Search This Blog

Monday, October 18, 2010

’Apa bila hawa nafsu dibelenggu dengan meninggalkan perbuatan dosa maka hati akan dapat menjelajah alam malakut

بسم الله الرحمن الرحيم
كيف يشرق القلب صور الاكوان منطبعة في مرأته ام كيف يرحل الى الله وهو مكبل بشهواته ام كيف يطمع ان يدخل حضرة الله وهو لم يطهر من جنابة غفلاته ام كيف يرجو ان يفهم دقا ئق الاسرار وهو لم يتب من هفواته

BAGAIMAAN HATI DAPAT BERSINAR SEDANGKAN GAMBAR RUPA-RUPA ALAM TERPAHAT DI DALAM CERMINNYA. ATAU BAGAIMANA HATI DAPAT SEGERA BERANGKAT KEPADA ALLAH SWT PADAHAL IA TERBELENGGU DENGAN SYAHWAT-SYAHWATNYA. BAGAIMANA KITA SANGAT MENGINGINKAN DAPAT MASUK KE HADIRAT ALLAH SWT SEDANGKAN HATI BELUM SUCI DARI KOTORNYA KELALAIAN. BAGAIMANA KITA MENGHARAPKAN DAPAT MEMAHAMI HALUSNYA RAHASIA-RAHASIA SESUATU PERKARA SEDANGKAN HATI BELUM BERTAUBAT DARI KESALAHAN-KESALAHANNYA.
Bersatunya dua perkara yang berlawanan adalah mustahil (sesuatu yang tidak mungkin terjadi) seperti bersatunya gerak dan diam, bersatunya cahaya dan kegelapan. Dan beberapa permasalahan yang disampaikan di atas adalah sesuatu yang berlawanan yang tidak akan mungkin dapat bertemu.
Sesungguhnya bersinarnya hati itu disebabkan oleh cahaya iman dan yakin berlawanan dengan الظلمة (kegelapan) yang menguasainya sehingga menyebabkan berdamainya dia dengan الاغيار (Segala sesuatu selain Allah SWT) dan berdamainya pula ia dengan hal duniawi serta berpegangan erat ia dengannya.
Adapun berangkat menuju pendekatan diri kepada Allah SWT adalah dengan memotong jeratan hawa nafsu dan pengekangan syahwat, tidak dengan pelepasannya yang mengakibatkan diri menjadi terbelenggu tak berdaya untuk bergerak berangkat menuju Allah SWT.
Adapun mesuk ke hadirat Allah SWT mewajibkan kesucian dari orang yang memasukinya serta kelurusan hati. Tidak dengan kekeruhan hati dan kelalaiannya yang akan menyebabkan kejauhan hati dari Allah SWT.
Untuk dapat memahami rahasia perkara yang halus dapat diperoleh dengan taqwa tidak dengan berlarut-larutnya berbuat maksiyat. Yang demikian ini telah diisyaratkan oleh firman Allah SWT

واتقو الله ويعلمكم الله
Dan takutlah kamu kepada Allah maka Allah akan memberikan kepadamu ilmu pengetahuan.

Dan sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadits

من عمل بما يعلم ورثه الله العلم ما لم يعلم
Barang siapa yang mengamalkan ilmu yang ia ketahui maka Allah SWT akan memberikan ilmu (baru) yang belum ia ketahu.

Imam Ahmad bin Hambal berkata kepada Ahmad Ibn Aby al-Hawary RA, “Wahai Ahmad ceritakan kepadaku sebuah kisah yang pernah engkau dengar dari ustadz engkau Abu Sulaiman”. Kemudian Abi Al Hawary menjawab, “Aku pernah mendengar Abu Sulaiman berkata,’Apa bila hawa nafsu dibelenggu dengan meninggalkan perbuatan dosa maka hati akan dapat menjelajah alam malakut dan hati akan menjadi tempat datangnya hikmah walaupun ia tidak di bimbing oleh orang yang yang alim’”.
Mendengar itu maka Ahmad bin Hambal berdiri dari tempat duduknya tiga kali dan duduk kembali tida kali sambil berkata, “Belum pernah aku mendengar di dalam hikayat islam sesuatu yang lebih mentakjubkan daripada ini”. Kemudian Ibnu Hambal membacakan hadits di atas dan berkata kepada Ahmad Abi al-Hawary, “Engkau benar wahai Ahmad, dan benar pula ustadz engkau, “. Dan karena inilah Al-Muallif merasa heran terhadap orang yang beri’tiqad adanya persekutuan dari dua hal yang berlawanan tadi dan itu adalah sesuatu yang mustahil. Demikian pula mengherankan bagi orang yang menginginkan derajat Rijal sedang diri masih memiliki karakter yang tidak baik........dinukil dari syarah al-Hikam ابن عطاء الله

كل شيء هالك الا وجه

Segala sesuatu akan binasa kecuali Allah


Telah sepakat pendapat para ‘arifiin dan ahli hakikat demikian pula isyarah mereka atas apa yang tersebut di atas bahwa segala sesuatu selain الله pada hakikatnya adalah عدم (tidak ada) jika disandingkan dan disifatkan dengan wujud الله SubhanaHu wa Ta’ala, Karena apabila disifatkan sama dengan sifat-Nya maka sama saja sebagai penyekutuan ( الشرك ). Dan yang demikian ini berlawanan dengan kemurnian tauhid. الله SWT telah berfirman :



كل شيء هالك الا وجهه
Segala sesuatu akan binasa kecuali الله.

Dan telah bersabda رسول الله SAW, “Sebenar-benar kalimat yang diucapkan di dalam sya’ir adalah, “

ألا كل شيء ما خلا الله باطل : وكل نعيم لامحالة زائل
Ingatlah bahwa segala sesuatu selain الله adalah bathil
Dan segala kenikmatan sudah pasti akan sirna
الكون كله ظلمة وانما اناره ظهور الحق فيه.. فمن رأى الكون ولم يشهده فيه او عنده او قبله او بعده فقد اعوزه وجود الاانواروحجبت عنه شموس المعارف بسحب الاثار
Mohon dibaca pelan-pelan jangan tergesa-gesa dengan harapan dapat memahami isinya.



Alam secara keseluruhan adalah gelap, adapun yang menyinari (membuat tampak / wujud) adalah adanya penampakan الله SWT di dalamnya. Oleh karena itu barang siapa yang melihat alam semesta akan tetapi tidak melihat الله padanya, atau di dalamnya, atau sebelumnya, atau sesudahnya, maka sesungguhnya ia kekurangan sinar Ilahi dan terhalang dari matahari ma’rifat oleh tebalnya awan semesta alam.

العد م (sesuatu yang tidak ada) adalah gelap, kosong atau nihil. الوجود (sesuatu yang wujud) adalah terang, nyata, ada. Alam semesta apabila disandingkan dengan Dzat-Nnya adalah gelap/kosong/عد م
Kemudia keadaan manusia bermacam-macam. Sebagian diantara mereka tidak melihat sesuatupun kecuali hanya alam semesta yang tampak di depan mata dan terhalang untuk dapat melihat Dzat Yang Menciptakan Alam. Maka yang demikian ini sesungguhnya mereka terhalangi oleh tebalnya awan (alam semesta) sehingga ia tidak dapat melihat Cahaya Yang Menampakkan alam.
Dan diantara mereka ada yang tidak terhalang dari Yang Menampakkan alam. Kemudian orang yang tidak terhalang dari melihat melihat Yang Menampakkan alam semesta itu bermacam-macam. Diantara mereka ada yang melihat Yang Menampakkan alam sebelum melihat alam. Golongan ini adalah mereka yang mendapatkan dallil penjelasan terhadap hakikat alam dari melihat adanya Dzat Yang Menampakkan alam terlebih dahulu kemudian menjadikan dalil bahwa alam itu ada yang mewujudkan yaitu الله SWT. Dan diantara mereka ada yang melihat Dzat Yang Menampakkan alam setelah melihat alam. Dan golongan inilah yang menjadikan alam sebagai dalil adanya Dzat Yang Menampakkan alam yaitu الله SWT.


مما يدلك على وجود قهره سبحانه أن حجبك عنه بما ليس بموجود معه

Salah satu hal yang menunjukkan sifat Maha Kuasa الله adalah dengan menghalangi engkau untuk dapat melihat-Nya dengan sesuatu yang sebenarnya tidak wujud / عدم(tidak ada).

Telah sepakat pendapat para ‘arifiin dan ahli hakikat demikian pula isyarah mereka atas apa yang tersebut di atas bahwa segala sesuatu selain الله pada hakikatnya adalah عدم (tidak ada) jika disandingkan dan disifatkan dengan wujud الله SubhanaHu wa Ta’ala, Karena apabila disifatkan sama dengan sifat-Nya maka sama saja sebagai penyekutuan ( الشرك ). Dan yang demikian ini berlawanan dengan kemurnian tauhid. الله SWT telah berfirman :

كل شيء هالك الا وجهه
Segala sesuatu akan binasa kecuali الله.
Dan telah bersabda رسول الله SAW, “Sebenar-benar kalimat yang diucapkan di dalam sya’ir adalah, "
ألا كل شيء ما خلا الله باطل : وكل نعيم لامحالة زائل
Ingatlah bahwa segala sesuatu selain الله adalah bathil
Dan segala kenikmatan sudah pasti akan sirna

Sayyid Abu al-Hasan Asy-Syadzili berkata, “sesungguhnya kami melihat kepada الله dengan pandangan iman dan yakin sehingga kami tidak memerlukan lagi dalil dan penjelasan. Dan dengan itu kami mendapat dalil tentang makhluk, yaitu adakah sesuatu yang wujud selain الله Yang Maha Esa dan Maha Kuasa ?, maka kami tidak mendapatinya. Jika ada tidaklah lebih mereka itu daripada seperti partikel debu di udara, jika diteliti sebenarnya mereka tidak pula berwujud sesuatupun”. Ibnu ‘Atha di dalam kitab At-Tanwir berkata, “Sesungguhnya segala sesuatu selain الله bagi para ahli ma’rifat tidak disifati sebagai sesuatu yang wujud / ada, karena tidak ditemukan sesuatu bersama-Nya disebabkan ketetapan sifat Ke-Maha Esaan-Nya.
Sebagian dari mereka berkata, “Jika aku diperintah untuk melihat selain-Nya niscaya aku tidak mampu karena sesungguhnya tidak ada sesuatu yang lain bersama-Nya”.

Dikatakan dalam sebuah sya’ir :
- Ketika aku tahu Dzat Yang Disembah, aku tidak melihat yang lain ><>
- Ketika berkumpul, aku tidak takut menjadi lemah ><>

- Katakan, dan abaikanlah yang wujud dan seisinya, Jika tidak maka akan tergolong yang ingkar secara sempurna.
- Karena sesungguhnya selain الله pada hakikatnya tidak ada baik secara terperinci maupun global.

- Adapun orang ‘Aarif, mereka lebur/luruh (fana) dengan tiada melihat sesuatu apanun selain المتكبر المتعالى Dzat Yang Maha Besar dab Maha Tinggi.
- Dan melihat yang lain secara hakikat adalah binasa pada masa seketika, atau masa lampau atau masa yang akan datang.


Dan telah banyak gubahan yang menerangkan hal tersebut di atas, dan apa yang disampaikan menurut kadar pencerapan mereka dan dzauq (rasa) mereka. Semoga الله melimpahkan rahmat-Nya kepada mereka
Dan sesungguhnya didapati kebanyakan manusia terhijab (terhalang) dari الله SWT oleh sebab nafsu syahwat dinuawiyah mereka. Demikian pula derajat di akhirat dan kedudukan yang tinggi di sana, semua itu termasuk (الاغيار) / sesuatu selain الله. Dan telah pula dikemukakan di atas suatu pernyataan وجود قهره karena salah satu asma الله SWT adalah القهار . Dan apabila disingkapkan tabir dari mereka niscaya mereka lebur / luruh / fana dari diri mereka sendiri dan dari iradahnya, dan baqa (abadi) bersama Tuhannya, dan jadilah ia sebenar-benar hamba.

Sesungguhnya Abu Sa’id Ibnu Arabi telah ditanya tentang fana, maka ia menjawab,”Fana adalah jika tampak keagungan dan kebesaran الله kepada seorang hamba, sehingga yang demikian itu membuat mereka lupa terhadap dunia dan terhadap akhirat dan terhadap ahwal (beberapa keadaan), dan derajat, dan maqamaat, dan adzkaar (dzikir), meluruhkan dirinya dari segala sesuatu dan dari akalnya dan dirinya, dan luruhnya ia dari segala sesuatu dan luruhnya ia pula dari keluruhan ( وعن فنائه عن الفناء ) karena ia tenggelam dalam keta’dziman akalnya.

Mereka berkata, sesungguhnya فناء (luruh) itu ada tiga macam, pertama فناء (luruh) di dalam af’al (perbuatan), dan ini sesuai apa yang mereka katakan لافاعل الاالله (tidak ada yang berbuat kecuali الله. Kedua فناء (luruh) di dalam sifat, artinya
لاحي, ولاعالم, ولاقادر, ولامريد, ولاسميع, ولابصير, ولامتكلم في الحقيقة الاالله
Tidak ada Yang Hidup, dan Mengetahui, dan Kuasa, dan Berkehendak, dan Mendengar, dan Melihat, dan Berbicara kecuali الله.


Ketiga فناء (luruh) في الذات artinya tidak ada yang wujud secara mutlak kecuali الله.
Syair : Maka terjadilah fana, kemudian fana, kemudian fana. Maka kefanaannya itu menjadikannya baqa’ abadi.

Telah berkata Sayyidy Muhyidin, “barang siapa yang melihat kalau makhluk itu tidak dapat berbuat apa-apa (kecuali الله yang menggerakkan), maka ia selamat. Barang siapa melihat makhluk bahwa tidaklah ada kehidupan atas mereka (karena Yang Maha Menghidupkan adalah الله maka dia telah mendapatkan hakikat. Dan barang siapa yang melihat makhluk sesungguhnya mereka itu bersifat ‘adam (tidak ada, karena Yang ada hanyalah الله) maka ia telah wushul / sampai

استسلام

ما ترك من الجهل شيئا من اراد ان يحدث في الوقت غير ما اظهره الله فيه

Tidak terlepas dari sifat kebodohan, orang yang hendak mengadakan sesuatu pada waktu yang الله tidak mengadakannya pada saat itu.

Apaila الله تعالى menempatkan seorang hamba pada suatu haal (keadaan) dari beberapa keadaan yang menghendaki ia harus konsisten pada keadaan tersebut, maka hendaknya ia senantiasa bersikap dengan adab yang baik agar ia tetap berada di dalam ahwal yang diberikan الله kepadanya, dan hendaknya ia ridha dengan haal (keadaan) tersebut, dan hendaklah ia ber-muraqabah kepada الله تعالى dengan sangat memperhatikan adab kepada-Nya, dan di dalam keadaan yang demikian senantiasa ia menyesuaikan diri dengan kehendak الله تعالى sampai الله memindahkannya dari satu hal kepada hal yang lain.

Abu Utsman RA berkata, “Aku Selama 40 tahun, tiada sekali-kali الله تعالى menempatkan aku dalam suatu keadaan (hal) kemudian aku membenci keaadan itu. Dan tidak pula Ia memindahkan aku ke keadaan (hal) lain kemudian aku membencinya”.
Dan sesungguhnya membenci suatu (hal) / keadaan ruhani pemberian الله, disertai keinginan dirinya untuk berpindah kepada hal yang lain, maka yang demikian ini sama saja ia ingin mengadakan sesuatu yang tidak diadakan oleh الله. Dan yang demikian ini adalah kebodohan yang nyata dari hamba kepada Tuhannya, dan merupakan Suu-ul adab / akhlak yang tidak baik dari seorang hamba kepada Tuannya عز وجل. Dan yang demikian ini termasuk penentangan terhadap hukum waktu menurut pendapat para sufi, Yang bagi mereka perkara ini termasuk dosa yang cukup besar.

Maka wajib bagi seorang hamba untuk ber استسلام, tunduk dan ta’at terhadap hukum Tuhannya Setiap saat. Itulah etika ubudiyah dan keharusan bagi العلم باالله, dan inilah salah satu makna الوقت pada istilah mereka (ahli tasawuf). Dan sebagian perkataan mereka adalah : الوقت سيف ‘Waktu adalah pedang’. Maksudnya adalah seperti pedang yang memiliki sifat memotong. Oleh karena itu barang siapa yang tidak dapat memperlakukan waktu dengan bijak maka sang waktu akan memotongnya dari jalan الله. Dan sesungguhnya hakikat waktu adalah apa yang wajib disikapi oleh seorang hamba pada memenuhi kehendak الحق. Barang siapa yang ditolong oleh waktu maka waktu baginya adalah keberuntungan. Dan barang siapa yang dikesalkan oleh waktu, maka waktu baginya adalah kesialan.


احالتك الاعمال على وجود الفراغ من رعونات النفس

Keinginanmu menunda amal, hingga nanti jika ada waktu luang, yang demikian itu termasuk memperturutkan nafsu


Apabila seorang hamba bercampuran dengan aktifitas duniawi seperti perniagaan, kerja mencari penghidupan dan lain sebagainya, sudah pasti semua itu membuat dirinya sibuk, yang dapat menghalanginya dari melakukan amal kebajikan. Dan keinginan untuk menunda amal sampai mendapatkan waktu luang sehingga ia berkata, “Nanti jika ada waktu luang maka aku akan beramal”, maka yang demikian ini termasuk memperturutkan hawa nafsu. Menuruti hawa nafsu adalah termasuk kebodohan, sedang kebodohan itu disebabkan oleh beberapa segi, yang pertama adalah ketetapan hati untuk memilih dunia daripada akhirat. Dan yang demikian ini bukanlah sifat orang berakal dan orang-orang beriman. الله تعالى berfirman :

بل تؤثرون الحياةالدني والأخرة خيروأبقى

Bahkan mereka lebih memilih kenikmatan dunia, Dan adalah akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.
Kedua, adalah penundaan terhadap amal salih dan menunggu sampai mendapatkan waktu lapang. Dan terkadang ia tidak pernah mendapatkan sama sekali, malahan ia disambar oleh maut terlebih dahulu. Atau akan bertambah kesibukannya karena sesungguhnya اشغال الدنى (kesibukan dunia) akan saling mengajak yang satu kepada yang lain.
Ketiga, barangkali ia sempat mendapatkan waktu yang lapang. Akan tetapi karena berjalannya waktu maka azam-nya sudah berganti, dan niyatnya sudah menjadi lemah. Dan pada yang demikian ini akan mengajak pada menyedikitkan amal dan penolehan kepada kemampuan dan kekuatan dirinya di dalam mengerjakan amal tersebut, bukan karena pertolongan الله.

Oleh karena itu yang paling baik adalah bersegera mengerjakan amal pada seketika dan pada kondisi apa saja, dan segera bangkit ketika mendapat kesempatan sebelum datangnya maut dan hilangnya kesempatan. Dan hendaklah bertawakal kepada الله SWT agar dimudahkan dalam beramal salih.

Pilihan-Nya adalah yang terbaik

Janganlah engkau menuntut dari-Nya agar Dia mengeluarkanmu dari suatu keadaan dan menjadikanmu pada kondisi yang lain yang engkau inginkan, karena jika Dia menghendaki niscaya Dia akan menjadikanmu sesuai yang engkau inginkan tanpa harus mengeluarkanmu dari keadaanmu yang sekarang.
Sebagaimana seseorang berada dalam suatu keadaan atau kondisi yang tidak ia suka baik itu berhubungan dengan masalah dunia atau agama, maka tidak semestinya dia berkeinginan keluar dari keadaan tersebut atas inisiatif sendiri dan berpaling dari hukum waktu –nya, karena yang demikian ini sama saja ia menginginkan sesuatu yang tidak di wujudkan oleh Alloh SWT pada saat itu sebagaimana diterangkan pada bab terdahulu :
ما ترك من الجهل شيئا من اراد ان يحدث في الوقت غير ما اظهره الله فيه
Tidak terlepas dari sifat kebodohan, orang yang hendak mengadakan sesuatu pada waktu yang الله tidak mengadakannya pada saat itu
Maka yang mesti ia lakukan adalah tidak berpaling dari hukum waktu dan tidak mencari sesuatu dari Tuhannya agar Ia dikeluarkan dari keadaan tersebut, karena yang demikian ini termasuk memilih-milih sesuatu untuk keinginan dirinya bukan menyerahkan pilihan Tuhan untuk dirinya. Oleh karena itu yang terbaik adalah ber-adab- / tatakrama yang baik dihadapan-Nya dan memilih kehendak-Nya daripada kehendak diri sendiri. Apabila sudah demikian, maka akan tampak jelas kebenaran keadaan dirinya dan akan terlihat jelas kecintaan / mahabah nya kepada Alloh Ta’ala. Maka ia akan berbuat sebagaimana perbuatan kekasih, sementara ia tetap pada keadaan / ahwalnya tanpa harus keluar dari ahwal tersebut. Maka jadilah ia ketika itu sebagai orang yang selalu dalam kehendak Alloh bukan kehendak diri sendiri, dan pasti hal itu lebih baik daripada apa yang ia pilih untuk dirinya.
Di dalam kitab Tanwir dikisahkan, diantara mereka ada yang berkata :
“Aku pernah menginginkan jika aku dapat meninggalkan semua sebab-sebab rizki (tidak bekerja / bertajrid) sementara setiap hari aku bisa mendapatkan dua potong roti. Dan yang demikian ini aku maksudkan agar aku dapat santai dari kepayahan mencari rizki”.
Orang tersebut melanjutkan kisahnya :
“Maka suatu saat aku dimasukkan ke dalam penjara, dan di sana setiap hari aku mendapatkan dua potong roti sampai waktu yang cukup lama, hingga aku merasa sangat bosan. Maka aku memikirkan masa laluku yang menginginkan dua potong roti setiap hari, sehingga terbersit dalam hatiku sebuah suara, “Sesungguhnya engkau menginginkan dari-Ku dua potong roti setiap hari akan tetapi engkau tidak meminta kepada-Ku kebaikan dan keselamatan. Oleh karena itu Aku beri engkau apa yang engkau minta”. Maka aku mohon ampun dan kembali kepada Alloh dan tiba-tiba pintu penjara terketuk sehingga aku selamat dapat keluar dan kembali ke tempat tinggalku”.
Maka beretikalah wahai orang mukmin dan janganlah engkau meminta untuk dikeluarkan dari suatu keadaan atau dimasukkan dalam suatu keadaan yang lain, karena yang demikian ini termasuk su’ul adab bersama Alloh. Bersabarlah engkau dari pada keluar dari suatu keadaan atas inisiatif dirimu sendiri, mungkin akan engkau dapatkan apa yang engkau inginkan, akan tetapi tidak engkau dapatkan kedamaian di dalamnya.

Tetaplah berjalan jangan berhenti

Manakala seorang salik berkeinginan untuk berhenti pada sesuatu yang telah dibukakan untuk dirinya (dari beberapa ma’rifat), niscaya akan ada seruan dari alam hakikat “Sesungguhnya yang engkau cari (bukan itu) tetapi masih berada di depanmu”. Dan manakala ditampakkan keindahan alam semesta (yang menarik hati untuk condong kepadanya, maka hakikatnya akan menyeru, “Sesungguhnya aku ini adalah fitnah oleh karena itu janganlah engkau kufur”.
Orang yang menempuh perjalanan menuju Alloh akan ditampakkan di tengah perjalanannya berbagai cayaha dan rahasia-rahasia. Apabila timbul keinginan untuk berhenti pada penampakan-penampakan itu, dimana ia berkeyakinan bahwa ia telah sampai pada tujuan dan ma’rifah, niscaya akan ada seruan yang lembut (hatif) dari alam hakikat, “sesungguhnya sesuatu yang engkau cari masih berada di depanmu, oleh karena itu bersungguh-sungguhlah dalam berjalan dan jangan berhenti”. Dan manakala diperlihatkan keelokan dunia dan alam semesta beserta kecantikannya sehingga membuat hati condong dan tertarik kepadanya, niscaya ia akan dipanggil dari alam hakikat, “sesungguhya aku adalah fitnah maka janganlah engkau kufur dan pejamkanlah matamu dari semua itu dan janganlah engkau berpaling kepadanya, dan abadikan suluk (perjalananmu)”.
Ketahuilah sesungguhnya apabila engkau masih memiliki hasrat dan keinginan selain Alloh berarti engkau masih dalam perjalanan yang jauh dan belum sampai tujuan. Jika engkau membersihkan segala keinginanmu, niscaya telah sampailah engkau. Alangkah sesuainya apa yang disampaikan oleh Abul Hasan At-Tustari mengenai hal di atas :
Dan janganlah engkau menoleh kepada yang lain dalam perjalananmu
Karena sesungguhnya segala sesuatu selain Alloh akan berubah
Maka jadikanlah dzikir kepada-Nya sebagai perisai
Pada kesempatan lain dikatakan,” Ingatlah jika engkau ingin mendapatkan bagian dari apa yang diperoleh para kekasih Alloh, wajib bagi kamu untuk meninggalkan manusia kecuali mereka yang dapat menunjukkanmu jalan kepada Alloh baik dengan isyarah yang benar dan amal yang kokoh yang tidak berlawanan dengan kitab dan sunah, dan berpalinglah dari dunia secara keseluruhan. Dan janganlah kamu termasuk golongan orang yang berpaling dari dunia akan tetapi mengharapkan sesuatu yang lain, akan tetapi jadikanlah keberpalingan itu menuju penghambaan kepada Alloh SWT yang memerintahkanmu untuk berpaling dari musuh-Nya. Apabila engkau telah mendapatkan dua perkara ini (berpaling dari manusia dan zuhud atas dunia) maka engkau akan teguh bersama Alloh dengan bermuraqabah kepada-Nya, senantiasa bertaubat, beristighfar dan senantiasa kembali kepada-Nya, tunduk dengan hukum-hukum-Nya, dan istiqamah
Adapun penafsiran masalah di atas yaitu, bahwa engkau berdiri sebagai hamba Alloh dan selalu mengawasi hatimu agar hatimu tidak melihat sesuatu di dunai ini selain Dia. Apabila datang di hatimu sesuatu selain Dia, maka akan ada seruan kebenaran (hatif yang haq) yang berkata, “Sesungguhnya engkau telah buta dari jalan kebenaran. Bagaimana engkau berdiri dihadapan Alloh dengan keadaan seperti itu sementara engkau telah pula mendengarkan firman-Nya
وَكَانَ اللّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ رَ قِيْبَا
,” ” Dan sesungguhnya Alloh mengawasi segala sesuatu”.
Maka pada saat itu akan tumbuhlah rasa malu pada dirimu yang akan membawamu kepada taubat dan semestinya engkau abadikan taubatmu

Bagaimana Mungkin الله Terhijab Dari Kita

كيف يتصور ان يحجبه شيء وهو ظهر بكل شيء
Bagaimana digambarkan bahwa Dia (لله) terhijab oleh sesuatu padahal Dia-lah Yang tampak dengan segala sesuatu. (Sehingga dari sesuatu yang wujud, orang-orang dapat mengambil dalil akan adanya لله), sebagaimana firman لله SWT,
سنريهم آياتنا في الآفاق وفي انفسكم
Akan Kami perlihatkan kepada mereka ayat-ayat Kami pada setiap ufuk dan pada diri kamu sekalian.


كيف يتصور ان يحجبه شيء وهو ظهر فى كل شيء
Bagaimana digambarkan bahwa Dia (لله) terhijab oleh sesuatu padahal Dia tampak di dalam segala sesuatu. (karena sesungguhnya Dia bermanifestasi di dalam segala sesuatu dengan segala kebagusan sifat-sifat-Nya dan asma-asma-Nya).


كيف يتصور ان يحجبه شيء وهو ظهر لكل شيء
Bagaimana digambarkan bahwa Dia (لله) terhijab oleh sesuatu padahal Dia-lah yang tampak bagi segala sesuatu. (di dalam mengkondisikan segala sesuatu sehingga semua yang ada tunduk dan sujud kepada-Nya, bertasbih dengan me-Maha Sucikan-Nya, akan tetapi kita tidak faham dengan tasbih dan tahmid mereka).


كيف يتصور ان يحجبه شيء وهو ظاهرقبل كل شيء
Bagaimana digambarkan bahwa Dia (لله) terhijab oleh sesuatu padahal Dia telah ada sebelum adanya segala sesuatu. (sebagaimana aktualisasi nama-nya Yang Maha Azali dan Yang Maha Abadi)


كيف يتصور ان يحجبه شيء وهو اظاهر من كل شيء
Bagaimana digambarkan bahwa Dia (لله) terhijab oleh sesuatu padahal Dia lebih tampak daripada segala sesuatu. (Karena Yang wujud sudah pasti lebih tampak daripada yang ‘adam / tidak wujud pada segala keadaan, vsebagaimana telah diterangkan bahwa segala sesuatu selain لله pada hakikatnya adalah ‘adam apabila disandingkan dengan wujud لله.


كيف يتصور ان يحجبه شيء وهوالواحد الذي ليس معه شيء
Bagaimana digambarkan bahwa Dia (لله) terhijab oleh sesuatu padahal Dia adalah Dzat Yang Maha Esa yang tidak ada sesuatu yang menyertai-Nya. (Karena segala sesuatu selain Dia adalah sudah pasti ‘adam / nihil.


كيف يتصور ان يحجبه شيء وهواقرب اليك من كل شيء
Bagaimana digambarkan bahwa Dia (لله) terhijab oleh sesuatu padahal Dia lebih dekat kepadamu daripada segala sesuatu. (dikarenakan kesenantiasaan Dia meliputi engkau dan dikarenakan adanya Dia yang mengatur diri engkau.


كيف يتصور ان يحجبه شيء ولولاه ماكان وجود كل شيء
Bagaimana digambarkan bahwa Dia (لله) terhijab oleh sesuatu padahal kalau bukan karena Dia maka tidak akan terwujud segala sesuatu.


يا عجبا كيف يظهر الوجود فى العدم
Alangkah ajaib, bagaimana Yang Wujud akan tampak di dalam sesuatu yang tidak ada (kosong). (karena العدم adalah gelap, dan الوجود adalah terang. Dan keduanya adalah berlawanan sehingga tidak mungkin terkumpul keduanya.


ام كيف يثبت الحادث مع من له وصف القدم
Bagaimana sesuatu yang baru (الحدث) akan eksis disandingkan dengan Dzat Yang memiliki sifat Dahulu. (karena sesuatu yang bathil tidak akan eksis apabila tampak Yang Haq sebagaimana firman لله SWT :
وقل جاءالحق وزهق الباطل ان الباطل كان زهوقا
Katakanlah kepada mereka, telah datang kebenaran dan rusaklah yang bathil. Sesungguhnya yang bathil akan binasa.
Dan sebagaimana firman-Nya:
بل نقذف بالحق علي الباطل فيدمغه فاذ هو زاهق
Tetapi kebatilan kami halau dengan kebenaran sehingga menjadi sia-sia maka kemudian ia binasa.

AKHLAK

Alloh SWT berfirman :
وانك لعللى خلق عظيم
Dan sesungguhnya Engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung" (Al-Qalam 4)


Dari Anas bin Malik diriwayatkan tentang makna "yang paling baik akhlaknya" ditanyakan kepada Nabi SAWW, "Ya rasululLoh, siapakah orang mukmin yang paling utama imannya ?"
Jawab beliau, "yang paling baik akhlaknya".
Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq berkata, "Akhlak yang baik adalah perjalanan hamba yang paling utama. Dengan akhlak yang baik maka cahaya sikap kesatrianya akan Nampak. Manusia yang tertutup (mastur) dari makhluk akan tersingkap akhlaknya".
Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, "Sesungguhnya Alloh mengkhususkan Nabi-Nya dengan apa-apa yang memang hanya dihususkan untuknya. Dia tidak memujinya dengan sesuatu dari sifat-sifatnya seperti yang dipujikan oleh makhluk-Nya. Alloh menegaskan fainnaka la'alla khuluqin adim.
"Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung". Sedangkan menurut tafsiran Muhammad Al-Washiti, ayat tersebut bermakna Tuhan mensifati Nabi Muhammad SAWW dengan akhlak yang agung karena beliau adalah manusia terbaik diantara penduduk alam dan cukup dengan pujian Alloh. Dia juga mengatakan, bahwa akhlak yang agung adalah ketiadaan orang yang membantah dan dibantah karena pengetahuannya yang begitu mendalam mengenai Alloh. Makna akhlak yang mulia menurut Husin bin Mansur adalah ketiadaan buih (kesia-siaan) bekas makhluk dalam diri seseorang setelah pencapaian penglihatan pada Al Haqq. Sedangkan menurut Ahmad bin Isa Al Kharaz adalah ketiadaan keinginan atau cita-cita selain yang ditujukan kepada Alloh.
Menurut Muhammad Al-Kattani akhlak tercermin dalam sikap sufi. Artinya tasawuf adalah akhlak yang menjadi bekal dalam kebersamaanmu dengan Alloh.
Fudhail bin Iyadh berkata, "Seandainya seorang hamba memperbaiki semua kebaikannya sementara dia mempunyai seekor ayam lalu memperlakukannya dengan tidak baik, maka dia bukanlah seorang yang berakhlak.
Dikatakan bahwa Ibnu Umar RA jika melihat salah seorang budaknya yang memperbaiki salatnya maka dia memerdekakannya. Akhlaknya yang demikian itu sempat diketahui oleh budak-budak yang lain, maka mereka memperbaiki salatnya dengan menampak-nampakannya di hadapan Ibnu Umar dan Ibnu Umar memerdekakan mereka. Seseorang memprotesnya, "mereka shalat dengan ria" lalu dijawab, barang siapa menipuku didalam Alloh, hakikatnya dia sesungguhnya menipu saya karena Alloh".
Harits Al-Muhasibi berkata, "Kami mencari tiga hal yang hilang yaitu eloknya wajah bersama pemeliharaan kesucian diri, bagusnya ucapan bersama amanat, dan bagusnya persaudaraan bersama pemenuhan". AbduLlah bin Muhammad Ar-Razi berkata, "Budi pekerti adalah sikap yang menganggap kecil pada apa yang berasal darimu, dan menganggap besar dari apa yang berasal dari selain dirimu".
Ditanyakan pada Ahnaf bin Qais, "Dari siapa Tuan belajar akhlak ?"
"Dari Qais bin Ashim Al-Munqiry".
"Sampai sejauh mana akhlaknya ?"
"Ketika kami duduk di rumahnya, tiba-tiba seorang budak wanita datang dengan mebawa besi panas, sebagai alat pemanggang daging. Benda itu lepas dari tangannya dan jatuh menimpa anak laki-laki Qais sehingga menyebabkan kematian-nya. Budak itu sangat ketakutan, tetapi Qais justru menghiburnya dengan megatakan, "Jangan takut, engkau bebas karena Alloh".
Syah Al-Kirmani berkata, "Tanda akhlak yang baik diantaranya menahan penderitaan dan menangggung siksaan." RasuluLloh SAWW bersabda, "
انكم لن تسعواالناس باموالكم فسعواهم ببسط الوجه وحسن الخلق
"sesungguhnya kamu tidak akan bisa memuaskan manusia dengan hartamu, puaskanlah mereka dengan kecerahan wajah dan bagusnya budi pekerti".
Ditanyakan kepada Dzunun Al-Mishri, "Siapakah yang paling menggelisahkan manusia ?"
"Yang paling buruk akhlaknya".
Wahab mengatakan bahwa tidaklah seseorang yang menjalankan akhlak yang baik selama 40 hari melainkan Alloh SWT akan menjadikan akhlak itu sebagai karakternya.
Firman Alloh SWT berfirm :
وثيابك فطهر
"Dan pakaianmu maka sucikanlah".
Dikatakan bahwa ada seorang dari jama'ah haji memiliki seekor kambing. Dia melihatnya sedang terpancang di atas tiga tombak.
"Siapa yang melakukan ini ?"
"Saya," Jawab seorang anak budak.
"Kenapa engkau lakukan ini ?"
"Untuk menjagamu ". Kata budak itu.
"Tidak, bahkan untuk menutupi perkaramu. Pergi dan engkau kini bebas." Jawabnya.


Ditanyakan kepada Ibrahim bin Adham,"Apakah egkau pernah bahagia di dunia ?"
"Ya..dua kali".
"Apa saja itu ?"
"Pertama, ketika saya sedang duduk, datang seseorang mengencingi saya. Kedua, ketika saya duduk, datang seseorang dan langsung menampar saya".
Adalah Uwais Al-Qarni apabila terlihat oleh anak-anak, maka mereka akan melempirnya dengan batu.
"Anak-anak, "Sapanya lembut.
"Jika kalian hendak melampariku dengan batu, saya mohon lemparilah dengan batu-batu yang kecil, agar lutuku tidak pecah sehingga menghalangiku dari mengerjakan shalat".


Ada seorang lelaki bengis mencaci maki Ahnaf bin Qais. Lelaki itu terus mengikutinya sambil mengeluarkan kata-kata kotor sampai dia malu sendiri dan berhenti dari mencaci maki.
"Wahai kawan ," Sapa Ahnaf.
"Jika masih tersisa sesuatu di hatimu, maka muntahkanlah sekarang saja agar para ulama fikih tidak mendengarmu sehingga mereka akan mengadilimu".


Ditanyakan pada Hatim Al-Asham," Apakah tiap orang memiliki tanggungan ?"
"Ya, kecuali dirinya," jawabnya.


Dikisahkan bahwa Khalifah Ali bin Abi Thalib RA memanggil seorang budak dan budak itu tidak menyahutinya. Beliau mengulanginya sampai tiga kali dan tetap tidak mendapat respon. Khalifah melangkah mendekat dan melihat budak itu sedang berbaring enak-enakan.


"Apakah kamu tidak mendengar wahai bujang ?"
"Mendengar," Jawabnya ringan.
"Apa yang membuatmu tidak menyahut ?"
"Saya merasa aman dari ancaman siksamu, karena itu saya bermalas-malasan."
"Pergilah, engkau bebas karena Alloh". Jawab Khalifah Ali RA.


Diriwayatkan bahwa Ma'ruf Al Kharqi turun ke sungai Daljah untuk mengambil wudhu. Dia letakkan mushaf dan jubah luarnya, tiba-tiba datanglah seorang wanita dan mengambil dua barang itu. Ma'ruf melihat lalu membuntutinya.
"Wahai saudariku, "sapanya. "Saya adalah Ma'ruf AL-Kharqi. Anda jangan takut sebab anda tidak bersalah. Apakah engkau memiliki anak yang bisa membaca ?"
"Tidak."
"Sudah menikah ?"
"Belum"
"Kalau begitu, kembalikan mushaf saya dan ambilah baju itu".

Sekelompok pencuri memasuki rumah Syaikh Abu AbduRrahman As-Sulami dengan terang-terangan. Mereka berlagak seolah – olah tidak merasa takut. Mereka mengambil semua apa yang dijumpainya. Abu AbduRrahman mengetahuinya, namun membiarkan mereka pergi dengan begitu saja. Pada hari berikutnya dia keluar dan menemukan sesuatu yang berkaitan dengan kasus pencurian.
"Ketika saya melewati pasar,"jelasnya..,"saya melihat jubah saya pada seseorang yang sedang menawarkannya. Saya segera berpaling dan tidak menoleh kepadanya."
Ahmad Al-Jariri berkata, "Saya kembali dari Makkah dan segera mendahului Al-Junaid agar dai tidak menyulitkan saya (melayaniku sehingga membuatku sibuk membalasnya). Saya ucapkan salam kepadanya kemudian meninggalkannya dan terus beranjak pulang. Ketika saya shalat subuh di masjid, tiba-tiba dia berada di shaf belakang saya. Selesai shalat, saya berkata kepadanya, "Kemarin saya mendahuluimu supaya engkau tidak menyulitkan saya".
Dia menjawab, "Itu adalah keutamaanmu dan ini adalah hakmu".
Abu Hafsh pernah ditanya mengenai akhlak lalu dijawab, "Akhlak adalah apa yang dipilihkan Alloh SWT untuk Nabi-Nya sebagaimana yang tertulis di dalam firman-Nya :
خذ العفو وأمر بالعرف وأعرض عن الجاهاين
"Jadilah pemaaf, dan suruhlah orang berbuat kebajikan, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh".


Disamping itu, banyak pendapat yang memberikan makna akhlak dalam beberapa pengertian. Ada yang mengartikan sebagai keberadaan seseorang yang dekat dengan manusia dan disertai keterasingannya dengan hal-hal yang berlaku di tengah-tengah kehidupan mereka. Ada juga yang mengartikan sebagai penerimaan sesuatu yang mendatangi dari kesia-siaan makhluk dan kepastian Al-Haqq, tanpa merasa jemu dan gelisah.


Abu Dzar Al-Ghifari datang ke kolam hendak mengambil air untuk air minum untanya. Akan tetapi sebagian pengambil air yang lain menyerobotnya dengan kasar. Abu Dzar hanya bisa memandang , lalu duduk kemudian berbaring. Seseorang yang melihatnya heran dan bertanya, kemudian dijawab, "Sesungguhnya RasuluLloh SAWW memerintahkan kita jika seseorang marah, maka hendaknya ia duduk. Jika dengan duduk tidak juga hilang, maka hendaklah ia berbaring".


Disebutkan di dalam kitab injil, "Hamba-Ku, ingatlah Aku ketika engkau marah, maka Aku akan mengingatmu ketika Aku marah".
Luqman bertanya kepada anaknya," Tidak akan diketahui tiga hal kecuali dalam tiga hal : Kasihan ketika marah, keberanian ketika dalam perang, persaudaraan ketika dibutuhkan". Nabi Musa AS pernah mengadu kepada Alloh SWT, "Tuhan saya memohon kepada Engkau untuk mengatakan kepadaku apa yang tidak ada pada diriku". Alloh mewahyukan kepadanya, "Engkau tidak melakukan demikian untuk-Ku, maka bagaimana Saya memperlakukanmu ?"
Yahya bin Ziad Al-Haritsi memilki seorang pelayan yang sangat buruk akhlaknya. Tetangganya heran lalu menanyakan kepadanya, "Mengapa engkau pertahankan pelayan itu,"
"Supaya saya bisa mengajarinya sifat asih," Jawabnya.
Firman Alloh SWT :
واصبغ عليكم نعمه ظاهراوباطنا

"dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya yang lahir maupun yang bathin".
Dalam ayat ini terkandung pengertian bahwa nikmat lahir adalah kelurusan akhlak, sedangkan nikmat bathin adalah kejernihan budi pekerti. Al Fudhail bin Iyadh mengatakan, "berkawan dengan orang durhaka yang berakhlak baik lebih saya sukai daripada berkawan dengan orang ahli ibadah yang berakhlak buruk". Dikatakan bahwa akhlak yang baik adalah kemampuan memikul sesuatu yang dibenci dengan menggantinya dengan kebaikan yang ia tebarkan.
Diriwayatkan bahwa Ibrahim bin Adham keluar melewati segerombolan tentara. Seseorang dari mereka menemuinya dan berkata, "Dimana tempat hiburan ?" Ibrahim menunjuk ke arah kuburan. Wajah tentara itu memerah. Dia tersinggung dan langsung memukul kepada Ibrahim. Setelah dia pergi, seseorang memberitahukan tentara itu bahwa yang dipukulnya adalah Ibrahim bin Adham seorang ulama sufi yang zuhud yang berasal dari khurasan. Tentara itu terkejut dan ia menyesali perbuatannya dan langsung pergi menyusul Ibrahim.
"Tuan maafkanlah saya, saya menyesal telah memukul tuan"
"Ketika engkau memukul saya." Kata Ibrahim, "Saya memohonkan kepada Alloh surga untukmu".
"Mengapa ?"
"Saya tahu bahwa saya memasukkan perangkap terhadapmu. Saya tidak ingin mendapatkan bagianku yang baik darimu dan bagianmu yang buruk dariku".
Diceritakan bahwa Said bin Ismail Al-Hirri diundang seorang laki-laki untuk jamuan makan. Ketika sampai di depan pintu rumahnya, lelaki itu berkata, "Wahai Ustaz, bukan sekarang waktunya. Saya menyesal tidak bisa mengabarimu terlebih dahulu".
Abu Said pulang, dan sebentar kemudian kembali lagi. Ketika tiba didepan pintu, tuan rumah buru-buru keluar sambil menyapa,"Maaf Ustaz, undangan belum dimulai. Saya menyesal belum sempat mengabari ustaz. Datanglah sejam kemudian".
Abu Said berdiri mohon pamit kemudian pergi. Pada saat yang dijanjjikan tiba, dia berangkat dan ketika sampai di depan pintu, ia memperoleh jawaban yang sama sepeti semula. Dia pulang, datang lagi dan kembali pulang sampai bebeapa kali. Lelaki itu kagum menyaksikan ketabahan Abu Said. Dai menyesali sikapnya.
"Wahai Ustaz, saya hanya ingin mengujimu," Kata lelaki itu seraya menyambutnya dengan rasa hormat.
"Jangan kau memujiku atas dasar perilakuku yang kau teukan seperti anjing. Anjing jika dipanggil dia datang, dan jika dicegah dia pergi." Abu Said kemudian pergi seolah tidak terjadi apa-apa.
Abu Said ketika melewati sebuah gang besar, seseorang menumpahkan abu kotor dari balkon rumahnya. Teman-temannya yang melihatnya marah. Mereka mencaci maki orang yang melempar abu yang kotor tadi.
"Janganlah kalian mengatakan sesuatu. Barang siapa yang patut mendapat siksaan neraka, lalu menerima lemparan abu itu dengan baik, maka baginya tidak boleh marah". Katanya.
Dikatakan bahwa ada seorang fakir yang singgah di rumah Ja'far bin Hanzalah. Ja'far melayaninya dengan baik. Orang fakir itu berkata,"Sebaik lelaki adalah engkau jiak saja engkau bukan orang yahudi".
"Akidahku tidak akan menodai apa yang engkau butuhkan untuk dilayani. Mintalah kesembuhan pada dirimu sendiri, sedang diriku butuh hidayah".
Diceritakan bahwa AbduLlah seorang penjahit, menenerima jahitan dari seorang Majusi. Setelah selesai, orang majusi tersebut membayarnya dengan uang palsu dan AbduLlah menerimanya. Bertepatan dia hendak keluar karena suatu urusan, majusi tadi datang lagi untuk membayar ongkos jahitan yang kesekian kalinya. Murid AbduLlah yang menerimanya mengetahui bahwa yang diterimanya itu adalah uang palsu maka dia menolaknya. Bahka orang majusi itu diserahkan kepada seorang peneliti uang. Beberapa saat kemudian AbduLlah datang dan bertanya kepada muridnya, "Mana baju majusi itu ?"
Murid itu menceritakan kepada sang guru apa yang telah terjadi. Tentang kebohongannya, kepalsuannya, penolakannya, dan tindakannya kepada majusi itu.
"Buruk sekali apa yang telah engkau lakukan !. sudah berapa kali dia memperlakukan saya seperti itu, dan saya sabar menerimanya. Uang palsu itu saya lemparkan ke sumur agar tidak menumbulkan bahaya kepada orang lain." Tegur AbduLlah.
Akhlak yang buruk menyempitkan hati pemiliknya karena tidak memperluaskan tempat selain yang dikehendaknya sebagaimana tempat yang sempit yang tidak tidak memberi keleluasaan selain pemiliknya. Akhlak yang baik tidak akan menjadikan engkau berubah sebab karena seseorang yang berdiri di shaf di sampingmu. Sedangkan keburukan akhlak terdapat pada kejatuhan pandanganmu pada keburukan akhalak terhadap selainmu. RasuluLloh SAWW pernah ditanya tentang kesialan lalu dijawab," Keburukan akhlak".
Abu Hurairah RA menceritakan, "Seorang sahabat bertanya"
"Ya RasuluLloh, mohonkanlah kepada Alloh agar kita dapat menghancurkan orang-orang musyrik." Beliau menjawab, "Saya diutus untuk menebarkan kasih sayang, bukan siksaan".