika kami duduk di rumahnya, tiba-tiba seorang budak wanita datang dengan mebawa besi panas, sebagai alat pemanggang daging. Benda itu lepas dari tangannya dan jatuh menimpa anak laki-laki Qais sehingga menyebabkan kematian-nya. Budak itu sangat ketakutan, tetapi Qais justru menghiburnya dengan megatakan, "Jangan takut, engkau bebas karena Alloh".
Syah Al-Kirmani berkata, "Tanda akhlak yang baik diantaranya menahan penderitaan dan menangggung siksaan." RasuluLloh SAWW bersabda, "
انكم لن تسعواالناس باموالكم فسعواهم ببسط الوجه وحسن الخلق
"sesungguhnya kamu tidak akan bisa memuaskan manusia dengan hartamu, puaskanlah mereka dengan kecerahan wajah dan bagusnya budi pekerti".
Ditanyakan kepada Dzunun Al-Mishri, "Siapakah yang paling menggelisahkan manusia ?"
"Yang paling buruk akhlaknya".
Wahab mengatakan bahwa tidaklah seseorang yang menjalankan akhlak yang baik selama 40 hari melainkan Alloh SWT akan menjadikan akhlak itu sebagai karakternya.
Firman Alloh SWT berfirm :
وثيابك فطهر
"Dan pakaianmu maka sucikanlah".
Dikatakan bahwa ada seorang dari jama'ah haji memiliki seekor kambing. Dia melihatnya sedang terpancang di atas tiga tombak.
"Siapa yang melakukan ini ?"
"Saya," Jawab seorang anak budak.
"Kenapa engkau lakukan ini ?"
"Untuk menjagamu ". Kata budak itu.
"Tidak, bahkan untuk menutupi perkaramu. Pergi dan engkau kini bebas." Jawabnya.
Ditanyakan kepada Ibrahim bin Adham,"Apakah egkau pernah bahagia di dunia ?"
"Ya..dua kali".
"Apa saja itu ?"
"Pertama, ketika saya sedang duduk, datang seseorang mengencingi saya. Kedua, ketika saya duduk, datang seseorang dan langsung menampar saya".
Adalah Uwais Al-Qarni apabila terlihat oleh anak-anak, maka mereka akan melempirnya dengan batu.
"Anak-anak, "Sapanya lembut.
"Jika kalian hendak melampariku dengan batu, saya mohon lemparilah dengan batu-batu yang kecil, agar lutuku tidak pecah sehingga menghalangiku dari mengerjakan shalat".
Ada seorang lelaki bengis mencaci maki Ahnaf bin Qais. Lelaki itu terus mengikutinya sambil mengeluarkan kata-kata kotor sampai dia malu sendiri dan berhenti dari mencaci maki.
"Wahai kawan ," Sapa Ahnaf.
"Jika masih tersisa sesuatu di hatimu, maka muntahkanlah sekarang saja agar para ulama fikih tidak mendengarmu sehingga mereka akan mengadilimu".
Ditanyakan pada Hatim Al-Asham," Apakah tiap orang memiliki tanggungan ?"
"Ya, kecuali dirinya," jawabnya.
Dikisahkan bahwa Khalifah Ali bin Abi Thalib RA memanggil seorang budak dan budak itu tidak menyahutinya. Beliau mengulanginya sampai tiga kali dan tetap tidak mendapat respon. Khalifah melangkah mendekat dan melihat budak itu sedang berbaring enak-enakan.
"Apakah kamu tidak mendengar wahai bujang ?"
"Mendengar," Jawabnya ringan.
"Apa yang membuatmu tidak menyahut ?"
"Saya merasa aman dari ancaman siksamu, karena itu saya bermalas-malasan."
"Pergilah, engkau bebas karena Alloh". Jawab Khalifah Ali RA.
Diriwayatkan bahwa Ma'ruf Al Kharqi turun ke sungai Daljah untuk mengambil wudhu. Dia letakkan mushaf dan jubah luarnya, tiba-tiba datanglah seorang wanita dan mengambil dua barang itu. Ma'ruf melihat lalu membuntutinya.
"Wahai saudariku, "sapanya. "Saya adalah Ma'ruf AL-Kharqi. Anda jangan takut sebab anda tidak bersalah. Apakah engkau memiliki anak yang bisa membaca ?"
"Tidak."
"Sudah menikah ?"
"Belum"
"Kalau begitu, kembalikan mushaf saya dan ambilah baju itu".
Sekelompok pencuri memasuki rumah Syaikh Abu AbduRrahman As-Sulami dengan terang-terangan. Mereka berlagak seolah – olah tidak merasa takut. Mereka mengambil semua apa yang dijumpainya. Abu AbduRrahman mengetahuinya, namun membiarkan mereka pergi dengan begitu saja. Pada hari berikutnya dia keluar dan menemukan sesuatu yang berkaitan dengan kasus pencurian.
"Ketika saya melewati pasar,"jelasnya..,"saya melihat jubah saya pada seseorang yang sedang menawarkannya. Saya segera berpaling dan tidak menoleh kepadanya."
Ahmad Al-Jariri berkata, "Saya kembali dari Makkah dan segera mendahului Al-Junaid agar dai tidak menyulitkan saya (melayaniku sehingga membuatku sibuk membalasnya). Saya ucapkan salam kepadanya kemudian meninggalkannya dan terus beranjak pulang. Ketika saya shalat subuh di masjid, tiba-tiba dia berada di shaf belakang saya. Selesai shalat, saya berkata kepadanya, "Kemarin saya mendahuluimu supaya engkau tidak menyulitkan saya".
Dia menjawab, "Itu adalah keutamaanmu dan ini adalah hakmu".
Abu Hafsh pernah ditanya mengenai akhlak lalu dijawab, "Akhlak adalah apa yang dipilihkan Alloh SWT untuk Nabi-Nya sebagaimana yang tertulis di dalam firman-Nya :
خذ العفو وأمر بالعرف وأعرض عن الجاهاين
"Jadilah pemaaf, dan suruhlah orang berbuat kebajikan, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh".
Disamping itu, banyak pendapat yang memberikan makna akhlak dalam beberapa pengertian. Ada yang mengartikan sebagai keberadaan seseorang yang dekat dengan manusia dan disertai keterasingannya dengan hal-hal yang berlaku di tengah-tengah kehidupan mereka. Ada juga yang mengartikan sebagai penerimaan sesuatu yang mendatangi dari kesia-siaan makhluk dan kepastian Al-Haqq, tanpa merasa jemu dan gelisah.
Abu Dzar Al-Ghifari datang ke kolam hendak mengambil air untuk air minum untanya. Akan tetapi sebagian pengambil air yang lain menyerobotnya dengan kasar. Abu Dzar hanya bisa memandang , lalu duduk kemudian berbaring. Seseorang yang melihatnya heran dan bertanya, kemudian dijawab, "Sesungguhnya RasuluLloh SAWW memerintahkan kita jika seseorang marah, maka hendaknya ia duduk. Jika dengan duduk tidak juga hilang, maka hendaklah ia berbaring".
Disebutkan di dalam kitab injil, "Hamba-Ku, ingatlah Aku ketika engkau marah, maka Aku akan mengingatmu ketika Aku marah".
Luqman bertanya kepada anaknya," Tidak akan diketahui tiga hal kecuali dalam tiga hal : Kasihan ketika marah, keberanian ketika dalam perang, persaudaraan ketika dibutuhkan". Nabi Musa AS pernah mengadu kepada Alloh SWT, "Tuhan saya memohon kepada Engkau untuk mengatakan kepadaku apa yang tidak ada pada diriku". Alloh mewahyukan kepadanya, "Engkau tidak melakukan demikian untuk-Ku, maka bagaimana Saya memperlakukanmu ?"
Yahya bin Ziad Al-Haritsi memilki seorang pelayan yang sangat buruk akhlaknya. Tetangganya heran lalu menanyakan kepadanya, "Mengapa engkau pertahankan pelayan itu,"
"Supaya saya bisa mengajarinya sifat asih," Jawabnya.
Firman Alloh SWT :
واصبغ عليكم نعمه ظاهراوباطنا
"dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya yang lahir maupun yang bathin".
Dalam ayat ini terkandung pengertian bahwa nikmat lahir adalah kelurusan akhlak, sedangkan nikmat bathin adalah kejernihan budi pekerti. Al Fudhail bin Iyadh mengatakan, "berkawan dengan orang durhaka yang berakhlak baik lebih saya sukai daripada berkawan dengan orang ahli ibadah yang berakhlak buruk". Dikatakan bahwa akhlak yang baik adalah kemampuan memikul sesuatu yang dibenci dengan menggantinya dengan kebaikan yang ia tebarkan.
Diriwayatkan bahwa Ibrahim bin Adham keluar melewati segerombolan tentara. Seseorang dari mereka menemuinya dan berkata, "Dimana tempat hiburan ?" Ibrahim menunjuk ke arah kuburan. Wajah tentara itu memerah. Dia tersinggung dan langsung memukul kepada Ibrahim. Setelah dia pergi, seseorang memberitahukan tentara itu bahwa yang dipukulnya adalah Ibrahim bin Adham seorang ulama sufi yang zuhud yang berasal dari khurasan. Tentara itu terkejut dan ia menyesali perbuatannya dan langsung pergi menyusul Ibrahim.
"Tuan maafkanlah saya, saya menyesal telah memukul tuan"
"Ketika engkau memukul saya." Kata Ibrahim, "Saya memohonkan kepada Alloh surga untukmu".
"Mengapa ?"
"Saya tahu bahwa saya memasukkan perangkap terhadapmu. Saya tidak ingin mendapatkan bagianku yang baik darimu dan bagianmu yang buruk dariku".
Diceritakan bahwa Said bin Ismail Al-Hirri diundang seorang laki-laki untuk jamuan makan. Ketika sampai di depan pintu rumahnya, lelaki itu berkata, "Wahai Ustaz, bukan sekarang waktunya. Saya menyesal tidak bisa mengabarimu terlebih dahulu".
Abu Said pulang, dan sebentar kemudian kembali lagi. Ketika tiba didepan pintu, tuan rumah buru-buru keluar sambil menyapa,"Maaf Ustaz, undangan belum dimulai. Saya menyesal belum sempat mengabari ustaz. Datanglah sejam kemudian".
Abu Said berdiri mohon pamit kemudian pergi. Pada saat yang dijanjjikan tiba, dia berangkat dan ketika sampai di depan pintu, ia memperoleh jawaban yang sama sepeti semula. Dia pulang, datang lagi dan kembali pulang sampai bebeapa kali. Lelaki itu kagum menyaksikan ketabahan Abu Said. Dai menyesali sikapnya.
"Wahai Ustaz, saya hanya ingin mengujimu," Kata lelaki itu seraya menyambutnya dengan rasa hormat.
"Jangan kau memujiku atas dasar perilakuku yang kau teukan seperti anjing. Anjing jika dipanggil dia datang, dan jika dicegah dia pergi." Abu Said kemudian pergi seolah tidak terjadi apa-apa.
Abu Said ketika melewati sebuah gang besar, seseorang menumpahkan abu kotor dari balkon rumahnya. Teman-temannya yang melihatnya marah. Mereka mencaci maki orang yang melempar abu yang kotor tadi.
"Janganlah kalian mengatakan sesuatu. Barang siapa yang patut mendapat siksaan neraka, lalu menerima lemparan abu itu dengan baik, maka baginya tidak boleh marah". Katanya.
Dikatakan bahwa ada seorang fakir yang singgah di rumah Ja'far bin Hanzalah. Ja'far melayaninya dengan baik. Orang fakir itu berkata,"Sebaik lelaki adalah engkau jiak saja engkau bukan orang yahudi".
"Akidahku tidak akan menodai apa yang engkau butuhkan untuk dilayani. Mintalah kesembuhan pada dirimu sendiri, sedang diriku butuh hidayah".
Diceritakan bahwa AbduLlah seorang penjahit, menenerima jahitan dari seorang Majusi. Setelah selesai, orang majusi tersebut membayarnya dengan uang palsu dan AbduLlah menerimanya. Bertepatan dia hendak keluar karena suatu urusan, majusi tadi datang lagi untuk membayar ongkos jahitan yang kesekian kalinya. Murid AbduLlah yang menerimanya mengetahui bahwa yang diterimanya itu adalah uang palsu maka dia menolaknya. Bahka orang majusi itu diserahkan kepada seorang peneliti uang. Beberapa saat kemudian AbduLlah datang dan bertanya kepada muridnya, "Mana baju majusi itu ?"
Murid itu menceritakan kepada sang guru apa yang telah terjadi. Tentang kebohongannya, kepalsuannya, penolakannya, dan tindakannya kepada majusi itu.
"Buruk sekali apa yang telah engkau lakukan !. sudah berapa kali dia memperlakukan saya seperti itu, dan saya sabar menerimanya. Uang palsu itu saya lemparkan ke sumur agar tidak menumbulkan bahaya kepada orang lain." Tegur AbduLlah.
Akhlak yang buruk menyempitkan hati pemiliknya karena tidak memperluaskan tempat selain yang dikehendaknya sebagaimana tempat yang sempit yang tidak tidak memberi keleluasaan selain pemiliknya. Akhlak yang baik tidak akan menjadikan engkau berubah sebab karena seseorang yang berdiri di shaf di sampingmu. Sedangkan keburukan akhlak terdapat pada kejatuhan pandanganmu pada keburukan akhalak terhadap selainmu. RasuluLloh SAWW pernah ditanya tentang kesialan lalu dijawab," Keburukan akhlak".
Abu Hurairah RA menceritakan, "Seorang sahabat bertanya"
"Ya RasuluLloh, mohonkanlah kepada Alloh agar kita dapat menghancurkan orang-orang musyrik." Beliau menjawab, "Saya diutus untuk menebarkan kasih sayang, bukan siksaan".
وانك لعللى خلق عظيم
Dan sesungguhnya Engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung" (Al-Qalam 4)
Dari Anas bin Malik diriwayatkan tentang makna "yang paling baik akhlaknya" ditanyakan kepada Nabi SAWW, "Ya rasululLoh, siapakah orang mukmin yang paling utama imannya ?"
Jawab beliau, "yang paling baik akhlaknya".
Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq berkata, "Akhlak yang baik adalah perjalanan hamba yang paling utama. Dengan akhlak yang baik maka cahaya sikap kesatrianya akan Nampak. Manusia yang tertutup (mastur) dari makhluk akan tersingkap akhlaknya".
Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, "Sesungguhnya Alloh mengkhususkan Nabi-Nya dengan apa-apa yang memang hanya dihususkan untuknya. Dia tidak memujinya dengan sesuatu dari sifat-sifatnya seperti yang dipujikan oleh makhluk-Nya. Alloh menegaskan fainnaka la'alla khuluqin adim.
"Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung". Sedangkan menurut tafsiran Muhammad Al-Washiti, ayat tersebut bermakna Tuhan mensifati Nabi Muhammad SAWW dengan akhlak yang agung karena beliau adalah manusia terbaik diantara penduduk alam dan cukup dengan pujian Alloh. Dia juga mengatakan, bahwa akhlak yang agung adalah ketiadaan orang yang membantah dan dibantah karena pengetahuannya yang begitu mendalam mengenai Alloh. Makna akhlak yang mulia menurut Husin bin Mansur adalah ketiadaan buih (kesia-siaan) bekas makhluk dalam diri seseorang setelah pencapaian penglihatan pada Al Haqq. Sedangkan menurut Ahmad bin Isa Al Kharaz adalah ketiadaan keinginan atau cita-cita selain yang ditujukan kepada Alloh.
Menurut Muhammad Al-Kattani akhlak tercermin dalam sikap sufi. Artinya tasawuf adalah akhlak yang menjadi bekal dalam kebersamaanmu dengan Alloh.
Fudhail bin Iyadh berkata, "Seandainya seorang hamba memperbaiki semua kebaikannya sementara dia mempunyai seekor ayam lalu memperlakukannya dengan tidak baik, maka dia bukanlah seorang yang berakhlak.
Dikatakan bahwa Ibnu Umar RA jika melihat salah seorang budaknya yang memperbaiki salatnya maka dia memerdekakannya. Akhlaknya yang demikian itu sempat diketahui oleh budak-budak yang lain, maka mereka memperbaiki salatnya dengan menampak-nampakannya di hadapan Ibnu Umar dan Ibnu Umar memerdekakan mereka. Seseorang memprotesnya, "mereka shalat dengan ria" lalu dijawab, barang siapa menipuku didalam Alloh, hakikatnya dia sesungguhnya menipu saya karena Alloh".
Harits Al-Muhasibi berkata, "Kami mencari tiga hal yang hilang yaitu eloknya wajah bersama pemeliharaan kesucian diri, bagusnya ucapan bersama amanat, dan bagusnya persaudaraan bersama pemenuhan". AbduLlah bin Muhammad Ar-Razi berkata, "Budi pekerti adalah sikap yang menganggap kecil pada apa yang berasal darimu, dan menganggap besar dari apa yang berasal dari selain dirimu".
Ditanyakan pada Ahnaf bin Qais, "Dari siapa Tuan belajar akhlak ?"
"Dari Qais bin Ashim Al-Munqiry".
"Sampai sejauh mana akhlaknya ?"
"Ketika kami duduk di rumahnya, tiba-tiba seorang budak wanita datang dengan mebawa besi panas, sebagai alat pemanggang daging. Benda itu lepas dari tangannya dan jatuh menimpa anak laki-laki Qais sehingga menyebabkan kematian-nya. Budak itu sangat ketakutan, tetapi Qais justru menghiburnya dengan megatakan, "Jangan takut, engkau bebas karena Alloh".
Syah Al-Kirmani berkata, "Tanda akhlak yang baik diantaranya menahan penderitaan dan menangggung siksaan." RasuluLloh SAWW bersabda, "
انكم لن تسعواالناس باموالكم فسعواهم ببسط الوجه وحسن الخلق
"sesungguhnya kamu tidak akan bisa memuaskan manusia dengan hartamu, puaskanlah mereka dengan kecerahan wajah dan bagusnya budi pekerti".
Ditanyakan kepada Dzunun Al-Mishri, "Siapakah yang paling menggelisahkan manusia ?"
"Yang paling buruk akhlaknya".
Wahab mengatakan bahwa tidaklah seseorang yang menjalankan akhlak yang baik selama 40 hari melainkan Alloh SWT akan menjadikan akhlak itu sebagai karakternya.
Firman Alloh SWT berfirm :
وثيابك فطهر
"Dan pakaianmu maka sucikanlah".
Dikatakan bahwa ada seorang dari jama'ah haji memiliki seekor kambing. Dia melihatnya sedang terpancang di atas tiga tombak.
"Siapa yang melakukan ini ?"
"Saya," Jawab seorang anak budak.
"Kenapa engkau lakukan ini ?"
"Untuk menjagamu ". Kata budak itu.
"Tidak, bahkan untuk menutupi perkaramu. Pergi dan engkau kini bebas." Jawabnya.
Ditanyakan kepada Ibrahim bin Adham,"Apakah egkau pernah bahagia di dunia ?"
"Ya..dua kali".
"Apa saja itu ?"
"Pertama, ketika saya sedang duduk, datang seseorang mengencingi saya. Kedua, ketika saya duduk, datang seseorang dan langsung menampar saya".
Adalah Uwais Al-Qarni apabila terlihat oleh anak-anak, maka mereka akan melempirnya dengan batu.
"Anak-anak, "Sapanya lembut.
"Jika kalian hendak melampariku dengan batu, saya mohon lemparilah dengan batu-batu yang kecil, agar lutuku tidak pecah sehingga menghalangiku dari mengerjakan shalat".
Ada seorang lelaki bengis mencaci maki Ahnaf bin Qais. Lelaki itu terus mengikutinya sambil mengeluarkan kata-kata kotor sampai dia malu sendiri dan berhenti dari mencaci maki.
"Wahai kawan ," Sapa Ahnaf.
"Jika masih tersisa sesuatu di hatimu, maka muntahkanlah sekarang saja agar para ulama fikih tidak mendengarmu sehingga mereka akan mengadilimu".
Ditanyakan pada Hatim Al-Asham," Apakah tiap orang memiliki tanggungan ?"
"Ya, kecuali dirinya," jawabnya.
Dikisahkan bahwa Khalifah Ali bin Abi Thalib RA memanggil seorang budak dan budak itu tidak menyahutinya. Beliau mengulanginya sampai tiga kali dan tetap tidak mendapat respon. Khalifah melangkah mendekat dan melihat budak itu sedang berbaring enak-enakan.
"Apakah kamu tidak mendengar wahai bujang ?"
"Mendengar," Jawabnya ringan.
"Apa yang membuatmu tidak menyahut ?"
"Saya merasa aman dari ancaman siksamu, karena itu saya bermalas-malasan."
"Pergilah, engkau bebas karena Alloh". Jawab Khalifah Ali RA.
Diriwayatkan bahwa Ma'ruf Al Kharqi turun ke sungai Daljah untuk mengambil wudhu. Dia letakkan mushaf dan jubah luarnya, tiba-tiba datanglah seorang wanita dan mengambil dua barang itu. Ma'ruf melihat lalu membuntutinya.
"Wahai saudariku, "sapanya. "Saya adalah Ma'ruf AL-Kharqi. Anda jangan takut sebab anda tidak bersalah. Apakah engkau memiliki anak yang bisa membaca ?"
"Tidak."
"Sudah menikah ?"
"Belum"
"Kalau begitu, kembalikan mushaf saya dan ambilah baju itu".
Sekelompok pencuri memasuki rumah Syaikh Abu AbduRrahman As-Sulami dengan terang-terangan. Mereka berlagak seolah – olah tidak merasa takut. Mereka mengambil semua apa yang dijumpainya. Abu AbduRrahman mengetahuinya, namun membiarkan mereka pergi dengan begitu saja. Pada hari berikutnya dia keluar dan menemukan sesuatu yang berkaitan dengan kasus pencurian.
"Ketika saya melewati pasar,"jelasnya..,"saya melihat jubah saya pada seseorang yang sedang menawarkannya. Saya segera berpaling dan tidak menoleh kepadanya."
Ahmad Al-Jariri berkata, "Saya kembali dari Makkah dan segera mendahului Al-Junaid agar dai tidak menyulitkan saya (melayaniku sehingga membuatku sibuk membalasnya). Saya ucapkan salam kepadanya kemudian meninggalkannya dan terus beranjak pulang. Ketika saya shalat subuh di masjid, tiba-tiba dia berada di shaf belakang saya. Selesai shalat, saya berkata kepadanya, "Kemarin saya mendahuluimu supaya engkau tidak menyulitkan saya".
Dia menjawab, "Itu adalah keutamaanmu dan ini adalah hakmu".
Abu Hafsh pernah ditanya mengenai akhlak lalu dijawab, "Akhlak adalah apa yang dipilihkan Alloh SWT untuk Nabi-Nya sebagaimana yang tertulis di dalam firman-Nya :
خذ العفو وأمر بالعرف وأعرض عن الجاهاين
"Jadilah pemaaf, dan suruhlah orang berbuat kebajikan, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh".
Disamping itu, banyak pendapat yang memberikan makna akhlak dalam beberapa pengertian. Ada yang mengartikan sebagai keberadaan seseorang yang dekat dengan manusia dan disertai keterasingannya dengan hal-hal yang berlaku di tengah-tengah kehidupan mereka. Ada juga yang mengartikan sebagai penerimaan sesuatu yang mendatangi dari kesia-siaan makhluk dan kepastian Al-Haqq, tanpa merasa jemu dan gelisah.
Abu Dzar Al-Ghifari datang ke kolam hendak mengambil air untuk air minum untanya. Akan tetapi sebagian pengambil air yang lain menyerobotnya dengan kasar. Abu Dzar hanya bisa memandang , lalu duduk kemudian berbaring. Seseorang yang melihatnya heran dan bertanya, kemudian dijawab, "Sesungguhnya RasuluLloh SAWW memerintahkan kita jika seseorang marah, maka hendaknya ia duduk. Jika dengan duduk tidak juga hilang, maka hendaklah ia berbaring".
Disebutkan di dalam kitab injil, "Hamba-Ku, ingatlah Aku ketika engkau marah, maka Aku akan mengingatmu ketika Aku marah".
Luqman bertanya kepada anaknya," Tidak akan diketahui tiga hal kecuali dalam tiga hal : Kasihan ketika marah, keberanian ketika dalam perang, persaudaraan ketika dibutuhkan". Nabi Musa AS pernah mengadu kepada Alloh SWT, "Tuhan saya memohon kepada Engkau untuk mengatakan kepadaku apa yang tidak ada pada diriku". Alloh mewahyukan kepadanya, "Engkau tidak melakukan demikian untuk-Ku, maka bagaimana Saya memperlakukanmu ?"
Yahya bin Ziad Al-Haritsi memilki seorang pelayan yang sangat buruk akhlaknya. Tetangganya heran lalu menanyakan kepadanya, "Mengapa engkau pertahankan pelayan itu,"
"Supaya saya bisa mengajarinya sifat asih," Jawabnya.
Firman Alloh SWT :
واصبغ عليكم نعمه ظاهراوباطنا
"dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya yang lahir maupun yang bathin".
Dalam ayat ini terkandung pengertian bahwa nikmat lahir adalah kelurusan akhlak, sedangkan nikmat bathin adalah kejernihan budi pekerti. Al Fudhail bin Iyadh mengatakan, "berkawan dengan orang durhaka yang berakhlak baik lebih saya sukai daripada berkawan dengan orang ahli ibadah yang berakhlak buruk". Dikatakan bahwa akhlak yang baik adalah kemampuan memikul sesuatu yang dibenci dengan menggantinya dengan kebaikan yang ia tebarkan.
Diriwayatkan bahwa Ibrahim bin Adham keluar melewati segerombolan tentara. Seseorang dari mereka menemuinya dan berkata, "Dimana tempat hiburan ?" Ibrahim menunjuk ke arah kuburan. Wajah tentara itu memerah. Dia tersinggung dan langsung memukul kepada Ibrahim. Setelah dia pergi, seseorang memberitahukan tentara itu bahwa yang dipukulnya adalah Ibrahim bin Adham seorang ulama sufi yang zuhud yang berasal dari khurasan. Tentara itu terkejut dan ia menyesali perbuatannya dan langsung pergi menyusul Ibrahim.
"Tuan maafkanlah saya, saya menyesal telah memukul tuan"
"Ketika engkau memukul saya." Kata Ibrahim, "Saya memohonkan kepada Alloh surga untukmu".
"Mengapa ?"
"Saya tahu bahwa saya memasukkan perangkap terhadapmu. Saya tidak ingin mendapatkan bagianku yang baik darimu dan bagianmu yang buruk dariku".
Diceritakan bahwa Said bin Ismail Al-Hirri diundang seorang laki-laki untuk jamuan makan. Ketika sampai di depan pintu rumahnya, lelaki itu berkata, "Wahai Ustaz, bukan sekarang waktunya. Saya menyesal tidak bisa mengabarimu terlebih dahulu".
Abu Said pulang, dan sebentar kemudian kembali lagi. Ketika tiba didepan pintu, tuan rumah buru-buru keluar sambil menyapa,"Maaf Ustaz, undangan belum dimulai. Saya menyesal belum sempat mengabari ustaz. Datanglah sejam kemudian".
Abu Said berdiri mohon pamit kemudian pergi. Pada saat yang dijanjjikan tiba, dia berangkat dan ketika sampai di depan pintu, ia memperoleh jawaban yang sama sepeti semula. Dia pulang, datang lagi dan kembali pulang sampai bebeapa kali. Lelaki itu kagum menyaksikan ketabahan Abu Said. Dai menyesali sikapnya.
"Wahai Ustaz, saya hanya ingin mengujimu," Kata lelaki itu seraya menyambutnya dengan rasa hormat.
"Jangan kau memujiku atas dasar perilakuku yang kau teukan seperti anjing. Anjing jika dipanggil dia datang, dan jika dicegah dia pergi." Abu Said kemudian pergi seolah tidak terjadi apa-apa.
Abu Said ketika melewati sebuah gang besar, seseorang menumpahkan abu kotor dari balkon rumahnya. Teman-temannya yang melihatnya marah. Mereka mencaci maki orang yang melempar abu yang kotor tadi.
"Janganlah kalian mengatakan sesuatu. Barang siapa yang patut mendapat siksaan neraka, lalu menerima lemparan abu itu dengan baik, maka baginya tidak boleh marah". Katanya.
Dikatakan bahwa ada seorang fakir yang singgah di rumah Ja'far bin Hanzalah. Ja'far melayaninya dengan baik. Orang fakir itu berkata,"Sebaik lelaki adalah engkau jiak saja engkau bukan orang yahudi".
"Akidahku tidak akan menodai apa yang engkau butuhkan untuk dilayani. Mintalah kesembuhan pada dirimu sendiri, sedang diriku butuh hidayah".
Diceritakan bahwa AbduLlah seorang penjahit, menenerima jahitan dari seorang Majusi. Setelah selesai, orang majusi tersebut membayarnya dengan uang palsu dan AbduLlah menerimanya. Bertepatan dia hendak keluar karena suatu urusan, majusi tadi datang lagi untuk membayar ongkos jahitan yang kesekian kalinya. Murid AbduLlah yang menerimanya mengetahui bahwa yang diterimanya itu adalah uang palsu maka dia menolaknya. Bahka orang majusi itu diserahkan kepada seorang peneliti uang. Beberapa saat kemudian AbduLlah datang dan bertanya kepada muridnya, "Mana baju majusi itu ?"
Murid itu menceritakan kepada sang guru apa yang telah terjadi. Tentang kebohongannya, kepalsuannya, penolakannya, dan tindakannya kepada majusi itu.
"Buruk sekali apa yang telah engkau lakukan !. sudah berapa kali dia memperlakukan saya seperti itu, dan saya sabar menerimanya. Uang palsu itu saya lemparkan ke sumur agar tidak menumbulkan bahaya kepada orang lain." Tegur AbduLlah.
Akhlak yang buruk menyempitkan hati pemiliknya karena tidak memperluaskan tempat selain yang dikehendaknya sebagaimana tempat yang sempit yang tidak tidak memberi keleluasaan selain pemiliknya. Akhlak yang baik tidak akan menjadikan engkau berubah sebab karena seseorang yang berdiri di shaf di sampingmu. Sedangkan keburukan akhlak terdapat pada kejatuhan pandanganmu pada keburukan akhalak terhadap selainmu. RasuluLloh SAWW pernah ditanya tentang kesialan lalu dijawab," Keburukan akhlak".
Abu Hurairah RA menceritakan, "Seorang sahabat bertanya"
"Ya RasuluLloh, mohonkanlah kepada Alloh agar kita dapat menghancurkan orang-orang musyrik." Beliau menjawab, "Saya diutus untuk menebarkan kasih sayang, bukan siksaan".
Tingkat Pendakian para Salik
1. Taubat.
Allah SWT berfirman, “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”. (QS An Nur 31).
Sahabat Anas bin Malik berkata, saya pernah mendengar RasuluLlah SAW bersabda, “seseorang yang bertaubat dari dosanya seperti orang yang tidak punya dosa, dan jika Allah mencintai seorang hamba, pasti dosa tidak akan membahayakannya”.
Kemudian beliau membaca ayat: InnaLlaaha yuhibbuttawwabiina wayuhibbul mutathohhiriin yang artinya, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang suci. (QS. Al Baqarah 222)
Tiba tiba seorang sahabat bertanya, “Yaa RasuluLlah, apa tanda taubat ?” Oleh beliau SAW dijawab, “Menyesal”.
Anas bin Malik juga pernah meriwayatkan, bahwa RasuluLlah SAW bersabda, “Tidak ada sesuatu yang lebih dicintai Allah melebihi seorang pemuda yang bertaubat”.
Taubat adalah awal tempat pendakian orang-orang yang mendaki dan maqam pertama bagi sufi pemula. Hakikat taubat menurut arti bahasa adalah “kembali”. Kata “taba” berarti kembali, maka taubat maknanya juga kembali. Artinya kembali dari sesuatu yang dicela dalam syariat menuju kepada yang dipuji dalam syari’at. Dalam suatu kesempatan Nabi SAW menjelaskan, “An-nadmu Taubat” yang artinya, “penyesalan adalah taubat”.
Orang-orang yang berpegang teguh pada prinsip-prinsip ahli sunnah mengatakan, “agar taubat diterima diharuskan memenuhi tiga syarat utama yaitu menyesali atas pelanggaran-pelanggaran yang pernah dijalaninya, meninggalkan jalan licin / kesesatan pada saat melakukan taubat, dan berketetapan hati untuk tidak mengulangi pelanggaran pelanggaran serupa”.
“Hadust yang menyebutkan penyesalan adalah taubat, merupaakn konsep globalnya”, demikian menurut para sufi. Sebagaimana sabda Beliau SAW tentang haji, bahwa : Al-Hajju ‘arafah Haji adalah ‘Arafah.
Proses pertama yang mengawali taubat adalah keterjagaan hati dari keterlelapan lupa dan kemampuan salik (orang yang berusaha menuju Hadirat Allah) melihat sesuatu pada dirinya yang pada hakekatnya yang merupakan bagian dari keadaannya yang buruk. Proses awal yang mengantarkan pada tahapan ini tidak lepas dari peran taufik. Dengan taufik Allah, salik dapat mendengarkan suara hati nuraninya tentang larangan-larangan Al-Haqq yang dilanggarnya. Hal ini sesuai dengan apa yang telah dipesankan Allah dalam hadist RasuluLlah SAW, “Inna fil jasadi lamudhghotan idza sholuhat sholuha jamii’ul jasadi, faidzaa fasadad fasada jamii’ul badani. Alaa wahiyal qalbu” yang artinya sesungguhnya di dalam tubu terdapat segumpal daging jika ia baik, maka akan baiklah seluruh jasad, dan apabila ia rusak, maka akan rusaklah seluruh jasad. Ingatlah dia adalah hati.
Jika dengan hatinya, seseorang melihat keburukan-keburukan perilakunya dan melihat kenyataan kenyataan negatif di dalamnya, maka dalam sanubarinya timbul kehendak untuk taubat, tekad untuk melepaskan diri dari semua perilaku buruk, dan Al-Haq (Allah) akan menyongsongnya dengan siraman cahaya keteguhan, tarikan dalam rengkuhan pengembalian, dan penyiapan pada sebab-sebab yang mengantarkannya para merealisasi taubat. Dalam realisasi ini, yang pertama-tama adalah hijrah atau meninggalkan kawan-kawan yang buruk. Karena kalau tidak, mereka akan membawanya pada penolakan tujuan taubat serta mengacaukan konsentrasi dan tekadnya. Upaya demikian ini tidak akan sempurna kecuali menatapi secara terus menerus musyahadah (kesaksian dan pengakuan) atas dosa-dosanya yang membuat kecintaannya untuk bertaubat terus bertambah dan motivasi – motivasinya mampu mendesak untuk lebih menyempurnakan tekad taubatnya dalam bentuk penguatan rasa takut dan harap.
Ketika hali ini terjadi, keruwetan-keruwetan keburukan perilaku yang telah menggumpal di dinding-dinding sanubarinya mulai mencair dan memuai, sikapnya secara tegas menunjukkan pengambilan jarak dari larangan-larangan agama, dan kecenderungan mengikuti hawa nafsu dengan keras dikekangnya. Akhirnya, semua jalan yang mengantarkannya pad kesesatan ditinggalkan, tekad untuk tidak kembali pada dosa-dosa serupa di masa yang akan datang lebih diteguhkan, kemudian waktupun berjalan mengikuti dorongan perwujudan taubat itu. Sesungguhnya realisasi taubat yang sesuai dengan tekadnya adalah penetapan diri pada jalan yang tepat, dan jika upaya taubat sesekali mengalami kemunduran maka hal seperti inipun jumlahnya banyak. Karena itu tidak perlu berputus asa, dan justru peningkatan kualitas taubat harus diperkuat.
Allah Ta’ala berfirman, “Likulli ajalin kitaab” (QS. Ar-Ra’d 38). yang artinya “sesungguhnya setiap ajal mempunyai ketetapan”.
Abu Sulaiman Ad-Darani memngisahkan pengalaman spiritualnya, “Saya berkali-kali datang ke majlis Qashi (seorang ulama sufi). Apda kali pertama nasihat-nasihatnya membekas di hati saya. Namun ketika saya beranjak pulang, tidak satupun nasihatnya yang masih membekas. Esoknya saya datang lagi dan mendengarkan ceramah-ceramahnya. Aku cukup terpengaruh dengan wejangan-wejangannya hingga bertahan sampai di tengah perjalanan pulang, setelah itu hilang. Pada kali ke tiga , fatwanya sngat berpengaruh dan sangat menawan hati saya hingga saya sampai di rumah. Sesampainya di rumah saya langsung menghancurkan alat-alat yang menyebabkan penyimpangan-penyimpangan perilaku, kemudian saya bersiteguh menetapi jalan lurus. Kisah ini akhirnya saya sampaikan kepada Yahya bin Mu’adz dan olehnya dikatakan, “seekor biring kecil telah menangkap segerombolan burung karaki (bangau)’’’. Beliau memaksudkan burung kecil pada Qashi, dan burung karaki pada Abu Sulaiman Ad-Daaraani. Dlam tema yang hampir serupa, Abu Hafs Al-Haddad berserita, “Suatu kali saya berhasil meninggalkan perbuatan demikian, lalu mengulanginya lagi, kemudian meninggalkannya lagi, dan setelah itu saya tidak mengulanginya lagi”.
Diceritakan bahwa Abu Amr bin Najid dalam permulaan sufinya diawali dari kehadirannya di majlis Abu Utsman. Nasihat-nasihat yang diterimanya sangat membekas di hatinya sehingga ia bertobat. Akan tetapi sebelumnya ia pernah mendapatkan cobaan penyakit demam. Penyakit ini sampai membuatnya menderita sehingga ia lari dari majelis Abu Utsman. Setiap kali melihatnya, segera ia menyingkir dan memperlambat kehadirannya di majlis. Suatu hari Abu Utsman bermaksud menyambut kedatangannya, namun Abu Amr berusaha menghindari dan melewati jalan lain yang tidak biasa dilalui orang. Abu Utsman rupanya tahu, kemudian ia mengikutinya dari belakang hingga bertemu.
“Wahai anakku,” katanya. “kamu tidak dapat mengawani orang yang mencintaimu kecuali terpelihara. Sesungguhnya yang memberimu manfaat dalam keadaanmu yang demikian adalah Abu Utsman”.
Kemudian Abu Amr bin Najid bertobat dan kembali pada kehendaknya semula serta berjalan di dalamnya.
Syaikh Abul Qasim Al-Qusyairi berkata, “Saya pernah mendengar Tuan Guru Abu Ali Ad-Daqaaq semoga Allah merahmatinya, bercerita “Seseorang murid bertobat, kemudian ia menderita penyakit demam. Suatu waktu ia mencoba berpikir untuk berhenti. Jika tetap bertobat, maka apa hikmahnya ? begitu pikirnya. Tiba-tiba suara gaib menasehatinya, ‘hai fulan, jika kamu taat kepadaku maka aku pasti menghargaimu. Kemudian kamu meninggalkanku yang membuatku tidak mengurusimu, dan jika kamu kembali lagi kepadaku, pasti aku menerimamu lagi’. Lalu pemuda itu kembali lagi pada kehendaknya semula (untuk bertobat) dengan mantap dan berhasil melaluinya dengan baik”.
Jika salik / (orang yang belajar menuju ke hadirat Allah) meninggalkan sehgala kemaksiyatan, maka gumpalan-gumpalan nafsu yang mendorong untuk selalu bermaksiyat akan terlepas dari hatinya. Dan kemudian hatinya berketatan untuk tidak kembali kepada kemaksiyatan-kemaksiyatan sejenisnya, maka penyesalan yang sesungguhnya mulai menjernihkan hatinya. Dia menjadi manusia yang senantiasa menyesali atas apa yang pernah diperbuatnya. Sepak terjangnya, perilakunya, dan keadaan-keadaan dirinya mencerminkan rasa sesal, galau dan sedih. Maka dengan demikian, dia telah benar-benar menjalani taubat yang sempurna. Mujahadahnya benar. Kesungguhannya untuk menjadi orang baik benar-benar dapat dipercaya. Jika sudah mencapai tingkat demikian, maka sikap pergaulannya dengan manusia akan digantikannya dengan sikap uzlah. Dia akan menjadi orang yang senang menyendiri, menjauhi pergaulan yang tidak membawa kebaikan, memisahkan diri dari pergaulan-pergaulan bersama orang-orang yang berperilaku buruk. Waktu siang dan malamnya dipakai untuk bersedih, meratapi kesalahan-kesalahannya, dan menjadikan hatinya bersungguh-sungguh untuk bertobat kepada Allah. Air mata penyesalannya akan terus mengalir menggenangi dan membasahi luka hatinya, menghapus jejak-jejak dosa yang ditinggalkannya, dan mengobati jiwa nya yang duka.
Hal ini diketahui dengan kekusutan hatinya adn ditandai dengan kelemahan fisiknya. Mukanya sayu. Tubuhnya lemah tanpa gairah. Keadaannya asngat kurus. Seleranya akan kenikmatan dunia menurun. Ahtinya tidak tertarik kepada apapun selain kepada Allah. Dan yang demikian itu terus berlangsung menyelimuti hatinya sampai mendapatkan keridhaan Allah dan orang-orang yang dimusuhinya. Dia akan memasrahkan dirinya kepada orang yang dianiaya untuk memperoleh keridhaannya. Dia tidak akan keluar dari tekadnya sebelum benar-benar mendapatkan maafnya. Sesungguhnya tobat yang berkaitan dengan pelanggaran dosa atas hak manusia mengharuskan salik – orang yang belajar mendekatkan diri kepada Allah melalui soerang Syaikh- untuk meminta keridhaan orang yang pernah dianiayannya sebelum meminta keridhaan Allah. Jika tangannya mampu mengembalikan hak-haknya , maka salik wajib mengembalikannya, atau meminat kemurahan haitnya supaya menghalalkan dan membebaskan dirinya dari tuntutan kewajiban membayar tagihan hak. Jika kedua-duanya tidak dapat diperoleh, maka hatinya harus tetap berkeyakinan, bersikukuh dan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk keluar dari belenggu tuntutan tagihan hak-hak orang yang pernah dianiayanya, dengan disertai harapan dan penghadiran diri untuk kembali kepada Allah dengan curahan doa yang sungguh-sungguh untuk dirinya dan untuk orang yang pernah dianiayanya.
Syaikh Abul qasim al Qusyairi berkata, “Saya pernah mendengar Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq ra. Berkata, ‘Tobat ada tiga bagian, pertama tobat (kembali), kedua inabah (berulang-ulang kembali), ketiga aubah (pulang). Tobat bersifat permulaan, sedangkan aubah adalah akhir perjalanan. Dan inabah tengah-tengahnya”.
Setiap orang yang tobat karena takut siksaan, maka dia adalah pelaku tobat. Orang tobat karena mengharapkan pahala adalah pelaku tobat yang mencapai tingkatan inabah. Sedangkan orang tobat yang termotivasi oleh sikap hati-hati dan ketelitian hatinya bukan karena mengharapkan pahala atau takut pada siksa Allah, maka ia adalah pemilik aubah”.
Dikatakan pula bahwa tobat adalah sifat orang-orang mukmin. Allah berfirman :
“Watuubuu ilaLlaahi jamii’a ayyuhal Mukminuuna la’allakum tuflihuun” yang artinya, “Dan bertaubatlah kamu sekallian kepada Allah wahai orang-orangyang beriman agar engkau semua menjadi orang-orang yang beruntung”. (QS. An Nuur 31)
Sedangkan inabah merupakan sifat para Wali Allah atau orang-orang yang dekat dengan Allah sebagaimana yang difirmankanNya :
“Man khosyiyaRrohmaana bil ghoibi wa jaa-a biqolbim muniib” yang artinya ” (Yaitu) orang-orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemuranh sedang Dia tidak kelihatan, dan dia datang dengan hati yang taubat”. (QS. Qaf 33)
Adapun Aubah adalah sifat para Nabi dan Rasul .
“Ni’mal ‘Abdu Innahul Awwaab” yang artinya, “Dialah (Nabi Ayyub as.) adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya Ia amat ta’at kepaad Tuhannya”. (QS. Shad 44)
Saya –Imam Al Qusyairi ra- pernah mendengar Imam Al-Junaid berkata, “Tobat ada tiga makna, penyesalan kedua, tekad untuk meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah Ta’ala, ketiga berusaha memenuhi hak-hak orang yang pernah dianiaya”.
Sahal bin Abdullah mengatakan, “Tobat adalah meninggalkan penundaan (tidak mengulur waktu dalam bertobat).
Imam Al-Junaid pernah ditanya seseorang tentang tobat lalu dijawab, “Hendaknya kamu melupakan dosamu”.
Oleh Abu Nashr As-Siraj , dua pernyataan di atas dikomentari. Menurutnya bahwa Sahal dengan pernyataannya menunjukkan beberapa keadaan orang-orang yang hendak bertobat yang sesekali terhalangi proses tobatnya. Sedangkan Al-Junaid memaksudkan pada tobat orang-orang yang sungguh-sungguh, yaitu ahli hakikat. Mereka ini ketika bertobat tidak lagi mengingat dosa-dosanya karena kehadiran keagungan Tuhan dan keberlangsungan dzikirnya kepadaNya yang senantiasa mendominasi hatinya.
Dzunun Al Mishri pernah ditanya tentang tobat kemudian di jawab, “Tobat orang awam dikarenakan dosa, sedang tobat orang khusus disebabkan karena lupa”. Ucapan yang demikian dopertegas oleh An-Nuuri dengan pernyataannya bahwa tobat adalah proses pelaksanaan tobat dari segala sesuatu selain Allah.
Abdullah At-Tamimi mengatakan, “Ada yang membedakan antara orang yang tobat dari kesalahan, bertobat darin kelupaan, dan bertobat dari memandang kebaikan yang diperbuatnya”.
“tobat nasuha kata Al-wasithi adalah, “Tidak akan meninggalkan bekas kemaksiyatan pada pemiliknya, baik yang ersifat samar maupun yang jelas”.
“Tuhanku”, kata Yahya bin Muadz, “saya tidak mengatakan bahwa saya tobat. Tidak juga mengulang sesuatu yang saya ketahui dari akhlakku dan tidak menyimpan upaya meninggalkan dosa terhadap sesuatu yang saya ketahui dari kelemahanku”. Sedangkan permohonan ampun tanpa melepaskan dosa, menurut Dzun Nun Al-Mishri adalah tobatnya para pendusta.
Al-Busyanji pernah ditanya tentang tobat, lalu dijawab, “Jika kamu mengingat dosa kemudian tidak merasakan manisnya ketika mengingatnya, maka demikian itu adalah taubat”.
Kemudian makna ini lebih diperjelas oleh Dzun Nun Al-Mishri, “Hakikat taubat menjadikan kamu keluasan bumi ini terasa sempit, sehingga tidak ada tempart menetap bagimu. Kemudian jiwamu merasa sempit. Hal ini sebagaimana yang difirmankan Allah dalam kitabNya yang Mulia :
“Hatta idzz dhooqot ‘alaihimul ardhu bimaa rohubat wadhooqot ‘alaihim anfusuhum wadhonnuu allaaa maljaa-a minaLlaahi illaa ilaih tsumma taaba ‘alaihim liyatuubuu innalLaaha Huwattawwaaburrohiim”
Yang artinya, “hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (terasa) oleh mereka, dan mereka menyangka (mengetahui) sesungguhnya tidak ada tempat lari dari siksa Allah melainkan kepadaNya saja. Kemudian AllaH menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah, Dialah yang Maha menerima taubat”. (QS. At Taubah 118)
Ibnu Atha’ mengatakan, “Taubat ada dua, taubat inabah dan taubat istajabah . Tobat inabah adalah taubat seorang hamba yang takut akan siksaanNya. Sedangkan taubat istajabah adalah merupakan bentuk taubat seorang hamba yang malu terhadap kemuliaanNya”.
“Mengapa seseorang yang menjalankan taubat membenci dunia ?” tanya seorang murid kepada Abu Hafs.
“Karena dunia tempat berlangsungnya perbuatan dosa”. Jawabnya.
“Bukankah udnia merupakan tempat yang dimuliakan Allah yang di dalamnya taubat bisa dilaksanakan ?” tanya seseorang menyela.
“Kenyataan dosa di atasnya adalahsesuatu yang pasti. Sementara penerimaan taubat di dalamnya masih bersifat mungkin” tegas Hafsh.
Karena itu tidak semua taubat memiliki tingkat yang sama. Masing-masing memiliki kwalitas dan derajat sendiri-sendiri. Taubat orang awam dan taubat orang khusus berbeda, dan taubat orang awam dan taubat pendusta juga berbeda. Entang maslah yang terakhir ini, sekelompok ulama’ sufi pernah menjelaskan bahwa taubat para pendusta hanya terjadi di permukaan mulut saja. Artinya mereka melakukan taubat hanya sebatas mengucapkan Istighfar, yaitu permohonan ampun kepada Allah.
“Tidak ada sesuatupun yang dimiliki seorang hamba dalam taubatnya” jelas Abu Hafs kepada penanya, “karena taubat hanya untukNya, bukan dariNya”.
Allah pernah memberikan wahyu kepada Nabi Adam AS tentang taubat, “Hai Adam” kata Allah “egkau telah mewriskan anak cucumu kepayahan adn cobaan. Sedangkan Saya mewariskan taubat untuk mereka. Barang siapa yang berdo’a kepadaKu, pasti Saya menyambutnya, sebagaimana menyambutmu. Hai anak Adam, Saya mengumpulkan orang-orang yang bertaubat dari kubur mereka dalam keadaan gembira dan tertawa kepadaKu. Doa mereka terkabulkan”.
Pernah seorang laki-laki datang ke rumah Rabi’ah Al ‘Adawiyah RA, dia mengadukan perbuatan-perbuatan buruknya, “sesungguhnya saya banyak berbuat dosa dan maksiyat. Kalau saya taubat apakah Allah akan menerima saya ?”
“Tidak ! bahkan seandainya Dia menerimamu, pasti saya bertaubat”.
Ketahuilah sesungguhnya Allah berfirman, “InnaLlaaha yuhibbuttawwabiina wayuhibbul mutathahhiriin” yang artinya, “Sesungguhnya Allah mencinati orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang mensucikan dirinya”. (QS. Al-Baqarah 222)
Barang siapa yang mendekati tempart yang menggelincirkan maka jelas itu kesalahannya sendiri. Jika taubat, maka diterimanya masih meragukan. Apalagi jika syarat dan haknya merupakan hak bagi kecintaan Al-Haq. Seseorang yang melakukan maksiyat sehingga di dalam sifat-sifatnya ditemukan tanda-tanda kecintaannya kepada Allah semakin menjauh, maka dia wajib taubat dan terus menerus menghancukan kemaksiyatan dengan disertai istighfar dan pembebasan diri dari dosa. “Sesungguhnya ketakutan itu mengingatkan kepada kematian”, kata ahli sufi. Karfena itu benar sekali jika Allah berfirman, “Qul Inkuntum tuhibbunaLlaaha fattabi’uuNy yuhbibkumuLlaah”. Yang artinya, “Katakanlah jika kamu sekalian mencintai Allah, maka ikutilah aku (Nabi), dengan demikian maka Allah akan mencintaimu”. (QS. Ali Imran 31)
Diantara proses ritual perjalanan taubat Nabi SAW adalah melanggengkan Istighfar. RasuluLlah SAW bersabda, “Innahuu layughaanu ‘alaa qalByy, fa AstaghfiruLlaaha fil yaumi sab’iina marrah” Yang artinya, “sesungguhnya Dia mmenutupi hatiku, maka Saya memohon ampun kepada Allah 70 kali dalam sehari”.
Yahya bin Muadz mengatakan, “Tergelincir sekali setelah taubat lebih buruk daripada istighfar 70 kali sebelumnya”.
Menurut keterangan Abu Utsman tentang fiman Allah, “Inna ilaiNaa iyaabahum” yang artinya, “sesungguhnya kepada Kamilah mereka kembali”. (QS. Al-Ghaatsiyah 25)
Ayat ini menunjukkan arti “pengembalian mereka” meski mereka telah berkali-kali keliling dalam penentangan.
Syaikh Abul Qasim Al Qusyairi berkata, “saya juga pernah mendengar Abu Amr Al-Anmathi bercerita, “seorang menteri yang bernama Ali bin Isa sedang menunggang kuda kebesarannya dalam arak-arakan yang sangat megah. Pawai ini sempat membuat masyarakat terkagum-kagum. Mereka bertanya-tanya siapakah gerangan mereka itu ? Tiba-tiba seorang wanita yang sedang berdiri di pinggir jalanan pawai menyeletuk, ‘sampai kapan kalian mengatakan engan bertanya-tanya siapakah dia, siapakah dia ? Dia adalah hamba yang terjatuh dari pandangan Allah dan Allah mengujinya dengan sesuatu yang kalian saksikan itu’. Rupanya Ali mendengar sindiran itu. Dia langsung kembali pulang, kemudian mengundurkan diri dari jabatan menteri dan pergi ke Makah untuk tinggal di sana.”
Allah SWT berfirman, “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”. (QS An Nur 31).
Sahabat Anas bin Malik berkata, saya pernah mendengar RasuluLlah SAW bersabda, “seseorang yang bertaubat dari dosanya seperti orang yang tidak punya dosa, dan jika Allah mencintai seorang hamba, pasti dosa tidak akan membahayakannya”.
Kemudian beliau membaca ayat: InnaLlaaha yuhibbuttawwabiina wayuhibbul mutathohhiriin yang artinya, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang suci. (QS. Al Baqarah 222)
Tiba tiba seorang sahabat bertanya, “Yaa RasuluLlah, apa tanda taubat ?” Oleh beliau SAW dijawab, “Menyesal”.
Anas bin Malik juga pernah meriwayatkan, bahwa RasuluLlah SAW bersabda, “Tidak ada sesuatu yang lebih dicintai Allah melebihi seorang pemuda yang bertaubat”.
Taubat adalah awal tempat pendakian orang-orang yang mendaki dan maqam pertama bagi sufi pemula. Hakikat taubat menurut arti bahasa adalah “kembali”. Kata “taba” berarti kembali, maka taubat maknanya juga kembali. Artinya kembali dari sesuatu yang dicela dalam syariat menuju kepada yang dipuji dalam syari’at. Dalam suatu kesempatan Nabi SAW menjelaskan, “An-nadmu Taubat” yang artinya, “penyesalan adalah taubat”.
Orang-orang yang berpegang teguh pada prinsip-prinsip ahli sunnah mengatakan, “agar taubat diterima diharuskan memenuhi tiga syarat utama yaitu menyesali atas pelanggaran-pelanggaran yang pernah dijalaninya, meninggalkan jalan licin / kesesatan pada saat melakukan taubat, dan berketetapan hati untuk tidak mengulangi pelanggaran pelanggaran serupa”.
“Hadust yang menyebutkan penyesalan adalah taubat, merupaakn konsep globalnya”, demikian menurut para sufi. Sebagaimana sabda Beliau SAW tentang haji, bahwa : Al-Hajju ‘arafah Haji adalah ‘Arafah.
Proses pertama yang mengawali taubat adalah keterjagaan hati dari keterlelapan lupa dan kemampuan salik (orang yang berusaha menuju Hadirat Allah) melihat sesuatu pada dirinya yang pada hakekatnya yang merupakan bagian dari keadaannya yang buruk. Proses awal yang mengantarkan pada tahapan ini tidak lepas dari peran taufik. Dengan taufik Allah, salik dapat mendengarkan suara hati nuraninya tentang larangan-larangan Al-Haqq yang dilanggarnya. Hal ini sesuai dengan apa yang telah dipesankan Allah dalam hadist RasuluLlah SAW, “Inna fil jasadi lamudhghotan idza sholuhat sholuha jamii’ul jasadi, faidzaa fasadad fasada jamii’ul badani. Alaa wahiyal qalbu” yang artinya sesungguhnya di dalam tubu terdapat segumpal daging jika ia baik, maka akan baiklah seluruh jasad, dan apabila ia rusak, maka akan rusaklah seluruh jasad. Ingatlah dia adalah hati.
Jika dengan hatinya, seseorang melihat keburukan-keburukan perilakunya dan melihat kenyataan kenyataan negatif di dalamnya, maka dalam sanubarinya timbul kehendak untuk taubat, tekad untuk melepaskan diri dari semua perilaku buruk, dan Al-Haq (Allah) akan menyongsongnya dengan siraman cahaya keteguhan, tarikan dalam rengkuhan pengembalian, dan penyiapan pada sebab-sebab yang mengantarkannya para merealisasi taubat. Dalam realisasi ini, yang pertama-tama adalah hijrah atau meninggalkan kawan-kawan yang buruk. Karena kalau tidak, mereka akan membawanya pada penolakan tujuan taubat serta mengacaukan konsentrasi dan tekadnya. Upaya demikian ini tidak akan sempurna kecuali menatapi secara terus menerus musyahadah (kesaksian dan pengakuan) atas dosa-dosanya yang membuat kecintaannya untuk bertaubat terus bertambah dan motivasi – motivasinya mampu mendesak untuk lebih menyempurnakan tekad taubatnya dalam bentuk penguatan rasa takut dan harap.
Ketika hali ini terjadi, keruwetan-keruwetan keburukan perilaku yang telah menggumpal di dinding-dinding sanubarinya mulai mencair dan memuai, sikapnya secara tegas menunjukkan pengambilan jarak dari larangan-larangan agama, dan kecenderungan mengikuti hawa nafsu dengan keras dikekangnya. Akhirnya, semua jalan yang mengantarkannya pad kesesatan ditinggalkan, tekad untuk tidak kembali pada dosa-dosa serupa di masa yang akan datang lebih diteguhkan, kemudian waktupun berjalan mengikuti dorongan perwujudan taubat itu. Sesungguhnya realisasi taubat yang sesuai dengan tekadnya adalah penetapan diri pada jalan yang tepat, dan jika upaya taubat sesekali mengalami kemunduran maka hal seperti inipun jumlahnya banyak. Karena itu tidak perlu berputus asa, dan justru peningkatan kualitas taubat harus diperkuat.
Allah Ta’ala berfirman, “Likulli ajalin kitaab” (QS. Ar-Ra’d 38). yang artinya “sesungguhnya setiap ajal mempunyai ketetapan”.
Abu Sulaiman Ad-Darani memngisahkan pengalaman spiritualnya, “Saya berkali-kali datang ke majlis Qashi (seorang ulama sufi). Apda kali pertama nasihat-nasihatnya membekas di hati saya. Namun ketika saya beranjak pulang, tidak satupun nasihatnya yang masih membekas. Esoknya saya datang lagi dan mendengarkan ceramah-ceramahnya. Aku cukup terpengaruh dengan wejangan-wejangannya hingga bertahan sampai di tengah perjalanan pulang, setelah itu hilang. Pada kali ke tiga , fatwanya sngat berpengaruh dan sangat menawan hati saya hingga saya sampai di rumah. Sesampainya di rumah saya langsung menghancurkan alat-alat yang menyebabkan penyimpangan-penyimpangan perilaku, kemudian saya bersiteguh menetapi jalan lurus. Kisah ini akhirnya saya sampaikan kepada Yahya bin Mu’adz dan olehnya dikatakan, “seekor biring kecil telah menangkap segerombolan burung karaki (bangau)’’’. Beliau memaksudkan burung kecil pada Qashi, dan burung karaki pada Abu Sulaiman Ad-Daaraani. Dlam tema yang hampir serupa, Abu Hafs Al-Haddad berserita, “Suatu kali saya berhasil meninggalkan perbuatan demikian, lalu mengulanginya lagi, kemudian meninggalkannya lagi, dan setelah itu saya tidak mengulanginya lagi”.
Diceritakan bahwa Abu Amr bin Najid dalam permulaan sufinya diawali dari kehadirannya di majlis Abu Utsman. Nasihat-nasihat yang diterimanya sangat membekas di hatinya sehingga ia bertobat. Akan tetapi sebelumnya ia pernah mendapatkan cobaan penyakit demam. Penyakit ini sampai membuatnya menderita sehingga ia lari dari majelis Abu Utsman. Setiap kali melihatnya, segera ia menyingkir dan memperlambat kehadirannya di majlis. Suatu hari Abu Utsman bermaksud menyambut kedatangannya, namun Abu Amr berusaha menghindari dan melewati jalan lain yang tidak biasa dilalui orang. Abu Utsman rupanya tahu, kemudian ia mengikutinya dari belakang hingga bertemu.
“Wahai anakku,” katanya. “kamu tidak dapat mengawani orang yang mencintaimu kecuali terpelihara. Sesungguhnya yang memberimu manfaat dalam keadaanmu yang demikian adalah Abu Utsman”.
Kemudian Abu Amr bin Najid bertobat dan kembali pada kehendaknya semula serta berjalan di dalamnya.
Syaikh Abul Qasim Al-Qusyairi berkata, “Saya pernah mendengar Tuan Guru Abu Ali Ad-Daqaaq semoga Allah merahmatinya, bercerita “Seseorang murid bertobat, kemudian ia menderita penyakit demam. Suatu waktu ia mencoba berpikir untuk berhenti. Jika tetap bertobat, maka apa hikmahnya ? begitu pikirnya. Tiba-tiba suara gaib menasehatinya, ‘hai fulan, jika kamu taat kepadaku maka aku pasti menghargaimu. Kemudian kamu meninggalkanku yang membuatku tidak mengurusimu, dan jika kamu kembali lagi kepadaku, pasti aku menerimamu lagi’. Lalu pemuda itu kembali lagi pada kehendaknya semula (untuk bertobat) dengan mantap dan berhasil melaluinya dengan baik”.
Jika salik / (orang yang belajar menuju ke hadirat Allah) meninggalkan sehgala kemaksiyatan, maka gumpalan-gumpalan nafsu yang mendorong untuk selalu bermaksiyat akan terlepas dari hatinya. Dan kemudian hatinya berketatan untuk tidak kembali kepada kemaksiyatan-kemaksiyatan sejenisnya, maka penyesalan yang sesungguhnya mulai menjernihkan hatinya. Dia menjadi manusia yang senantiasa menyesali atas apa yang pernah diperbuatnya. Sepak terjangnya, perilakunya, dan keadaan-keadaan dirinya mencerminkan rasa sesal, galau dan sedih. Maka dengan demikian, dia telah benar-benar menjalani taubat yang sempurna. Mujahadahnya benar. Kesungguhannya untuk menjadi orang baik benar-benar dapat dipercaya. Jika sudah mencapai tingkat demikian, maka sikap pergaulannya dengan manusia akan digantikannya dengan sikap uzlah. Dia akan menjadi orang yang senang menyendiri, menjauhi pergaulan yang tidak membawa kebaikan, memisahkan diri dari pergaulan-pergaulan bersama orang-orang yang berperilaku buruk. Waktu siang dan malamnya dipakai untuk bersedih, meratapi kesalahan-kesalahannya, dan menjadikan hatinya bersungguh-sungguh untuk bertobat kepada Allah. Air mata penyesalannya akan terus mengalir menggenangi dan membasahi luka hatinya, menghapus jejak-jejak dosa yang ditinggalkannya, dan mengobati jiwa nya yang duka.
Hal ini diketahui dengan kekusutan hatinya adn ditandai dengan kelemahan fisiknya. Mukanya sayu. Tubuhnya lemah tanpa gairah. Keadaannya asngat kurus. Seleranya akan kenikmatan dunia menurun. Ahtinya tidak tertarik kepada apapun selain kepada Allah. Dan yang demikian itu terus berlangsung menyelimuti hatinya sampai mendapatkan keridhaan Allah dan orang-orang yang dimusuhinya. Dia akan memasrahkan dirinya kepada orang yang dianiaya untuk memperoleh keridhaannya. Dia tidak akan keluar dari tekadnya sebelum benar-benar mendapatkan maafnya. Sesungguhnya tobat yang berkaitan dengan pelanggaran dosa atas hak manusia mengharuskan salik – orang yang belajar mendekatkan diri kepada Allah melalui soerang Syaikh- untuk meminta keridhaan orang yang pernah dianiayannya sebelum meminta keridhaan Allah. Jika tangannya mampu mengembalikan hak-haknya , maka salik wajib mengembalikannya, atau meminat kemurahan haitnya supaya menghalalkan dan membebaskan dirinya dari tuntutan kewajiban membayar tagihan hak. Jika kedua-duanya tidak dapat diperoleh, maka hatinya harus tetap berkeyakinan, bersikukuh dan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk keluar dari belenggu tuntutan tagihan hak-hak orang yang pernah dianiayanya, dengan disertai harapan dan penghadiran diri untuk kembali kepada Allah dengan curahan doa yang sungguh-sungguh untuk dirinya dan untuk orang yang pernah dianiayanya.
Syaikh Abul qasim al Qusyairi berkata, “Saya pernah mendengar Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq ra. Berkata, ‘Tobat ada tiga bagian, pertama tobat (kembali), kedua inabah (berulang-ulang kembali), ketiga aubah (pulang). Tobat bersifat permulaan, sedangkan aubah adalah akhir perjalanan. Dan inabah tengah-tengahnya”.
Setiap orang yang tobat karena takut siksaan, maka dia adalah pelaku tobat. Orang tobat karena mengharapkan pahala adalah pelaku tobat yang mencapai tingkatan inabah. Sedangkan orang tobat yang termotivasi oleh sikap hati-hati dan ketelitian hatinya bukan karena mengharapkan pahala atau takut pada siksa Allah, maka ia adalah pemilik aubah”.
Dikatakan pula bahwa tobat adalah sifat orang-orang mukmin. Allah berfirman :
“Watuubuu ilaLlaahi jamii’a ayyuhal Mukminuuna la’allakum tuflihuun” yang artinya, “Dan bertaubatlah kamu sekallian kepada Allah wahai orang-orangyang beriman agar engkau semua menjadi orang-orang yang beruntung”. (QS. An Nuur 31)
Sedangkan inabah merupakan sifat para Wali Allah atau orang-orang yang dekat dengan Allah sebagaimana yang difirmankanNya :
“Man khosyiyaRrohmaana bil ghoibi wa jaa-a biqolbim muniib” yang artinya ” (Yaitu) orang-orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemuranh sedang Dia tidak kelihatan, dan dia datang dengan hati yang taubat”. (QS. Qaf 33)
Adapun Aubah adalah sifat para Nabi dan Rasul .
“Ni’mal ‘Abdu Innahul Awwaab” yang artinya, “Dialah (Nabi Ayyub as.) adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya Ia amat ta’at kepaad Tuhannya”. (QS. Shad 44)
Saya –Imam Al Qusyairi ra- pernah mendengar Imam Al-Junaid berkata, “Tobat ada tiga makna, penyesalan kedua, tekad untuk meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah Ta’ala, ketiga berusaha memenuhi hak-hak orang yang pernah dianiaya”.
Sahal bin Abdullah mengatakan, “Tobat adalah meninggalkan penundaan (tidak mengulur waktu dalam bertobat).
Imam Al-Junaid pernah ditanya seseorang tentang tobat lalu dijawab, “Hendaknya kamu melupakan dosamu”.
Oleh Abu Nashr As-Siraj , dua pernyataan di atas dikomentari. Menurutnya bahwa Sahal dengan pernyataannya menunjukkan beberapa keadaan orang-orang yang hendak bertobat yang sesekali terhalangi proses tobatnya. Sedangkan Al-Junaid memaksudkan pada tobat orang-orang yang sungguh-sungguh, yaitu ahli hakikat. Mereka ini ketika bertobat tidak lagi mengingat dosa-dosanya karena kehadiran keagungan Tuhan dan keberlangsungan dzikirnya kepadaNya yang senantiasa mendominasi hatinya.
Dzunun Al Mishri pernah ditanya tentang tobat kemudian di jawab, “Tobat orang awam dikarenakan dosa, sedang tobat orang khusus disebabkan karena lupa”. Ucapan yang demikian dopertegas oleh An-Nuuri dengan pernyataannya bahwa tobat adalah proses pelaksanaan tobat dari segala sesuatu selain Allah.
Abdullah At-Tamimi mengatakan, “Ada yang membedakan antara orang yang tobat dari kesalahan, bertobat darin kelupaan, dan bertobat dari memandang kebaikan yang diperbuatnya”.
“tobat nasuha kata Al-wasithi adalah, “Tidak akan meninggalkan bekas kemaksiyatan pada pemiliknya, baik yang ersifat samar maupun yang jelas”.
“Tuhanku”, kata Yahya bin Muadz, “saya tidak mengatakan bahwa saya tobat. Tidak juga mengulang sesuatu yang saya ketahui dari akhlakku dan tidak menyimpan upaya meninggalkan dosa terhadap sesuatu yang saya ketahui dari kelemahanku”. Sedangkan permohonan ampun tanpa melepaskan dosa, menurut Dzun Nun Al-Mishri adalah tobatnya para pendusta.
Al-Busyanji pernah ditanya tentang tobat, lalu dijawab, “Jika kamu mengingat dosa kemudian tidak merasakan manisnya ketika mengingatnya, maka demikian itu adalah taubat”.
Kemudian makna ini lebih diperjelas oleh Dzun Nun Al-Mishri, “Hakikat taubat menjadikan kamu keluasan bumi ini terasa sempit, sehingga tidak ada tempart menetap bagimu. Kemudian jiwamu merasa sempit. Hal ini sebagaimana yang difirmankan Allah dalam kitabNya yang Mulia :
“Hatta idzz dhooqot ‘alaihimul ardhu bimaa rohubat wadhooqot ‘alaihim anfusuhum wadhonnuu allaaa maljaa-a minaLlaahi illaa ilaih tsumma taaba ‘alaihim liyatuubuu innalLaaha Huwattawwaaburrohiim”
Yang artinya, “hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (terasa) oleh mereka, dan mereka menyangka (mengetahui) sesungguhnya tidak ada tempat lari dari siksa Allah melainkan kepadaNya saja. Kemudian AllaH menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah, Dialah yang Maha menerima taubat”. (QS. At Taubah 118)
Ibnu Atha’ mengatakan, “Taubat ada dua, taubat inabah dan taubat istajabah . Tobat inabah adalah taubat seorang hamba yang takut akan siksaanNya. Sedangkan taubat istajabah adalah merupakan bentuk taubat seorang hamba yang malu terhadap kemuliaanNya”.
“Mengapa seseorang yang menjalankan taubat membenci dunia ?” tanya seorang murid kepada Abu Hafs.
“Karena dunia tempat berlangsungnya perbuatan dosa”. Jawabnya.
“Bukankah udnia merupakan tempat yang dimuliakan Allah yang di dalamnya taubat bisa dilaksanakan ?” tanya seseorang menyela.
“Kenyataan dosa di atasnya adalahsesuatu yang pasti. Sementara penerimaan taubat di dalamnya masih bersifat mungkin” tegas Hafsh.
Karena itu tidak semua taubat memiliki tingkat yang sama. Masing-masing memiliki kwalitas dan derajat sendiri-sendiri. Taubat orang awam dan taubat orang khusus berbeda, dan taubat orang awam dan taubat pendusta juga berbeda. Entang maslah yang terakhir ini, sekelompok ulama’ sufi pernah menjelaskan bahwa taubat para pendusta hanya terjadi di permukaan mulut saja. Artinya mereka melakukan taubat hanya sebatas mengucapkan Istighfar, yaitu permohonan ampun kepada Allah.
“Tidak ada sesuatupun yang dimiliki seorang hamba dalam taubatnya” jelas Abu Hafs kepada penanya, “karena taubat hanya untukNya, bukan dariNya”.
Allah pernah memberikan wahyu kepada Nabi Adam AS tentang taubat, “Hai Adam” kata Allah “egkau telah mewriskan anak cucumu kepayahan adn cobaan. Sedangkan Saya mewariskan taubat untuk mereka. Barang siapa yang berdo’a kepadaKu, pasti Saya menyambutnya, sebagaimana menyambutmu. Hai anak Adam, Saya mengumpulkan orang-orang yang bertaubat dari kubur mereka dalam keadaan gembira dan tertawa kepadaKu. Doa mereka terkabulkan”.
Pernah seorang laki-laki datang ke rumah Rabi’ah Al ‘Adawiyah RA, dia mengadukan perbuatan-perbuatan buruknya, “sesungguhnya saya banyak berbuat dosa dan maksiyat. Kalau saya taubat apakah Allah akan menerima saya ?”
“Tidak ! bahkan seandainya Dia menerimamu, pasti saya bertaubat”.
Ketahuilah sesungguhnya Allah berfirman, “InnaLlaaha yuhibbuttawwabiina wayuhibbul mutathahhiriin” yang artinya, “Sesungguhnya Allah mencinati orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang mensucikan dirinya”. (QS. Al-Baqarah 222)
Barang siapa yang mendekati tempart yang menggelincirkan maka jelas itu kesalahannya sendiri. Jika taubat, maka diterimanya masih meragukan. Apalagi jika syarat dan haknya merupakan hak bagi kecintaan Al-Haq. Seseorang yang melakukan maksiyat sehingga di dalam sifat-sifatnya ditemukan tanda-tanda kecintaannya kepada Allah semakin menjauh, maka dia wajib taubat dan terus menerus menghancukan kemaksiyatan dengan disertai istighfar dan pembebasan diri dari dosa. “Sesungguhnya ketakutan itu mengingatkan kepada kematian”, kata ahli sufi. Karfena itu benar sekali jika Allah berfirman, “Qul Inkuntum tuhibbunaLlaaha fattabi’uuNy yuhbibkumuLlaah”. Yang artinya, “Katakanlah jika kamu sekalian mencintai Allah, maka ikutilah aku (Nabi), dengan demikian maka Allah akan mencintaimu”. (QS. Ali Imran 31)
Diantara proses ritual perjalanan taubat Nabi SAW adalah melanggengkan Istighfar. RasuluLlah SAW bersabda, “Innahuu layughaanu ‘alaa qalByy, fa AstaghfiruLlaaha fil yaumi sab’iina marrah” Yang artinya, “sesungguhnya Dia mmenutupi hatiku, maka Saya memohon ampun kepada Allah 70 kali dalam sehari”.
Yahya bin Muadz mengatakan, “Tergelincir sekali setelah taubat lebih buruk daripada istighfar 70 kali sebelumnya”.
Menurut keterangan Abu Utsman tentang fiman Allah, “Inna ilaiNaa iyaabahum” yang artinya, “sesungguhnya kepada Kamilah mereka kembali”. (QS. Al-Ghaatsiyah 25)
Ayat ini menunjukkan arti “pengembalian mereka” meski mereka telah berkali-kali keliling dalam penentangan.
Syaikh Abul Qasim Al Qusyairi berkata, “saya juga pernah mendengar Abu Amr Al-Anmathi bercerita, “seorang menteri yang bernama Ali bin Isa sedang menunggang kuda kebesarannya dalam arak-arakan yang sangat megah. Pawai ini sempat membuat masyarakat terkagum-kagum. Mereka bertanya-tanya siapakah gerangan mereka itu ? Tiba-tiba seorang wanita yang sedang berdiri di pinggir jalanan pawai menyeletuk, ‘sampai kapan kalian mengatakan engan bertanya-tanya siapakah dia, siapakah dia ? Dia adalah hamba yang terjatuh dari pandangan Allah dan Allah mengujinya dengan sesuatu yang kalian saksikan itu’. Rupanya Ali mendengar sindiran itu. Dia langsung kembali pulang, kemudian mengundurkan diri dari jabatan menteri dan pergi ke Makah untuk tinggal di sana.”
Mujahadah
Mujahadah.
Allah berfirman, “Walladziina jaahaduu fiinaa lanahdiyannahum subulanaa wa innaLlaaha lama’al Muhsiniin”. Yang artinya, “dan orang-orang yang berjuang di jalan Kami niscaya akan Kami tunjukkan jalan Kami, dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang baik”. (QS. Al-Ankabut 69)
Dari Abu Sa’id Al-Khudri diceritakan bahwa ia berkata, “RasuluLlah SAW pernah ditanya tentang seutamanya jihad, maka dijawab, ‘Kalimatu haqqin ‘inda sulthaani jaa’ir”. Yang artinya, ‘kalimat yang adil yang disampaikan kepada penguasa yang lalim’”.
Tanpa terasa kedua mata Abu sa’id mengeluarkan air mata.
Syaikh Abul Qasim Al-Qusyaairi berkata, “Saya pernah e,mndengar UstadzAbu ‘Ali Addaqaaq berkata,”Barang siapa menghiasi lahiriahnya dengan mujahadah, maka Allah akan memperbaiki bathiniahnya dengan musyahadah. Ketahuilah bahwa seseoang yang dalam awal perjalanannya tidak mengalami mujahadah maka dia tiak akan mendapatkan lilin yang meneangi jalannya”.
Abu Utsman Al-Maghribi berkata, “barang siapa mengira bahwa sesuatu hanya dapat dibukakan atau disingkapkan untuknya hanya melalui jalan ini atau hanya dengan keteguhan menjalani mujahadah, maka dia adalah orang yang salah”.
Syaikh Abul Qasim Al-Qusyairi pernah mendengar Ustadz Abu ‘Ali Addaqaaq semoga Allah merahmatinya berkata,”Barang siapa dalampermulaannya tidak pernah berdiri, maka pada akhirnya dia tidak akan pernah duduk”. Beliau juga pernah mengatakan bahwa gerak membawa barokah atau gerak adalah barokah itu sendiri. Gerak lahir menurut beliau mengharuskan timbulnya barokah rahasia.
“Wahai para pemuda”, pesan Assirri, “bersungguh-sungguhlah kalian sebelum batas akhir kemampuan yang membuat kalian lemah dan kurang sebagaimana kelemahan dan kekurangan fisik kalian”. Saat iti para pemuda tidak mampu mengawani Assirri dalam menjalankan ibadah.
Menurut Hasan Al-Qazzaz menerangkan bahwa masalah ini mujahadah,, dibangaun atas tiga hal, -hendaknya tidak makan kecuali benar-benar membutuhkan / lapar, -tidak tidur kecuali bnar-benar mengantuk, -dan tidak berbicara kecuali benar-benar terdesak (mengharuskan).
Syaikh Al-Qusyairi berkata, Saya pernah mendengar Ibrahim bin Adham berkata, “Seseorang idak akan mendapatkan derajat orang-orang salih hingga mampu mengatasi enam rintangan, 1. menutup pintu nikmat dan membuka pintu kesulitan. 2. menutup pintu kemuliaan dan membuka pintu kehinaan. 3. mentup pintu istirahat dan membuka pinti perjuangan. 4. menutup pintu tidur dan membuka pintu terjaga. 5. mentup pintu kekayaan dan membuka pintu kefakiran. 6. menutup pintu angan-angan dan membuka pintu persiapan menjelang kematian”.
“Barang siapa yang nafsunya memuliakan dirinya, maka agama dan reputasinya akan menghinakannya”. Demikian kata Abu Amir bin Najid.
Syaikh Al-Qusyairi RA berkata, “Sayapernah mendengar Abu ‘Ali Ar-Rudzabaar mengatakan, “Jika seorang sufi setelah lima hari –tidak mendapatkan makanan berkata, ‘saya lapar’, maka giringlah dia ke pasar dan suruhlah ia bekerja”. Ketahuilah bahwa dasar daripada mujahadah adalah menyapih hawa nafsu dari kebiasaannya, dan membawanya pada penentangan hawa nafsu di seluruh waktu”.
Nafsu mempunyai dua sifat yang mampu mencegah kebenaran. 1. ketekunannya menuruti syahwat. Danke 2. mencegah keta’atan. Jika nafsu ketika mengendarai keinginannya tidak dapat dikendalikan, maka wajib dikekang dengan kekang taqwa. Jika ia dapat berhenti dengan menepati perintah2 agama, maka dia wajib digiring pada penentangan hawa nafsu. Ketika dalam kondisi marah dia berontak, maka wajib diteliti, dikendalikan,dan diarahkan pada keadaannya yang tenang. Tak ada kondisi yang akibatnya lenih bagus daripada kemaranhan, yang kekuasaannya dipecahkan dngan akhlak yang baik, dan apinya dipadamkan dengan kelembutan perilaku. Jika nafsu menganggap halal “suatu ketololan” sehingga segala sesuatu menjadi sempit kecuali dengan penampakan perangai – perangai baik dan lebih mempercantiknya ketika orang lain melihat atau menelitinya /riya’ maka keadaan yang demikian ini harus dipecahkan dan dilepaskan dengan siksaan kehinaan. Yaitu dengan cara mengingatkan kerendahan derajad nafsu, kehinaan aslinya dan kekotoran perbuatannya. Mujahadah orang awam terdapat pada pemenuhan amalan wajib. Mujahadah orang khusus terdapat pada pembersihan ahwal / keadaan . oleh karena itu menahan lapar dan terjaga adalah sesuatu yang mudah lagi ringan. Sedangkan mengobati akhlak dan menjauhkannya dari kebusukannya adalah sestau yang sangat sulit.
Diantara penutup – penutup penyakit nafsu adalah kecondongannya pada kemampuan meraakan manisnya pujian. Jika seseorang menghirup seteguk pujian maak dia akan ‘memikul’ penduduk langit dan bumi pada bulu matanya. Adapun tanda-tandanya apabila ia terputus dari minuman/pujian tersebut maka keadaannya akan kembali kepada kemalasan dan kelemahan.
Seorang wanita yang sudah ditanya tentang keadaannya lalu dijawab, “Ketika saya masih muda, kutemukan pada diriku keaktifan dan giat beribadah. Dan sekarang tidak aku temukan lagi. Ketiak usia berubah, yang demikian itu hilang dariku”.
Syaikh Al Qusyary berkata, “saya pernah mendengar Dzunun Al-Mishri berkata, ‘Allah tidak akan memuliakan seseorang dengan suatu kemuliaan, yang lebih mulia daripada menunjukkannya pada kehinaan nafsunya. Dan tidak menghinakan seseorang yang lebih hina daripada Ia (SWT)menutupi kehinaan nafsunya dari pandangannya.
Ibrahim Al-Khawas menuturkan bahwa ia tidak takut akan sesuatu kecuali takut pada sikap yang menuruti hawa nafsu. Akan tetapi Muhammad bin Fudhail berpendapat bahwa kesenangan atau kesenggangan adalah merupakan pembebasan dari syahwat dan kesenangan nafsu.
Syaikh Abul qasim Al-Qusyairi pernah mendengar Syaikh Abu Ali Ar-Rudzabari mengatakan, “penyakit hati menyusup ke dalam akhlak melalui tiga jalan, 1. penyakit watak, 2. kebiiasaan yang dilaksanakan terus menerus, 3. kerusakan pergaulan.
-Adapun penyakit watak adalah memakan barang yang haram
-Sedang yang dimaksud melakukan kebiasaan adalah memandang dan merasakan nikmat dengan barang haram.
-dan kerusakan pergaulan adalah ketiak syahwat dalam nafsu bangkit , maka nafsu pasti mengikutinya.
An-Nashr Abadzi berkata, “nafsumu adalah penjaramu. Maka apabila kamu dapat keluar dari padanya, maka kamu pasti akan tinggal di tempat yang enak dan kekal”.
“Nafsu semuanya adalah gelap” kaa Abu Jafar. “dan lampunya adalah rahasia / sirr nya. Cahaya nafsu adalah taufiq. Barang siapa dalam rahasianya tidak di dampingi dengan taufiq Tuhannya maka dia dalam kegelapan di segala sisinya”.
-Yang dimaksud rahasianya adalah rahasia antara dirinya dengan Allah SWT.
-Rahasia adalah tempat keikhlasan seorang hamba
-dengan keikhlasan hamba akan mengetahui bahwa segala yang terjadi bukan karena kekuatan dirinya melainkan pertolongan Allah semata.
-kemudian dengan taufiqNya mampu menjaga diri dari keburukan nafsunya. Seseorang yang tidak mendapat taufiq maka ilmunya tidak akan bermanfaat pada dirinya dengan Tuhannya, karena ilmunya tidak akan menghindarkannya dari perbuatan yang buruk dan tidak pula menyebabkan keridhaan Tuhannya.
Abu Utsman berkata, “seseorang tidak akan tahu aibnya sendiri selama ia menganggap baik diri sendiri.”
Abu Hafs menyatakan ,”Tidak ada kerusakan yang lebih cepat daripada kerusakan orang yang tidak mengetahui aib dirinya, padahal maksiyat adalah kurir kekufuran”.
Abu Sulaiman berkata, “Saya tidak pernah menganggap baik ibadah saya, saya cukup hanya berbuat saja”.
Dzunun Al-Mishri, “kerusakan pada makhluk melalui enam perkara :
1. lemahnya niat beramal untuk akhirat
2. badan yang dijadikan jaminan untuk nafsunya
3. panjang angan-angan yang menguasai dirinya padahal ajal sangatlah dekat
4. lebih mengutamakan keridhaan makhluk daripada keridhaan Allah.
5. mengikuti hawa nafsu dan meninggalkan sunah Nabi SAW
6. menjadikan tergelincirnya lidah digunakan sebagai argumen untuk membela diridi sisi lain mengubur sebagian besar perilakunya –yang tidak baik.
Allah berfirman, “Walladziina jaahaduu fiinaa lanahdiyannahum subulanaa wa innaLlaaha lama’al Muhsiniin”. Yang artinya, “dan orang-orang yang berjuang di jalan Kami niscaya akan Kami tunjukkan jalan Kami, dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang baik”. (QS. Al-Ankabut 69)
Dari Abu Sa’id Al-Khudri diceritakan bahwa ia berkata, “RasuluLlah SAW pernah ditanya tentang seutamanya jihad, maka dijawab, ‘Kalimatu haqqin ‘inda sulthaani jaa’ir”. Yang artinya, ‘kalimat yang adil yang disampaikan kepada penguasa yang lalim’”.
Tanpa terasa kedua mata Abu sa’id mengeluarkan air mata.
Syaikh Abul Qasim Al-Qusyaairi berkata, “Saya pernah e,mndengar UstadzAbu ‘Ali Addaqaaq berkata,”Barang siapa menghiasi lahiriahnya dengan mujahadah, maka Allah akan memperbaiki bathiniahnya dengan musyahadah. Ketahuilah bahwa seseoang yang dalam awal perjalanannya tidak mengalami mujahadah maka dia tiak akan mendapatkan lilin yang meneangi jalannya”.
Abu Utsman Al-Maghribi berkata, “barang siapa mengira bahwa sesuatu hanya dapat dibukakan atau disingkapkan untuknya hanya melalui jalan ini atau hanya dengan keteguhan menjalani mujahadah, maka dia adalah orang yang salah”.
Syaikh Abul Qasim Al-Qusyairi pernah mendengar Ustadz Abu ‘Ali Addaqaaq semoga Allah merahmatinya berkata,”Barang siapa dalampermulaannya tidak pernah berdiri, maka pada akhirnya dia tidak akan pernah duduk”. Beliau juga pernah mengatakan bahwa gerak membawa barokah atau gerak adalah barokah itu sendiri. Gerak lahir menurut beliau mengharuskan timbulnya barokah rahasia.
“Wahai para pemuda”, pesan Assirri, “bersungguh-sungguhlah kalian sebelum batas akhir kemampuan yang membuat kalian lemah dan kurang sebagaimana kelemahan dan kekurangan fisik kalian”. Saat iti para pemuda tidak mampu mengawani Assirri dalam menjalankan ibadah.
Menurut Hasan Al-Qazzaz menerangkan bahwa masalah ini mujahadah,, dibangaun atas tiga hal, -hendaknya tidak makan kecuali benar-benar membutuhkan / lapar, -tidak tidur kecuali bnar-benar mengantuk, -dan tidak berbicara kecuali benar-benar terdesak (mengharuskan).
Syaikh Al-Qusyairi berkata, Saya pernah mendengar Ibrahim bin Adham berkata, “Seseorang idak akan mendapatkan derajat orang-orang salih hingga mampu mengatasi enam rintangan, 1. menutup pintu nikmat dan membuka pintu kesulitan. 2. menutup pintu kemuliaan dan membuka pintu kehinaan. 3. mentup pintu istirahat dan membuka pinti perjuangan. 4. menutup pintu tidur dan membuka pintu terjaga. 5. mentup pintu kekayaan dan membuka pintu kefakiran. 6. menutup pintu angan-angan dan membuka pintu persiapan menjelang kematian”.
“Barang siapa yang nafsunya memuliakan dirinya, maka agama dan reputasinya akan menghinakannya”. Demikian kata Abu Amir bin Najid.
Syaikh Al-Qusyairi RA berkata, “Sayapernah mendengar Abu ‘Ali Ar-Rudzabaar mengatakan, “Jika seorang sufi setelah lima hari –tidak mendapatkan makanan berkata, ‘saya lapar’, maka giringlah dia ke pasar dan suruhlah ia bekerja”. Ketahuilah bahwa dasar daripada mujahadah adalah menyapih hawa nafsu dari kebiasaannya, dan membawanya pada penentangan hawa nafsu di seluruh waktu”.
Nafsu mempunyai dua sifat yang mampu mencegah kebenaran. 1. ketekunannya menuruti syahwat. Danke 2. mencegah keta’atan. Jika nafsu ketika mengendarai keinginannya tidak dapat dikendalikan, maka wajib dikekang dengan kekang taqwa. Jika ia dapat berhenti dengan menepati perintah2 agama, maka dia wajib digiring pada penentangan hawa nafsu. Ketika dalam kondisi marah dia berontak, maka wajib diteliti, dikendalikan,dan diarahkan pada keadaannya yang tenang. Tak ada kondisi yang akibatnya lenih bagus daripada kemaranhan, yang kekuasaannya dipecahkan dngan akhlak yang baik, dan apinya dipadamkan dengan kelembutan perilaku. Jika nafsu menganggap halal “suatu ketololan” sehingga segala sesuatu menjadi sempit kecuali dengan penampakan perangai – perangai baik dan lebih mempercantiknya ketika orang lain melihat atau menelitinya /riya’ maka keadaan yang demikian ini harus dipecahkan dan dilepaskan dengan siksaan kehinaan. Yaitu dengan cara mengingatkan kerendahan derajad nafsu, kehinaan aslinya dan kekotoran perbuatannya. Mujahadah orang awam terdapat pada pemenuhan amalan wajib. Mujahadah orang khusus terdapat pada pembersihan ahwal / keadaan . oleh karena itu menahan lapar dan terjaga adalah sesuatu yang mudah lagi ringan. Sedangkan mengobati akhlak dan menjauhkannya dari kebusukannya adalah sestau yang sangat sulit.
Diantara penutup – penutup penyakit nafsu adalah kecondongannya pada kemampuan meraakan manisnya pujian. Jika seseorang menghirup seteguk pujian maak dia akan ‘memikul’ penduduk langit dan bumi pada bulu matanya. Adapun tanda-tandanya apabila ia terputus dari minuman/pujian tersebut maka keadaannya akan kembali kepada kemalasan dan kelemahan.
Seorang wanita yang sudah ditanya tentang keadaannya lalu dijawab, “Ketika saya masih muda, kutemukan pada diriku keaktifan dan giat beribadah. Dan sekarang tidak aku temukan lagi. Ketiak usia berubah, yang demikian itu hilang dariku”.
Syaikh Al Qusyary berkata, “saya pernah mendengar Dzunun Al-Mishri berkata, ‘Allah tidak akan memuliakan seseorang dengan suatu kemuliaan, yang lebih mulia daripada menunjukkannya pada kehinaan nafsunya. Dan tidak menghinakan seseorang yang lebih hina daripada Ia (SWT)menutupi kehinaan nafsunya dari pandangannya.
Ibrahim Al-Khawas menuturkan bahwa ia tidak takut akan sesuatu kecuali takut pada sikap yang menuruti hawa nafsu. Akan tetapi Muhammad bin Fudhail berpendapat bahwa kesenangan atau kesenggangan adalah merupakan pembebasan dari syahwat dan kesenangan nafsu.
Syaikh Abul qasim Al-Qusyairi pernah mendengar Syaikh Abu Ali Ar-Rudzabari mengatakan, “penyakit hati menyusup ke dalam akhlak melalui tiga jalan, 1. penyakit watak, 2. kebiiasaan yang dilaksanakan terus menerus, 3. kerusakan pergaulan.
-Adapun penyakit watak adalah memakan barang yang haram
-Sedang yang dimaksud melakukan kebiasaan adalah memandang dan merasakan nikmat dengan barang haram.
-dan kerusakan pergaulan adalah ketiak syahwat dalam nafsu bangkit , maka nafsu pasti mengikutinya.
An-Nashr Abadzi berkata, “nafsumu adalah penjaramu. Maka apabila kamu dapat keluar dari padanya, maka kamu pasti akan tinggal di tempat yang enak dan kekal”.
“Nafsu semuanya adalah gelap” kaa Abu Jafar. “dan lampunya adalah rahasia / sirr nya. Cahaya nafsu adalah taufiq. Barang siapa dalam rahasianya tidak di dampingi dengan taufiq Tuhannya maka dia dalam kegelapan di segala sisinya”.
-Yang dimaksud rahasianya adalah rahasia antara dirinya dengan Allah SWT.
-Rahasia adalah tempat keikhlasan seorang hamba
-dengan keikhlasan hamba akan mengetahui bahwa segala yang terjadi bukan karena kekuatan dirinya melainkan pertolongan Allah semata.
-kemudian dengan taufiqNya mampu menjaga diri dari keburukan nafsunya. Seseorang yang tidak mendapat taufiq maka ilmunya tidak akan bermanfaat pada dirinya dengan Tuhannya, karena ilmunya tidak akan menghindarkannya dari perbuatan yang buruk dan tidak pula menyebabkan keridhaan Tuhannya.
Abu Utsman berkata, “seseorang tidak akan tahu aibnya sendiri selama ia menganggap baik diri sendiri.”
Abu Hafs menyatakan ,”Tidak ada kerusakan yang lebih cepat daripada kerusakan orang yang tidak mengetahui aib dirinya, padahal maksiyat adalah kurir kekufuran”.
Abu Sulaiman berkata, “Saya tidak pernah menganggap baik ibadah saya, saya cukup hanya berbuat saja”.
Dzunun Al-Mishri, “kerusakan pada makhluk melalui enam perkara :
1. lemahnya niat beramal untuk akhirat
2. badan yang dijadikan jaminan untuk nafsunya
3. panjang angan-angan yang menguasai dirinya padahal ajal sangatlah dekat
4. lebih mengutamakan keridhaan makhluk daripada keridhaan Allah.
5. mengikuti hawa nafsu dan meninggalkan sunah Nabi SAW
6. menjadikan tergelincirnya lidah digunakan sebagai argumen untuk membela diridi sisi lain mengubur sebagian besar perilakunya –yang tidak baik.
Khalwat/Uzlah/Menyepi
Khalwat/Uzlah/Menyepi
Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA. Bahwa RasuluLlah SAWW bersabda, “sesungguhnya sebaik-baik penghidupan manusia adalah orang yang mampu memegang kerasnya (kendali kuda) di jalan Allah. Jika mendengar hal yang mengejutkan dan menakutkan, ia tetap berada si atas punggungnya dengan pilihan mati atau terbunuh, atau orang yang mendapatkan harta rampasan perang yang bertempat tinggal di atas gunung atau di dasar jurang yang senantiasa menerjakan salat, memberikan zakat, dan beribadah kepada Tuhan sampai kematian menjemputnya, yang tidak dimiliki orang lain kecuali tetap dalam kebaikan”.
Khalwat adalah merupakan sifat orang sufi. Sedangkan uzlah adalah merupakan bagian dari tanda bahwa seseorang telah bersambung dengan Allah Ta’ala. Seharusnya bagi murid pemula (yaitu orang yang ingin mendekatkan diri kepada Allah) agar uzlah (mengasingkan diri dari bentuk-bentuk eksistensial kemudian di akhir perjalanannya melakukan khalwah (mneyepi) sehingga ifat lemah lembut akan dapat tercapai. Hakikat khalwah adalah pemutusan hubungan dengan makhluk menuju penyambungan hubungan dengan Al-Haq yaitu Allah Subhanahu Wata’ala. Ahl demikian dikarenakan khalwah merupakan perjalanan ruhani dari nafsu menuju hati, dan hati menuju ruh dan daru ruh menuju alam rahasia /sirr dan dari alam rahasia menuju Dzat Maha pemberi segalanya.
Hamba yang melakukan uzlah haruslah diniatkan karena Allah Ta’ala dengan maksud dan niatan menjaga keselamatan orang lain dari perangai buruknya. Dan janganlah bermaksud menjaga keselamatan dirinya dari keburukan orang lain. Karena pernyataan yang pertama adalah wujud dari sikap rendah ahti /tawadhu’ sedangkan pernyataan yang kedua adalah menunjukkan sifat sombong yang ada pada dirinya.
Sebagian pendeta ditanya, “Apakah engkau seorang pendeta ?” maka dia menjawab, “Tidak saya hanyalah sebagai penjaga anjing. Jiwaku serupa dengan anjing yang dapat melukai orang lain, karena itu saya harus keluar dari mereka supaya mereka selamat”.
Pada suatu saat ada seorang bertemu dengan orang saleh yang sedang mengumpulkan pakaiannya. Lelaki itu bertanya “Mengapakah engkau kumpulkan pakaianmu. Apakah pakaianku itu najis ?” maka orang tua yang saleh etrsebut menjawab, “tidak, tetapi pakaiankulah yang najis dan aku kumpulkan agar tidak menajiskan pakaianmu”.
Sebagian dari tatacara uzlah adalah untuk memperoleh ilmu yang dibenarkan oleh akidah tauhid. Selain itu untuk memperoleh ilmu syari’at atas dasar kewajiban sehingga bentuk perintahnya menjadi pondasi yang kuat-untuk dilaksanakan. Esensi uzlah adalah menghindarkan diri ari perbuatan tercela. Sedangkan hakikatnya adalah menggantikan sifat yang tercela untuk di isi denagn sifat yang terpuji, bukan untuk menjauhkan diri dari tempat tinggalnya / tanah arinya. Ditanyakan, “Siapak orang yang ma’rifat itu ?” dijawab ,”mereka adalah orang yang selalu berada di tepi jauh, yakni dia selalu bersama orang lain sedangkan hatinya jauh dari mereka”.
Asyaikh Al-Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “Berpakaianlah sebagaimana orang berpakaian, makanlah sebagaimana orang makan, dan menyendirilah dengan bersembunyi”. Beliau juga mengatakan, “Suatu hari seseorang datang kepadaku dan bertanya, ‘Saya datang kepadamu dari perjalanan yang sangat jauh ?’. lalu aku jawab cerita ini dengan bukan dengan arti jaarak perjalanan yang terputus dan perjalanan yang melelahkan. Renggagkan jiwamu dengan satu langkah, maka tujuanmu akan tercapai’”.
Diriwayatkan dari Abu Yazid Al Busthami, RA, beliau berkata, “Saya pernah bermimpi bertemu Tuhan, kemudian saya bertanya, ‘Bagaimana caranya agar aku isa bertemu denganNya ?” Dan Ia menjawab, “Pisahkan jiwamu dan bersegeralah datang”.
Abu Utsman Al-Maghribi mengatakan, “Barang siapa ingin meninggalkan masyarakat, selayaknya ia meninggalkan semua ingatan kecuali ingat kepada Tuhan, meninggalkan semua keinginan kecuali mencari ridha Tuhan, dan meninggalkan semua tuntutan hawa nafsu. Jika tidak demikian maka apa yang dikerjakan akan menimbulkan fitnah dan cobaan”. Menurut suatu pendapat, khalwat adalah pekerjaan yang paling dicintai untuk mendorong raa rindu.
Muhammad bin Hamid berkata, “Seseorang bertamu kepada Abu Bakar Al;-Waraq, ketika akan pulang ia meminta kepada Muhammad agar meberi wasiyat kepada dirinya. Abu Bakar Al-Waraq menjawab, “Engkau telah mendapatkan kebaikan di dunia dan di akhirat karena engkau selalu menyendiri dan meninggalkan pergaulan masyarakat. Kejelekan dari keduanya terletak pada pencampur adukan dan pembauran”.
Abu Muhammad Al-Jariri ditanya tentang uzlah, dia menjawab, “Uslah adalah masuk ke tempat yang sempit, menjaga rahasia agar tidak terjadi gesek menggesek dan meninggalan keinginan hawa nafsu sehingga hatimu terkait dengan kebenaran”. Ada yang berpendapat, urgensi uzlah adalah menghasilkan kemuliaan.
Menurut Sahal, khalwat tidak dpat dibenarkan kecuali dengan meninggalkan yang haram. Dan meninggalkan barang yang halal juga tidak dibenarkan kecuali dengan melaksanakan hak Allah Ta’ala. Dzunun AL-Mishri berkata, “Saya tidak pernah melihat sesuatu yang dapat menimbulkan sikap ikhlas kecuali kekasihmu adalah khalwat, makananmu adalah lapar, dan pembicaraanmu adalah lapar. Apabila engkau meninggal dunia, engkau selalu bersambung kepada Allah”. Dzunun al-Mishri juga ppernah berkata,”Orang tidak akan terhalang dari makhluk hanya karena khalwat sebagaimana orang tidak orang tidak akan terhalang dari mereka karena mendekatkan diri kepada mereka”.
Menurut Al-Junaid, “Susahnya uzlah lebih mudah dari pada siklus kehidupan bermasyarakat”. Menurut makhul As-Syami, “Jika kehidupan bermasyarakat memperoleh kebaikan, maka uzlahpun juga memberikan keselamatan”. Sedangkan menurut Yahya bin Muadz, “Menggabungkan keduanya merupakan cara yang terbaik bagi orang yang mencari kebenaran”.
Syaikh Abu Ali berkata dengan mengutip apa yang disampaikan Imam As-syibli, “Manusia akan bengkrut dan bangkrut “. Seseorang bertanya kepadanya, “Apa tanda-tanda orang yang bangkrut wahai Abu Bakar ?”. beliau menjawab, “Tamda orang yang bangkrut adalah orang yang menyakiti orang lain”.
Yahya bin Abu Katsir berpendapat, “Barang siapa yang bergaul dengan orang lain, maka ia akan didekati. Barang siapa yang mendekati orang lain maka ia akan dilihat”. Said bin Harits telah berkata, “Saya pernah mengunjungi Malik bin Mas’ud di kufah. Dia menyendiri di rumahnya. Setelah itu kutanyakan sesuatu kepadanya, ‘Apakah engkau tidak kesepian menyendiri di temapt ini ?’ Dia menjawab, “Saya tidak pernah melihat seseorang kesepian jika dia bersama – sama Allah”.
Al Junaid berkata, “Barang siapa yang hendak menyerahkan agamanya dab menentramkan tubuh dan hatinya, hendaknya ia menjauhkan diri dari orang lain. Masa sekarang adalah masa kesepian. Oleh karena itu, orang yang memiliki akal sehat, tentu akan menyendiri”. Al-Junaid telah mendengar Abu Bakar Ar-Razi berkata, “Abu Ya’qub As-Susi berkata bahwa seseorang tidak akan mampu menyendiri kecuali hanya orang-orang yang kuat. Oleh karena itu orang seperti kita bermasyarakat tentu lebih baik dan lebiih bermanfaat”. Abul Abbas Ad-Danaghani berkata, “Imam Syibli berwasiyat kepadaku, ‘ menyendirilah dan hapus namamu dan menghadaplah ke dinding sampai engkau mati”.
Ada seorang laki-laki datang kepada Syu’aib bin Harb, beliau bertanya , “Apa yang menyebabkan engkau datang kepadaku ?”. dia menjawab, “Agar saya dapat selalu bersamamu”. Kemudain Syu’aib berkata, “Wahai saudara, ibadah tidak akan bermanfaat jika berbaur dengan syirik. Barang siapa yang tidak mencintai Allah, maka ia tidak akan menjumpai sesuatu yang dicintainya”.
Sebagian ulama ditanya, “Apakah yang membuatmu heran / ujub ?”. Dia menjawab, “Keindahan yang dapat mendorong persahabatan. Oleh akrena itu aku selalu takut menyerahkan diriku kepada Allah Ta’ala akan menjadi rusak”. Ulama yang lain juga pernah ditanya, “Apakah di sana ada orang yang mencintaimu ?”. Dia menjawab, “Ya, dia selalau merentangkan kekuasaannya di dalam kiatbnya dan meletakkannya di atas batu”. Dalam konteks seperti ini ada sya’ir :
Kitab-kitabMu ada di sekelilingku
Oleh karena itu jangan kau pisahkan dari tempat tidurku
Di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan orang
Yang saya sendiri adalah yang menyembunyikannya
Seorang lelaki bertanya kepada Dzunun Al Mishri, “Kapan saya boleh uzlah ?”. Beliau menjawab, “Jka engkau telah mampu mengasingkan dirimu sendiri”.
Ibnu Mubatrak telah ditanya, “Apa obat hati ?” Dia menjawab, “Meminimalkan pergaulan dengan masyarakat”. Menurut suatu pendapat jika Allah hendak memindahkan seseorang dari kemaksiyatan yang hina menuju kemuliaan ta’at, Allah Ta’ala pasti mencintai dia dengan menyendiri, mencukupi dia dengan menerima, dan memperlihatkan dia segala cacat yang tertanam di dlm jiwanya. Apabila hal tersebut telah diberikan, maka kebaikan dunia danakhirat pasti akan diberikan kepadanya”.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA. Bahwa RasuluLlah SAWW bersabda, “sesungguhnya sebaik-baik penghidupan manusia adalah orang yang mampu memegang kerasnya (kendali kuda) di jalan Allah. Jika mendengar hal yang mengejutkan dan menakutkan, ia tetap berada si atas punggungnya dengan pilihan mati atau terbunuh, atau orang yang mendapatkan harta rampasan perang yang bertempat tinggal di atas gunung atau di dasar jurang yang senantiasa menerjakan salat, memberikan zakat, dan beribadah kepada Tuhan sampai kematian menjemputnya, yang tidak dimiliki orang lain kecuali tetap dalam kebaikan”.
Khalwat adalah merupakan sifat orang sufi. Sedangkan uzlah adalah merupakan bagian dari tanda bahwa seseorang telah bersambung dengan Allah Ta’ala. Seharusnya bagi murid pemula (yaitu orang yang ingin mendekatkan diri kepada Allah) agar uzlah (mengasingkan diri dari bentuk-bentuk eksistensial kemudian di akhir perjalanannya melakukan khalwah (mneyepi) sehingga ifat lemah lembut akan dapat tercapai. Hakikat khalwah adalah pemutusan hubungan dengan makhluk menuju penyambungan hubungan dengan Al-Haq yaitu Allah Subhanahu Wata’ala. Ahl demikian dikarenakan khalwah merupakan perjalanan ruhani dari nafsu menuju hati, dan hati menuju ruh dan daru ruh menuju alam rahasia /sirr dan dari alam rahasia menuju Dzat Maha pemberi segalanya.
Hamba yang melakukan uzlah haruslah diniatkan karena Allah Ta’ala dengan maksud dan niatan menjaga keselamatan orang lain dari perangai buruknya. Dan janganlah bermaksud menjaga keselamatan dirinya dari keburukan orang lain. Karena pernyataan yang pertama adalah wujud dari sikap rendah ahti /tawadhu’ sedangkan pernyataan yang kedua adalah menunjukkan sifat sombong yang ada pada dirinya.
Sebagian pendeta ditanya, “Apakah engkau seorang pendeta ?” maka dia menjawab, “Tidak saya hanyalah sebagai penjaga anjing. Jiwaku serupa dengan anjing yang dapat melukai orang lain, karena itu saya harus keluar dari mereka supaya mereka selamat”.
Pada suatu saat ada seorang bertemu dengan orang saleh yang sedang mengumpulkan pakaiannya. Lelaki itu bertanya “Mengapakah engkau kumpulkan pakaianmu. Apakah pakaianku itu najis ?” maka orang tua yang saleh etrsebut menjawab, “tidak, tetapi pakaiankulah yang najis dan aku kumpulkan agar tidak menajiskan pakaianmu”.
Sebagian dari tatacara uzlah adalah untuk memperoleh ilmu yang dibenarkan oleh akidah tauhid. Selain itu untuk memperoleh ilmu syari’at atas dasar kewajiban sehingga bentuk perintahnya menjadi pondasi yang kuat-untuk dilaksanakan. Esensi uzlah adalah menghindarkan diri ari perbuatan tercela. Sedangkan hakikatnya adalah menggantikan sifat yang tercela untuk di isi denagn sifat yang terpuji, bukan untuk menjauhkan diri dari tempat tinggalnya / tanah arinya. Ditanyakan, “Siapak orang yang ma’rifat itu ?” dijawab ,”mereka adalah orang yang selalu berada di tepi jauh, yakni dia selalu bersama orang lain sedangkan hatinya jauh dari mereka”.
Asyaikh Al-Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “Berpakaianlah sebagaimana orang berpakaian, makanlah sebagaimana orang makan, dan menyendirilah dengan bersembunyi”. Beliau juga mengatakan, “Suatu hari seseorang datang kepadaku dan bertanya, ‘Saya datang kepadamu dari perjalanan yang sangat jauh ?’. lalu aku jawab cerita ini dengan bukan dengan arti jaarak perjalanan yang terputus dan perjalanan yang melelahkan. Renggagkan jiwamu dengan satu langkah, maka tujuanmu akan tercapai’”.
Diriwayatkan dari Abu Yazid Al Busthami, RA, beliau berkata, “Saya pernah bermimpi bertemu Tuhan, kemudian saya bertanya, ‘Bagaimana caranya agar aku isa bertemu denganNya ?” Dan Ia menjawab, “Pisahkan jiwamu dan bersegeralah datang”.
Abu Utsman Al-Maghribi mengatakan, “Barang siapa ingin meninggalkan masyarakat, selayaknya ia meninggalkan semua ingatan kecuali ingat kepada Tuhan, meninggalkan semua keinginan kecuali mencari ridha Tuhan, dan meninggalkan semua tuntutan hawa nafsu. Jika tidak demikian maka apa yang dikerjakan akan menimbulkan fitnah dan cobaan”. Menurut suatu pendapat, khalwat adalah pekerjaan yang paling dicintai untuk mendorong raa rindu.
Muhammad bin Hamid berkata, “Seseorang bertamu kepada Abu Bakar Al;-Waraq, ketika akan pulang ia meminta kepada Muhammad agar meberi wasiyat kepada dirinya. Abu Bakar Al-Waraq menjawab, “Engkau telah mendapatkan kebaikan di dunia dan di akhirat karena engkau selalu menyendiri dan meninggalkan pergaulan masyarakat. Kejelekan dari keduanya terletak pada pencampur adukan dan pembauran”.
Abu Muhammad Al-Jariri ditanya tentang uzlah, dia menjawab, “Uslah adalah masuk ke tempat yang sempit, menjaga rahasia agar tidak terjadi gesek menggesek dan meninggalan keinginan hawa nafsu sehingga hatimu terkait dengan kebenaran”. Ada yang berpendapat, urgensi uzlah adalah menghasilkan kemuliaan.
Menurut Sahal, khalwat tidak dpat dibenarkan kecuali dengan meninggalkan yang haram. Dan meninggalkan barang yang halal juga tidak dibenarkan kecuali dengan melaksanakan hak Allah Ta’ala. Dzunun AL-Mishri berkata, “Saya tidak pernah melihat sesuatu yang dapat menimbulkan sikap ikhlas kecuali kekasihmu adalah khalwat, makananmu adalah lapar, dan pembicaraanmu adalah lapar. Apabila engkau meninggal dunia, engkau selalu bersambung kepada Allah”. Dzunun al-Mishri juga ppernah berkata,”Orang tidak akan terhalang dari makhluk hanya karena khalwat sebagaimana orang tidak orang tidak akan terhalang dari mereka karena mendekatkan diri kepada mereka”.
Menurut Al-Junaid, “Susahnya uzlah lebih mudah dari pada siklus kehidupan bermasyarakat”. Menurut makhul As-Syami, “Jika kehidupan bermasyarakat memperoleh kebaikan, maka uzlahpun juga memberikan keselamatan”. Sedangkan menurut Yahya bin Muadz, “Menggabungkan keduanya merupakan cara yang terbaik bagi orang yang mencari kebenaran”.
Syaikh Abu Ali berkata dengan mengutip apa yang disampaikan Imam As-syibli, “Manusia akan bengkrut dan bangkrut “. Seseorang bertanya kepadanya, “Apa tanda-tanda orang yang bangkrut wahai Abu Bakar ?”. beliau menjawab, “Tamda orang yang bangkrut adalah orang yang menyakiti orang lain”.
Yahya bin Abu Katsir berpendapat, “Barang siapa yang bergaul dengan orang lain, maka ia akan didekati. Barang siapa yang mendekati orang lain maka ia akan dilihat”. Said bin Harits telah berkata, “Saya pernah mengunjungi Malik bin Mas’ud di kufah. Dia menyendiri di rumahnya. Setelah itu kutanyakan sesuatu kepadanya, ‘Apakah engkau tidak kesepian menyendiri di temapt ini ?’ Dia menjawab, “Saya tidak pernah melihat seseorang kesepian jika dia bersama – sama Allah”.
Al Junaid berkata, “Barang siapa yang hendak menyerahkan agamanya dab menentramkan tubuh dan hatinya, hendaknya ia menjauhkan diri dari orang lain. Masa sekarang adalah masa kesepian. Oleh karena itu, orang yang memiliki akal sehat, tentu akan menyendiri”. Al-Junaid telah mendengar Abu Bakar Ar-Razi berkata, “Abu Ya’qub As-Susi berkata bahwa seseorang tidak akan mampu menyendiri kecuali hanya orang-orang yang kuat. Oleh karena itu orang seperti kita bermasyarakat tentu lebih baik dan lebiih bermanfaat”. Abul Abbas Ad-Danaghani berkata, “Imam Syibli berwasiyat kepadaku, ‘ menyendirilah dan hapus namamu dan menghadaplah ke dinding sampai engkau mati”.
Ada seorang laki-laki datang kepada Syu’aib bin Harb, beliau bertanya , “Apa yang menyebabkan engkau datang kepadaku ?”. dia menjawab, “Agar saya dapat selalu bersamamu”. Kemudain Syu’aib berkata, “Wahai saudara, ibadah tidak akan bermanfaat jika berbaur dengan syirik. Barang siapa yang tidak mencintai Allah, maka ia tidak akan menjumpai sesuatu yang dicintainya”.
Sebagian ulama ditanya, “Apakah yang membuatmu heran / ujub ?”. Dia menjawab, “Keindahan yang dapat mendorong persahabatan. Oleh akrena itu aku selalu takut menyerahkan diriku kepada Allah Ta’ala akan menjadi rusak”. Ulama yang lain juga pernah ditanya, “Apakah di sana ada orang yang mencintaimu ?”. Dia menjawab, “Ya, dia selalau merentangkan kekuasaannya di dalam kiatbnya dan meletakkannya di atas batu”. Dalam konteks seperti ini ada sya’ir :
Kitab-kitabMu ada di sekelilingku
Oleh karena itu jangan kau pisahkan dari tempat tidurku
Di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan orang
Yang saya sendiri adalah yang menyembunyikannya
Seorang lelaki bertanya kepada Dzunun Al Mishri, “Kapan saya boleh uzlah ?”. Beliau menjawab, “Jka engkau telah mampu mengasingkan dirimu sendiri”.
Ibnu Mubatrak telah ditanya, “Apa obat hati ?” Dia menjawab, “Meminimalkan pergaulan dengan masyarakat”. Menurut suatu pendapat jika Allah hendak memindahkan seseorang dari kemaksiyatan yang hina menuju kemuliaan ta’at, Allah Ta’ala pasti mencintai dia dengan menyendiri, mencukupi dia dengan menerima, dan memperlihatkan dia segala cacat yang tertanam di dlm jiwanya. Apabila hal tersebut telah diberikan, maka kebaikan dunia danakhirat pasti akan diberikan kepadanya”.
Taqwa

Taqwa
Allah Ta’ala berfirman , “sesungguhnya yang paling mulia dari kamu sekalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa”. QS. Al-Hujarat 13
Abu Sa’id al-Khudri berkata, “Seorang laki-laki datang kepada RasuluLlah SAW seraya meminta nasihat, ‘Wahai Nabi Allah, wasuyatilah diriku ‘. Beliau menjawab, “Wajib atasmu bertaqwa kepada Allah karena sesungguhnya taqwa merupakan kumpulan semua kebaikan. Wajib atasmu untuk berjuang karena berjuang adalah ibadah/rahbaniyah orang islam. Dan wajib atasmu untuk selalu ingt kepada Allah karena mengingat Dia adalah cahaya bagimu”.
Seseorang telah bertanya kepada RasuluLlah SAW, “Wahai Nabi Allah, siapa keluarga Muhammad ?”. Beliau menjawab, “Orang yang bertaqwa kepada Allah Ta’ala, takwa merupakan kumpulan perbuatan baik, sedangkan esensinya selalu ta’at kepada Allah agar terhindar dari siksaanNya”. Ada suatu ungkapan, ‘Si fulan bertaqwa dengan perisainya. Oleh karena itu pondasi taqwa haris menghindari perbuatan syirik, maksiyat, dan perbuatan tercela. Selain itu juga menghindarkan diri dari perbuatan syubhat, perbuatan yang tidak berfaidah”.
Al Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “setiap klasifikasi pembagian terdapat satu bab dalam pembahasan. Untuk menafsirkan firman Allah Ta’ala, “bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa”.(QS. Ali Imran. 102) hal itu untuk dita’ati bukan untuk di ingkari, supaya untuk di ingat bukan untuk dilupakan, dan supayandisyukuri bukan untuk dikufuri”.
Sahal bin Abdullah berpendapat, tak ada seseorangpun yang dapat menolong kecuali Alla, tak ada argumrntasi yang benar kecuali RasuluLlah, tak satupun dari modal persiapan kecuali taqwa dan tak satupun amal kebaikan kecuali sabar”.
Menurut Al-Kattani, dunia diciptakan agar manusia menerima cobaan dan akhirat diciptakan agar manusia bertaqwa. Al Jariri berkata, “Barang siapa yang membrikan keputusan antara manusia dan Allah Ta’ala tanpa dasar taqwa dan pendekatan diri kepada Allah, maka dia tidak akan sampai kepadaNya.”
Menurut Nashr Abadzi, yang dimaksud dengan taqwa adalah seoang hamba yang tidak takut kepada apapun kecuali hanya kepada Allah . sahal berkata, “Barang siapa yang menginginkan agar taqwanya benar, maka ia harus meninggalkan semua perbuatan dosa. Nashr Abadzi berkata, “Barang siapa yang selalu bertaqwa, maka dia tidak merasa keberatan meninggalkan dunia sebagaimana firman Allah Ta’ala, ‘dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik agi orang yang bertaqwa apakah mereka tidak memikirkannya”’.QS. Al-An’am 32
Sebagian ulama berkata, “Barang siapa yang mampu mewujudkan taqwa, maka hatinya akan dikmudahkan oleh Allah untuk berpaling dari kemewahan dunia”. Menurut Abu Bakar Muhammad Ar-Rudzabari yang dimaksud taqwa adalah meninggalkan sesuatu yang dapat menjauhkan diri dari Allah Ta’ala. Menurut Dzunun Al-Mishri yang dimaksud orang yang taqwa adalah orang ang tidak mengotori jiwa bathin dengan interaksi sosial. Dalam kondisi yang demikian maka orang tersebut akan mengadakan kontak dengan Allah dan dapat berkomunikasi denagnNya. Ibnu ‘Atha’ berkata, “taqwa terbagi menjadi dua yaitu taqwa lahir dan taqwa bathin. Taqwa lahir adalah menjauhkan diri dari hal-hal yang dilarang, sedangkan taqwa bathin adalah niat dan ikhlash”. Sya’ir dari Dzunun Al-Mishri:
Tak ada kehidupan yang sejati
Kecuali dengan kekuatan hati mereka
Yang selalu merindukan taqwa dan menyukai dzikir
Ketenangan telah merasuk ke dalam bathin yang yakin
Dan yang baik
Sebagaimana bayi yang masih menetek
Telah masuk ke dalam pangkuan
Seorang laki-laki yang bertaqwa dapat dijadikan standar apabila memenuhi tiga hal. Pertama tawakal yang baik dalam hal yang tidak mungkin diperoleh. Kedua, ridha yang baik dalam hal yang telah diperoleh. Ketiga, sabar yang baik dalam hal yang telah lewat. Sedang menurut Thalq bin Habib, yang dimaksud taqwa adalah perilaku ta;at kepada Allah di atas cahayanya.
Diriwayatkan dari Hafs, ia berkata,”Taqwa harus ditanamkan dalam perbuatan yang halal lagi murni, bukan pada yang lain. “ Abul Husain Al-Zunjani berkata, barang siapa yang memiliki modal taqwa, maka berbagai ungkapan sifat jelek akan tertolak”.
Al Washiti mengatakan, “Yang diamksud taqwa adalah orang yang selalu memelihara ketaqwaannya. Orang yang taqwa dapat diperumpamakan seperti Ibnu Sirin. Ketika ia membeli 40 takar minyak samin, seseorang mengeluarkan tikus dari timbangan tersebut. Inbu Sirin bertanya, ‘dari timbangan mana engkau keluarkan tikus tersebut ? pemuda itu menjawab ‘akutidak tahu’. Setelah itu Ibnu Sirin menuangkan semua minyak ke tanah”. Dalam cerita lain Abu Yazid pernah membeli minyak parfum di kota Hamdzan dan mendapatkan kelabihan. Ketika ia pulang ke kota Bustam, dia melihat dua semut di dalam parfum tersebut. Setelah itu ia kembali ke kota Hamdzan dan meletakkan dua semut itu ke tempat penjual.
Diceritakan bahwa Abu Hanifah tidak pernah duduk di bawah bayangan pohon orang yang mempunyai hutang kepadanya, berdasarkan hadits RasuluLlah SAW, “Kullu Qardhin jirra naf’an fahuwa riba” yang artinya tiap-tiap hutang yang mendapatkan keuntungan adalah riba.
Diceritakan Abu Yazid telah mencuci pakaiannya di tanah lapang. Dia bersama temannya seraya berkata kepada Abu Yazid, “Pakaian ini kita jemur di atas dinding pohon anggur “. Abu Yazid menjawab, “janganlah engkau meletakkan pasak di atas dinding orang lain”. Temannya bertanya, “apakah ahrus kita jemur di atas pohon rerumputan ?”. Dia menjawab, “Tidak karena rerumputan itu adalah makanan hewan, maka kita tidak boleh menutupinya”, Setelah itu Abu Yazid menghadapkan punggungnya ke arah matahari, sedangkan paakian yang sebelah kanan sudah kering, maka ia membalikkannya hingga pakaian sebelah kiri juga kering.
Wara'
Wara’
Abu Dzar Al-ghifari berkata,” RasuluLlah SAW bersabda, “Min husnil islaamil mar’i tarkuhu maa laa ya’niih” yang artinya, “Sebagian dari kesempurnaan iman seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berarti“.
Yang dimaksud wara’ adalah meninggalkan hal-hal yang subhat. menurut komentar Ibrahim bin Adham yang dimaksud wara’ adalah meniggalkan hal-hal yang subhat dan yang tidak pasti (tidak dikehendaki) yakni meniggalkan hal-hal yang tidak berfaedah.
Abu Bakar Ash-Shidiq RA. berkata, “Kita telah meninggalkan 70 persoalan yang berkaitan dengan hal yang halal karena takut terkait dengan persoalan yang haram. Nabi SAW pernah menasehati ABu Hurairah RA. Kun Wara’am takun a’badanNaas yang artinya jadilah kamu orang yang waling wara’ niscaya kamu menjadi orang yang paling ahli beribadah diantara manusia.
As-Sary berkata, “ada empat ahli wara’ di masa mereka, yaitu Hudzaifah Al-Mashri, Yusuf bin Asbath, Ibrahim bin Adham, dan Sulaiman Al-Khawwas. Mereka mempunyai pandangan yang sama tentang wara’ . Ketika mereka mendapatkan persoalan yang sulit, mereka mampu meminimalkan”. Asy-Syibli berkata, “wara merupakan upaya untuk menghindarkan diri dari berbagai hal yang tidak berkaitan dengan Allah SWT”.
Diceritakan oleh Ishaq bin Khalaf, “Perak dalam ilmu logika lebih hebat dari pada emas dan perak, sedang zuhud dalam ilmu kepemimpinan lebih hebat daripada keduanya. oleh karena itu en gkau dapat menhgalahkan keduanya dalam mencari kepemimpinan.
Menurut Abu Sulaiman AD-Daarani, wara’ adalah permulaan dari zuhud, sedangkan qana’ah adalah akhir dari keridhaan. Sedangkan menurut Abu Utsman, pahala wara’ adalah takut terhadap hisab. Menurut Yahya bin Muadz, wara’ akan terhenti di atas ilmu tanpa ada perubahan.
Diriwayatkan pada suatu hari AbduLlah bin Marwa mengalami kebangkrutan. Dia berada di dalam sumur yang sangat kotor. Setelah itu dia menyewanya sehingga dia dapat keluar . AbduLlah bin Marwan ditanya tentang hal ini , maka dia menjawab, “Di atas sumur terdapat asma Allah Ta’ala.
Yahya bin Muadz berkata, “wara’ terbagi menjadi dua, pertama wara’ lahir. yaitu semua gerak aktivitas yang hanya tertuju kepada Allah SWT. Kedua, wara’bathin, yaitu hati yang tidak dimasuki sesuatu kecuali hanya mengingat Allah Ta’ala.
Yahya bin Muadz berkata, “barang siapa yang belum menikmati lezatnya wara’ , maka dia belum pernah menikmati pemberian Allah Ta’ala. Ada suatu ungkapan, Barang siapa yang pandangan keagamaannya baik dan bagus, maka derajadnya akan ditinggikan oleh Allah Ta’ala di ahri kiyamat. Yunus bin Ubaid berpendapat, yang di maksud wara’ adalah menghindarkan diri dari segala bentuk syubhat dan memelihara diri dari segala bentuk arah pandangan. Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Saya tidak pernah melihat sesuatu yang lebih mudah daripada wara’, kecuali meninggalkan hal yang keruh di dalam hati. Syaikh Ma[ruf Al-Kharqi juga berkomentar, “jagalah mulutmu dari pujian sebagai mana engkau menjaga mulutmu dari perilaku tercela”. Bisyir bin Harits berkata, “Perbuatan yang paling utama ada tiga, Pertama dermawan dalam keadaan tidak mempunyai sesuatu kecuali hanya sedikit. Kedua wara’ dalam keadaan khalwah, ke tiga berkata benar di hadapan orang yang takut kepada Allah Ta’ala dan meninggalkan harap kerelaannya”.
Dalam suatu cerita, saudara perempuan Bisyir Al Hafi datang kepada Ahmad bin Hambal seraya bertanya, “Suatu saat kami menarik tempat kami yang tinggi dan datar, kemudian ada cahaya obor yang mengikuti kami dan cahaya itu jatuh di hadapan kami, apakah boleh kami menarik cahaya obor itu ?.
“Siapa engkau ?”tanya Ahmad balik bertanya.
“Saudara perempuan Bisyir Al-Hafi”
Setelah itu ahmad bin Hambal menangis dan berkata “barang siapa yang memberikan perlindungan ( penginapan di waktu malam ) maka dia adalah orang yang wara’. Oleh karenanya, sinar obor itu jangan kau tarik”.
Ali Al-Aththar menceritakan, “Suatu hari saya melewati jalan kota bashrah. Tiba-tiba di sana ada beberapa orang tua yang sedang duduk dan beberapa orang anak yang sedang bermain. Saya bertanya, “Apakah kamu semua tidak malu terhadap beberapa orang tua itu ?” Salah seorang dari mereka menjawab, “Beberapa orang tua itu tidak memiliki sifat wara’ . Setelah itu saya menceritakan kepada mereka, tentang kehebatan anak-anak itu”.
Ada satu ungkapan, Malik bin Dinar tinggal di Bashrah selama empat puluh tahun, dia tidak pernah makan kurma, baik yang kering maupun yang basah sampai dia wafat. Ketika musim panen telah selesai, dia berkata, “Wahai penduduk Bashrah, inilah perutku yang belum pernah merasakan kekurangan dan kelebihan”.
Ibrahim bin Adham pernah ditanya, “apakah engkau tidak pernah minum air zam-zam ? Dia menjawab, “Seandainya ada timba pastilah saya minum”. Harits al-Muhasibi pernah mengulurkan tangannya untuk mengambil sesuatu makanan yang subat, tiba-tiba ujung jarinya berkeringat sehingga dia tahu bahwa makanan tersebut tidak halal. Diceritakan bahwa Bisyir Al-Hafi pernah diundang dalam suatu acara. Makanan telah diletakkan di hadapannya. Ketika dia mengulurkan tangannya, ternyata tangan tersebut tidak mengulur. Sampai dia kerjakan tiga kali. Peristiwa itu diketahui oleh seorang laki-laki . “Sesungguhnya tangan Bisyir tidak dapat diulurkan pada makanan yang syubhat. Oleh karenanya pengundang tersebut tidak layak mengundang Syaikh ini, “kata lelaki itu.
Sahal bin AbdulLah pernah ditanya tentang hal yang halal dan murni, beliau menjawab, “Barang yang dipergunakan bukan untuk bermaksiyat kepada Allah”. Beliau juga mengatakan, “Yang dimaksud hal yang murni halal adalah barang yang dipergunakan bukan untuk melupakan Allah Ta’ala”.
Hasan Al Bashri mengunjungi kota makkah beliau melihat salah seorang putera Ali bin Abi Thalib RA menyandarkan punggungnya ke ka’bah sambil menganjurkan kebaikan kepada orang banyak. Hasan Al Bashri berhenti dan bertanya, “Kebesaran agama itu apa ?”.
“wara’”.
“Penyakit agfama itu apa?”
“Tamak”.
Hasan Al Bashri kagum kepadanya sampai dia berkata, “Berat timbangan satu biji wara’ yang murni lebih baik dari pada timbangan puasa seribu puasa dan shalat”.
Abu Hurairah berkata, “Orang-orang yang selalu beribadah kepadan Allah Ta’ala akan dikumpulkan dengan orang-orang yang wara’ dan zuhud kelak di hari kiyamat.” Sahal bin AbduLlah berkata, “Orang yang tidak pernah bergaul dengan orang yang wara’ ibarat orang yang makan kepala gajah, tetapi ia tidak pernah kenyang”.
Dalam suatu cerita, Umar bin Abdul Aziz menerima minyak misik dari rampasdan perang, sementara beliau sedang memegang racun yang terkandung di dalamnya. Setelah mengamati sejenak, beliau berujar, “Dari minyak misik ini harumnya dapat diambil manfaat. Tetapi saya tidak menyukai harumnya itu kecuali terhadap orang islam”.
Abu Utsman Al-Mariri pernah ditanya tentang wara’, beliau bercerita, Abu Shahih Hamdun, seorang penatu, berada di samping temannya yang sedang sekarat dan akhirnya meninggal dunia. setelah itu Abu Shahih meniup lampu (mematikannya) dan kemudian beliau ditanya tentang hal tersebut, maka beliau menjawab, “Sampai sekarang minyak yang dipergunakan untuk menyalakan lampu masih ada, dan mulai sekarang minyak tersebut adalah milik ahli warisnya. Oleh karena itu carilah minyak yang lain”.
Seseorang berkata berkata dengan suara halus sambil menangis. “Saya telah berbuat dosa selama empat puluh tahun. Suatu hari saudaraku berkunjung kepadaku, setelah itu aku membeli ikan panggang untuknya. Ketika dia selesai makan, saya mengambilkan sedikit tanah liat dari dinding tetangga sehingga dia dapat membersihkan tangannya, namun sdmpai saat ini saya belum meminta maaf kapadanya”.
Seorang laki-laki pernah menulis di papan rumah sewaan. Diah hendak menghapus tulisan itu dengan debu dinding rumah. Di dalam hatinya terlintas bahwa rumah itu adalah rumah sewaan yang sebelumnya tidak pernah terlintas (terbayangkan untuk hal ini), sehingga pada akhirnya tulisan itu dihapusnya. Setelah itu ia mendengar suara hati “Orang yang menganggap remem apa yang menimpanya sehingga ia menghapus tulisan itu. Dia akan di hisab lama kelak di hari kiyamat”.
Ahmad bin Hambal mengadaikan bejana terbuat dari tembaga kepada tukang sayur di mekkah. ketika hendak menebusnya, penjual sayur itu mengeluarkan dua buah bejana seraya berkata, “Salah satunya dapat kau ambil”.
“Saya merasa sulit untuk memilih bejanaku, oleh karena itu bejana dan dirham sekarang menjadi milikmu”. Kata Imam Ahmad bin Hambal.
“Ini adalah bejanamu, saya ingin memberikan upah / imbalan kepadamu”. kata penjual sayur.
“Saya tidak mau mengambilnya”Jawab beliau seraya meninggalkan bejana itu karena takut dosa.
diriwayatkan bahwa Ibnu Mubarak meninggalkan hewan tunggangannya yang haganya mahal dan mengerjakan shalat dhuhur. hewan tunggangan itu kemudian berkeliaran di daerah pertanian kerajaan, setelah itu beliau meninggalkan hewan tunggangan tersebut dan dibiarkan begitu saja. Ada yang berpendapat, Ibnu Mubarak pulang dari marwa, menuju syam untuk mengembalikan pena yang dipinjam, tetapi ia tidak mengembalikan kepada pemiliknya.
Nakha’i pernah menyewa hewan tunggangan kemudian cambuknya terjatuh dari aaapegangan tangan. Setelah itu ia turun untuk mengambil cambuk tersebut. Seseorang berkata kepadanya Seandainya hewan tunggangan itu kembali ke tempat terjatuhnya cambuk , pati akan saya ambil”. Nakha’i menjawab, “hewan yang saya sewa memang harus saya perlakukan seperti ini, bukan seperti itu “.
Abu Bakar AD-Daqaq berkatas, “Saya telah mengunjungi daerah padang pasir bani Israel selama 15 hari. Ketika melawati sebuah jalan, saya dihadang oleh tentara untuk diberi minum sehingga hatiku kuat kembali selama tiga puluh tahun”. Dalam cerita lain Rabi’aah Adawiyah menjahit pakaiannya yang telah robrk di bawah pantulan lampu milik raja. hatinya sesaat terperangkap sehingga teringat sesuatu. Secara reflek beliau merobek bajunya sehingga dia mampu menemukan jati dirinya.
Sufyan Ats-Tsauri pernah bermimpi terbang bersama malaikat di surga. Dia ditanya oleh malaikat, dengan apa akmu memperoleh ini ?”.
“Dengan sifat wara’”
Hasan bin Sinan berhenti di depan teman-temannya seraya bertanya, “Apa yang paling hebat menurut kamu sekalian ?”.
“Wara”.
“Tidak satupun yang lebih ringan daripada wara’”
“Bagaimana mungkin ?” Mereka malah balik bertanya.
“Saya belum pernah minum air sungai kamu seklian dengan puas selama 40 tahun “.
Hasan bin Abi Sinan memang belum pernah tidur terlentang, bwlum pernah makan samin, dan belum pernah minum air dingin. SZuatu saat dia bermimpi meninggal dunia. Dalam kondisi demikian dia ditanya oleh seseorang “Apa yang telah Allah berikan kepadamu ?” Beliau menjawab, “Kebaikan “. Hanya saja saya terhalang masuk surga karena sebatang jarum yang pernah saya pinjam tetapi belum saya kembalikan”.
Abdul Wahid bin Zaid mempunyai seorang pelayan yang melayani selama dua tahun dan mengabdi (beribadah)selama 40 tahun . Pada awalnya ia diperintah mengabdi sebagai tukang takar, ketika ia meninggal dunia ABdul Wahid bermimpi bertemu dengannya.
“Apa yang telah Allah berkkan kepadamu ?” Tanya Abdul Wahid
Kebaikan. Hanya saja saya terhalang masuk surga dan saya telah dikeluarkan dari perangkap 40 karung debu”.
Nabi Isa pernah melewati kuburan. Salah satu dari orang yang telah meninggal memanggilnya. Setelah itu Allah menghidupkan orang itu , Nabi Isa bertanya, “Siapa engkau ?”.
“Saya adalah tukang pikul kayu yang selalu memberikan kemudahan untuk kepentingan orang lain . Suatu hari saya memindahkan kayu milik orang dan yang rusak saya pecahkan.. Setelah saya meninggal dunia saya dituntut untuk mengembalikan”. Kata si mayat dengan nada sedih.
Abu Said Al-Kharras membahas tentang wara’ Suatu saat dia bertemu dengan Abbas Al-Muhtadi dan bertanya, “Apakah engnkau tidak merasa malu duduk di bawah atap Abu Dawaniq, minum dari kolam anggur, dan berdagang dengan uang palsu, sedangkan engkau membahas tentang wara’”.
Zuhud
Zuhud
Nabi Muhammad SAW bersabda, “Idzaa ra-aitumurrajula qad uutiya zuhdan fiddunya wamunthiqan faqtaribuu minhu fa-innahuu yulaqqanul hikmah” ang artinta, “Jikamu kamu sekalian melihat seseorang yang dianugerahi zuhud terhadap dunia, dan berbicara benar, maka dekatilah dia, sesungguhnya dia adalah orang yang mengajarkan kebijaksanaan”.
Seorang Maha guru berkata, “Ulama berbeda pendapat tentang zuhud, diantara mereka ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud zuhud adalah meninggalkan (hal, perbuatan, barang) yang haram karena yang halal diperbolehkan Allah SWT . apabila Allah Ta’ala memberikan suatu kenikatan kepada seorang hamba lantas ia bersyukur kepadaNya maka Allah akan membalasnya dengan setimpal.
Diantara mereka ada juga yang berpendapat, “meninggalkan yang haram adalah wajib dan meninggalkann yang halal adalah keutamaan. Orang yang meminimalkan harta dan selalu beribadah disebut orang yang sabar terhadap dirinya sendiri., rela terhadapn apa yang ditetapkan Allah SWT, menerima apa yang diberikan Allah, dan lapang dada terhadap apa yang telah ditentukan Allah SWT”. Allah telah memberikan gambaran tentang zuhud kepada manusia dengan firmanNya ,”Qul mataa’uddunya qaliil wal aakhiratu limanittaqaa” yang artinya, “Katakan sesungguhnya kenikmatan dunia adalah sebentar, dan akhirat lebih baik bagi orang ang bertaqwa.
Selain itu terdapat beberapa ayat lain yang mencela kehidupan dunia dan menganjurkan hidup zuhud.
Sebaggian yang lain berpendapat, “Apabila seseorang menafkahkan hartanya, selaliu sabar danmeninggalkan apaa yang dilarang oleh syarak, alangkah lebih sempurnanya jika ia zuhud terhadap hal yang halal”.
Menurut ulama yang lain, selayaknya bagi hamba jangan memilih meninggalkan hal yang halal karena terpaksa, jangan mencari hal yang tidak ada faedahnya dari sesuatu yang tidak dibutuhkan, dan hendaklah menerima pembagian rizki yang telah ada. Apabila Allah SWT memberikan rizki yang halal maka hendaklah bersyukur. apabila Allah memberi harta yang hanya sekedar cukup, maka hendaknya janygan memaksa diri mencari harta yang tidak berfaedah. Oleh karena itu sabar lebih baik bagi orang yang fakir, sedangkan syukur lebig tepat bagi orang yang memiliki harta yang halal.
Menurut Sufyan Ats-Tsauri, yang dimaksud zuhud adalah memperkecil cita-cita bukan memakan sesuatu yang keras dan bukan pula memakai pakaian mantel yang kusut. Menurut As-Sirri, Allah Ta’ala menghilangkan kenikmatan dunia, melarangnya dan mengeluarkannya dari para kekasihnya. Allah Ta’ala tidak rela jika mereka menikmati dunia.
Menurut yang lain, kata-kata zuhud dikutip adri firman Allah Ta’ala yang berbunya, “liakilaa ta-suu ‘alaa maa faataakum walaa tafrachuu bimaa aataakum” yang artinya, “(kami jelaskann yang demikian itu agar mereka tidak berdukaa terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak terlalu gembira terhadap apa yang diberikanNya kepadamu”.
Orang yang zuhud tidak akan bangga dengan kenikmatan dunia, dan tidak akan mengeluh dengan kehilangan dunia. Sedangkan menurut pendapat Abu Utsman, yang dimaksud zuhud adalah meninggalkan kenikmatan dunia dan tidak mempedulikan orang yang dapat menikmatinya.
Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “Zuhud merupakan sikap anti kemewahan dunia, tidak berkeinginan membangun pondok / ribath, dan masjid”. Menurut Yahya bin Muazd, zuhud membawa implikasi mendermakan harta benda, sedangkan cinta membawa implikasi mendermakan diri sendiri. Menurut Ibnu Jala’, yang dimaksud zuhud adalah memandang dunia hanya pergeseran bentuk yang tidak mempunyai arti dalam pandangan. Oleh karenanya ia akan mudah sirna. Ibnu Khafif berpendapat, tanda-tanda zuhud adalah merasa senang meninggalkan harta benda, sedangkan yang dimaksud zuhud adalah hati merasa terhibur meninggalkan berbagai bentuk kehidupan dan menghindarkan diri dari harta benda. Sedangkan menurut pendapat yang lain yang dimaksud zuhud adalah jiwa merasa tenang meninggalkan kehidupan dunia tanpa keterpaksaan.
Nashr Abadzi berkata, “Yang dimaksudn orang zuhud adalah orang yang terisolir dalam kehidupan dunia. Sedangkan yang dimaksud orang ma’rifat adalah orang yang terisolir dalam kehidupan akhirat. “ Menurut satu pendapat barang siapa yang zuhudnya benar, maka dia akan menjadi orang yang rendah hati di dunia ini. Oleh karean itu dapat dikatakan, seandainya songkok yang jatuh dari langit, maka ia tidak akan jatuh kecuali di atas orang yang menginginkannya. Menurut Al-Junaid, zuhud adalah hati yang terhindar dari hal-hal yang negative.
Ulama salaf berbeda pendapat tentang arti zuhud. Menurut Sufyan Ats-Tsauri, Ahmad bin Hambal, Isa bin Yunus, dan ulama yang lain, arti zuhud adalah memperkecil cita-cita. Dalam pengertian ini terkandung beberpa indikasi zuhud, beberapa sebab yang muncul , dan beberapaarti yang telah ditetapkan.menurut Abdullah ibn Mubarak, zuhud adalah percaya kepada Allah SWT disertai sikap cinta terehadap kefakiran. Syaqiq Al-Balkhi dan Yusuf bin Asbath sependapat dengan pandangan tersebut yang juga mengandung beberapa indikasi zuhud. Oleh karena itu seorang hamba tidak mampu mengerjakan zuhud kecuali ia percaya kepada Allah SWT.
Menurut Abdul Wahid bin Zaid arti zuhud adalah meninggalkan dinar dan dirham. Sedangkan menurut Abu Sulaiman Ad-Darani, arti zuhud adalah meninggalkan aktifitas yang mengakibatkan jauh dari Allah SWT.
Al-Junaid ditanya tentang zuhud oleh Riwaim, beliau menjawab, “Memperkecil kehidupan dunia dan menghilangkan berbagai pengaruh yang ada di dalam hati “. Menurut as-Sary, kehidupan yang zuhud tidak akan menjadi baik jika yang bersangkutan masih menyibukkan diri. Demikian juga orang yang ma’rifat. Al-Junaid juga pernah ditanya tentang zuhud maka beliau menjawab, “Melepaskan tangan dari harta benda dan melepaskan hati dari kesenangan hawa nafsu”. Asy-Syibli pernah ditanya tentang zuhud, beliau menjawab, “Meninggalkan segala bentuk kehidupan dunia untuk beribadah kepada Allah”.
Menurut Yahya bin Mu’adz, orang tidak akan sampai kepada hakikat auhud kecuali dengan tiga hal. Pertama, perbuatan tanpa ketergantungan. Kedua ucapan tanpa keinginan hawa nafsu. Ketiga, kemuliaan tanpa kekuasaan. Menurut Abu Hafs, zuhud tidak akan terealisir kecuali dalam hal yang halal. Demikian juga haln yang halal tidak akan terealisir kecuali dengan zuhud.
Abu Utsman berpendapat, Allah SWT akan memeberikan sesuatu kepada orang zuhud melebihi apa yang dikehendaki, memberikan kepada orang yang cinta Allah SWT selain apa yang ia kehendaki, dan memberikan kepada orang yang konsisten beribadah sesuai dengan apa yang ia kehendaki.
Menurut Yayha bin Mu’adz, oranag yang zuhud akanmembuat cuka dan biji saei sebagai obat, sedangkan orang yang ma’rifat akan membuat minyak misik dan ambar sebagai parfum. Sedangkan menurut Hasan AL-Bashri, arti zuhud adalah benci terhadap orang yangmenyukai harta kekayaan dan apa-apa yang dimilikinya.
Sebagian ulama ditanya, “apakah zuhud itu?’.
“Meninggalkan sesuatu yang dimiliki orang lain.”
Seorang lai=ki-laki pernah bertanya kepada Dszunun Al-Mishri “kapan saya harus Zuhud ?”
“Ketika engkau sudah mampu mengasingkan dirimu.”
Muhammad bin Fadhal berkata, “Mengutamakan zuhud ketika dalam keadaan kaya dan mengutamakan fitnah / cobaan ketika dalam keadaan fakir. “
Allah SWT berfirman.”Wayu’tsiruuna ‘alaa anfusihim walau kaana bihim khashaashah” yang artinya, “Mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka, meskipun mereka sangat butuh (apa yang mereka berikan).
Al-kattani berkata, “Berbagai persoalan yang tidak pernah diperselisihkan oleh ulama kufah, Madinah, Irak, dan Syam adalah zuhud, kemurahan jiwa / hati, dan memberikan ansihat kepada orang lain, yakni tidak satupun dari ulama yang berpendapat bahwa berbagai persoalan tersebut merupakan perilaku yang tidak terpuji”.
Yahay bin Muadz ditanya oleh seseorang, “Kapan saya dapat memasuki pesanggrahan tawakal, memakai selendang zuhud, dan duduk bersama-sama orang yang zuhud ?”. Beliau enjawab, “Apabila engkau telah mampu melatih jiwamu, secara samara-samar dalam batas-batas yang seandainya Allah SWT tidak memberikan rizki kepadamu selama tiga hari jiwamu tidak akanmenjadi lemah. Apabila engkau tidak sampai pada kedudukan ini, maka dudukmu di permadani orang-orang yang zuhud adalah sia-sia, sehingga engkau mengalami kecacatan”.
Bisyr Al-Hafi berpendapat, zuhud ibarat benda milik yang tidak memperoleh tempat kecuali di hati yang suuci. Muhammad bin Asy’ats Al-Bikindi berkata, Barang siapa yang membahas zuhud dan memberikan peringatan tetapi dia mencintai harta mereka, maka cintanya terhadap akhirat akan dihilangkan oleh Allah SWT dari hatinya”.
Menurut suatu pendapat, apabila seorang hamba Allah SWT meninggalkan kehidupan duniawi, maka Allah SWT mengutus malaikat agar dia diberi hikmah di dalam hatinya. Sebagian ulama pernah ditanya, “untuk apa zuhud ?”. Beliau emnjawab, “untuk kepentingan diriku”.
Menurut Ahmad bin Hanbal, zuhud terbagi menjadi tiga, pertama meninggalkan hal yang haram, ini zuhud orang yang awam. Kedua, meninggalkan hal yang halal, ini zuhud orang yang istimewa. Ketiga, meninggalkan segala hal yang menyibukkan sehingga jauh dari Allah SWT. Ini zuhud orang yang ma’rifat”.
Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “sebagaimana ulama pernah ditanya, kenapa engkau zuhud ? “ Dia menjawab, “kkarena apabila saya meninggalkan hal-hal yang banyak , maka kecintaanku akan hal-hal yang sedikit akan menjadi hilang.”
Yahya bin Mu’adz berkata, “Dunia bagaikan pengantin perempuan. Barang siapa yang menginginkannya, bersikap lemah lembutlah kepada tukang sisir rambutnya. Orang yang zuhud akan menghitamkan muka pengantin, mencukur rambutnya, dan membakar pakaiannya. Sedangkan orang yang ma’rifat akan selalu sibuk mengingat Allah SWT tanpa menoleh kepadanya”.
As-Sariy berkata, “Saya telah membiasakan diri terhadap-hal-hal yang berkaitan dengan zuhud. Segala sesuatu yang kuinginkan telah ku peroleh kecuali emninggalkan orang banyak. Oleh karena itu saya belum sampai dan belum memperolehnya”.
Menurut satu pendapat, orang yang zuhud tidak akan keluar kecuali pada dirinya sendiri, karena mereka tidak menginginkan kenikmatan yang fana, tetapi menginginkann kenikmatan yang abadi / akhirat. Menurut Nashr Abadzi, yang dimaksud zuhud adalah mempertahankan darah orang-orang yang zuhud dan menumpahkan darah 0rang-0rang yang ma’rifat”.
sedAngkan menurut Hatim Al-Asham ayng dimaksud orang yang hendak zuhud adalah orang yang mampu menyerbu / menyerang hawa nafsunya sendiri sebelum kecerdikan / akal pikirannya timbul.
Fudhail bin Iyadh berkata, Allah SWT menjadikan segala kejelekan di dalam satu rumah dan menjadikan cinta kepada kehidupan dunia sebagai kuncinya. Allah SWT menjadikan segala kebaikan dalam satu rumah dan menjadikan zuhud sebagai kuncinya”.